Meneropong 3 Orientasi Pendidikan Masa Depan

TANTANGAN pendidikan masa kini semakin tidak ringan. Dibutuhkan tidak saja modal semangat, melainkan juga inovasi dan kemampuan mengaktualiasi nilai nilai pendidikan Islam sebagai jawaban dalam menghadapi problem kependidikan masa depan.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr H Nashirul Haq, MA, saat membuka secara resmi helatan Daurah Marhalah Ula (DMU) Nasional SMA, mengungkapkan 3 hal orientasi pendidikan yang menjadi tantangan kedepan.

Nashirul menyebutkan ketiga tantangan tersebut, yaitu Karakter, Narasi, dan Kompetensi.

Seraya itu, ia berpesan kepada penyelenggara pendidikan hendaknya senantiasa menguatkan perannya untuk mantapnya kualitas penyelenggaraan pendidikan.

“Jadi kalau sekedar kecerdasan saja, robot pun sudah lebih cerdas dari kita. Maka yang paling menentukan adalah karakter,” katanya.

Hal itu disampaikan beliau dalam sambutannya membuka secara resmi helatan Daurah Marhalah Ula (DMU) Nasional SMA digelar secara hibryd yang berepisentrum di Aula Sekolah Pemimpin, Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Selasa, 12 Sya’ban 1443 (15/3/2022).

Nashirul menegaskan, karakter sangat penting. Apalagi, terang dia, sekarang ini sudah ada kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang semua bisa dikendalikan dengan robot atau teknologi.

Ia menekankan bahwa tanpa karakter luhur, kecerdasan yang dimiliki seperti tak bernilai. Namun, karakter pun harus ditopang dengan narasi atau ilmu.

“Barulah setelah karakter adalah narasi. Narasi ini ilmu. Ilmu yang selalu dikembangkan. Dan, narasi yang dikembangkan oleh Hidayatullah adalah merupakan derivasi dari wahyu, karenananya pendidikan Hidayatullah diistilahkan dengan Pendidikan Integral Berbasis Tauhid,” terangnya.

Nashirul menjelaskan, semua ilmu harus dijiwai dengan nilai nilai Quran karena Al Quran adalah sumber ilmu dan sumber inspirasi.

Maka, lanjutnya, peserta didik bertanggung jawab mengembangkan ilmu pengetahuan dan sains kedepan berdasarkan nilai nilai Tauhid yang oleh sarjana muslim diistilahkan sebagai islamisation of human knowledge (IOHK).

“Harus melakukan islamisasi ilmu, karena ilmu sekarang ini banyak yang disalahgunakan dan kehilangan orientasi. Orientasinya dunia dan materi semata, yang tidak lagi memuat nilai kemaslahatan dan kemanusiaan. Maka narasi narasi yang harus kita bangun adalah narasi ilmu yang berlandaskan kepada Wahyu,” ungkapnya.

Nashirul lantas menguraikan orientasi pendidikan masa depan lainnya, yaitu kompetensi. Aspek ini, kata dia, sangat penting. Karenanya, peserta didik kedepan harus memiliki keterampilan.

“Ilmu saat ini sudah mudah didapatkan, namun kompetensi harus terus dilatih dan kembangkan yang karena itu membutuhkan latihan dan proses yang panjang,” jelasnya.

Ia seraya menyebutkan orientasi kompetensi ini sepenarikan nafas dengan konsepsi Al Quran yang ingin mengantarkan setiap orang beriman memiliki 2 hal sekaligus sebagaimana dalam Al Quran surah Sad ayat 45: ulil aidi wal abshar.

Dia menjelaskan, ulil aidi adalah orang orang yang memiliki keterampilan atau skil apa saja. Berkenaan dengan penyiapan kompetensi ini, Nashirul bercerita pernah mengunjungi sekolah favorit di Massachusetts, sebuah negara bagian Amerika Serikat.

Nashirul mengisahkan, sekolah yang dikunjunginya tersebut menerapkan model berasrama layaknya pondok pesantren di Indonesia. Mereka yang bersekolah di situ bukan orang biasa, umumnya anak anak orang beken seperti anak pangeran negara negara Arab dan senator.

“Ternyata, modelnya itu kayak pesantren. Ada workhsopnya. Ada tempat untuk bikin berbagai keterampilan. Saya (langsung) bayangkan Gunung Tembak, kayak begini aja, (tapi) kok jadi pilihan. Kegiatan mereka tidak melulu di kelas, kenapa, karena mereka disiapkan menjadi leaders,” ujarnya.

Nashirul mengatakan, para santri pun mesti berbangga karena sekolah di pesantren dan dididik di tempat kondusif yang memungkinkan mengembangkan berbagai kompetensi yang mereka miliki.

“Harus terampil. Harus memiliki karakter. Ini harus menjadi perhatian. Karena kecerdasan intelektual hanyalah salah satu aspek yang dibutuhkan oleh seorang pemimpin. Nah, inilah yang menjadi kesadaran kita,” katanya berpesan.

Tidak cukup hanya terampil. Santri juga hendaknya memilliki karakter ulil abshar, yaitu bervisi hidup dan memiliki pandangan jauh kedepan serta memiliki pikiran besar dan tekun beribadah.

Mufassirin menjelaskan ulil abshar itu adalah orang yang berpikiran maju dan tekun beribadah. Inilah yang kita ingin lahirkan di Hidayatullah,” katanya.

Karenanya, terangnya, di dalam lingkungan pendidikan Hidayatullah aspek ibadah menjadi hal yang sangat penting yang juga senafas dengan tujuan pendidikan nasional untuk melahirkan peserta didik yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, kreatif, cakap, mandiri, dan demokratis.

“Jadi mestinya, sistem pendidikan nasional kita penilaiannya adalah penilaian karakter yang pertama yaitu beriman, takwa, dan akhlak. Kalau sudah gagal di akhlak, ibadahnya tidak karu-karuan, ya tidak perlu dinilai yang lain. Bagaimana kira kira, setuju nggak,” katanya tersenyum sambil bertanya.

Nashirul berpesan, tiga orientasi ini: Karakter, Narasi, dan Kompetensi, hendaknya menjadi perhatian bagi semua penyelenggara pendidikan.

“Hidayatullah hadir sebagai swaka generasi dengan pondok pesantren dan lembaga pendidikannya untuk menyelamatkan generasi karena kehidupan yang dihadapi saat ini sungguh berat tantangannya,” imbuhnya.

Dalam pembukaan DMU SMA ini, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Nashirul Haq juga turut didampingi jajaran lainnya yaitu Kabid Tarbiyah Abu A’la Abdullah, Ketua Departemen Kepesantrenan Muhammad Syakir Syafii, dan tampak pula Ketua DPD Hidayatullah Depok Hafidz Bahar beserta pengurus Yayasan Hidayatullah Depok, Kepala SMA Hidayatullah Depok dan dewan guru lainnya.

DMU SMA yang mengangkat tema “Menjadi Kader Mujahid Muda Hidayatullah yang Cerdas dan Militan” digelar secara serentak di 34 Provinsi yang akan berlangsung selama 3 hari di semua kampus kampus Hidayatullah se-Indonesia. Kegiatan ini juga melibatkan Dewan Murabbi, Pemuda Hidayatullah, dan Muslimat Hidayatullah.*/Ainuddin