Intinya Pengendalian Diri

Gambar ilustrasi oleh Gerd Altmann/ Pixabay

ALHAMDULILLAH, Allah masih memberikan kesempatan dan kesehatan kepada kita semua untuk bertemu dan menikmati Ramadhan. Perlu ada review untuk menajamkan makna ibadah puasa yang kita jalani.

Puasa berasal dari bahasa Arab “shoum” atau “shaum”. Arti dari kata tersebut adalah menahan diri dari sesuatu. Ada juga yang mengatakan “shiyam”, kata ini juga memiliki arti yang sama.

Menahan diri di sini dapat berupa banyak hal, bukan hanya makan, minum dan berhubungan suami istri di siang hari. Dalam konteks puasa, menahan diri berarti tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.

Pengertian puasa menurut istilah adalah menahan diri untuk tidak makan dan minum, serta beberapa hal yang membatalkannya. Menahan diri ini dimulai dari terbit fajar sampai tenggelamnya matahari. Puasa harus dikerjakan dengan mengucap niat terlebih dahulu, dan memenuhi ketentuan yang berlaku.

Menahan diri itu identik dengan pengendalian diri. Subyek dan obyek dari pengendalian diri adalah masing-masing individu orang beriman. Subyek artinya yang memiliki peran dalam pengendalian diri, apapun situasi dan dimanapun berada maka berusaha untuk mengendalikan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa.

Adapun obyeknya juga diri sendiri, ketika diri orang beriman sudah dewasa. Jika masih kecil maka harus dikendalikan atau dikondisikan untuk mentarbiyah mereka gar suatu saat nanti bisa mengendalikan dirinya.

Sekarang pengendalian yang harus dilakukan oleh orang-orang beriman, untuk tingkatan awwam atau pemula hanya makan, minum dan berhubungan suami-istri. Adapun tingkatan orang beriman yang sesungguhnya adalah pengendalikan dari segala bentuk nafsu, perbuatan sia-sia yang bisa mengurangi nilai dari puasa ramadhan.

Salah satu contohnya saat memiliki target membaca al Qur’an 3 juz se-hari. Secara hitungan matematika waktu itu mudah dicapai dengan hitungan satu juz 30 menit, maka hanya perlu waktu satu setengah jam setiap hari.

Tapi dalam perjalanannya, seringkali ada gangguan seperti ngantuk, ada teman mengajak ngobrol, capek, ada telpon masuk, anak minta maaf, ada undangan rapat mendadak dll. Saat seperti itulah pengendalian itu diperlukan. Ada manajemen, perencanaan, dan konsitensi dari semua niat hingga tercapai, itu semua memerlukan pengendalian.

Ramadhan dengan dibuka lebar-lebar pintu surga, ditutup rapat-rapat pintu neraka dan diikat kuat-kuat setan. Maka pekerjaan yang masih berat adalah pengendalian nafsu selama bulan Ramadhan. Meski relatif lebih mudah dan ringan, tapi jika tidak dibiasakan maka pengendaliaan nafsu itu berat.

Semoga selama Ramadhan ini, ada kekuatan bagi kita semua untuk mengendalikan diri mencapai puasa yang hakiki. Pengendaliaan untuk mencapai sebuah niat suci.

Abdul Ghofar Hadi