Ramadhan sebagai Bulan Literasi untuk Merevolusi Diri

Foto ilustrasi oleh Lubos Houska/ Pixabay

BULAN Ramadhan, telah tiba. Di dalamnya mengandung keutamaan yang tak terbatas. Salah satu dari keutamaannya adalah disebut sebagai syahr al-Qur’an. Hal ini disebabkan arena al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan. Sebagaimana firman Allah SWT:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)” (QS. Al Baqarah: 185).

Prof. Dr. Wahbah Zuhaili dalam Tafsir Al-Wajiz menjelaskan bulan puasa diistimewakan dengan turunnya Al-Qur’an di dalamnya pada malam lailatul qadar, atau dengan turunnya Al-Qur’an dalam satu jumlah dari lauhil mahfudz ke langit dunia sebagai petunjuk bagi manusia dari kesesatan dan ayat-ayat muhkamat yang memberi penjelasan berupa hidayah Tuhan yang kuat, jelas dan terang bagi akal sehat, yaitu pemisah antara yang haq dan bathil.

Sedangkan ayat pertama yang turun, sebagaimana diuraikan dalam hadits yang panjang dibawah ini adalah surat Al-Alaq ayat 1-5.

“Awal turunnya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dimulai dengan ar ru’ya ash shadiqah (mimpi yang benar dalam tidur). Dan tidaklah Beliau bermimpi kecuali datang seperti cahaya subuh. Kemudian Beliau dianugerahi rasa ingin untuk menyendiri. Nabi pun memilih gua Hira dan ber-tahannuts. Yaitu ibadah di malam hari dalam beberapa waktu. Kemudian beliau kembali kepada keluarganya untuk mempersiapkan bekal untuk ber-tahannuts kembali. Kemudian Beliau menemui Khadijah mempersiapkan bekal. Sampai akhirnya datang Al Haq saat Beliau di gua Hira. Malaikat Jibril datang dan berkata: “Bacalah!” Beliau menjawab: “Aku tidak bisa baca”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan: Maka Malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata lagi: “Bacalah!” Beliau menjawab: “Aku tidak bisa baca”. Maka Malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata lagi: “Bacalah!”. Beliau menjawab: “Aku tidak bisa baca”. Malaikat itu memegangku kembali dan memelukku untuk ketiga kalinya dengan sangat kuat lalu melepaskanku, dan berkata lagi: (Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah)” (HR. Bukhari no. 6982, Muslim no. 160).

Korelasi dari QS Al-Baqarah: 185 dengan hadits di atas cukup terang benderang. Bahwa surat Al-Alaq ayat 1-5 adalah surat yang pertama diturunkan di bulan Ramadhan. Disamping itu, juga menegaskan bahwa ayat pertama yang diturunkan tersebut berkenaan dengan perintah membaca dengan dimensi yang sangat luas. Sebab, kata Iqra’, dalam kamus memiliki beragam macam makna; menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, dan beberapa makna lainnya.

Syaikhul Azhar Dr. Abdul Halim Mahmud, mengatakan, “dengan kalimat iqra’ bismi Rabbika dalam kalimat dan semangatnya seakan mengatakan, bacalah demi Tuhanmu, bergeraklah demi Tuhanmu, bekerjalah demi Tuhanmu. Begitupun ketika hendak berhenti dari aktivitas. Sehingga, segala seluruh kehidupan, sujud, cara dan tujuan seseorang dilakukan karena Allah.”

Dalam Li Yaddabbaru Ayatih/Markaz Tadabbur, Prof. Dr. Umar bin Abdullah bin Muqbil, Profesor Syariah di Universitas Qashim menjelaskan bahwa, pada firman Allah : { اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ } adalah isyarat yang mengajarkan bahwa kunci utama dari kemajuan dan perkembangan suatu peradaban (dalam pandangan Islam) adalah dengan ilmu pengatahuan, bukan pada kemajuan kekayaan dan kekuatan pertahanan.

Lebih jauh beliau menjelaskan bahwa. { اقْرَأْ } “Bacalah” Adalah kata pertama yang di wahyukan kepada Rasulullah Muhammad, perhatikan isyarat yang terkandung didalamnya, dan susunan hurufnya : قراءة : membaca , : رقي : meninggi , رقية : mengobati, dari tiga kata ini masing-masing memilki sejumlah huruf yang sama, dan maknanya pun saling berkaitan satu sama lainnya, maka قراءة mengandung makna: pintu ilmu ( membaca ), dan itu merupakan sesuatu yang dapat meninggikan derajat seseorang.

Dengan demikian maka, sudah seharusnya umat Islam faham bahwa, sejak awal turunnya Al-Qur’an didesain dan diproyeksikan untuk menguasai ilmu pengetahuan dan itu artinya unggul dalam literasi.

Kesadaran ini penting, selanjutnya diajarkan dan ditransformasikan kepada khalayak, hingga menjadi syaksiyah islamiyah. Parameternya jelas. Dapat dilihat sebagaimana dipraktekkan sejak jaman Rasulullah SAW, para sahabat, tabi’in, tabiut tabi’n, hingga abad pertengahan, dimana Islam menjadi pusat ilmu pengetahuan dan turunannya di berbagai bidang kehidupan saat itu.

Demikian halnya kita juga harus belajar, mengapa peradaban Islam bisa jatuh. Sejarah telah mencatat itu semua dengan lengkap, dari berbagai perspektif. Bahkan, ketika Barat karena keterbelakangannya menyebut dirinya sebagai periode dark age, pada saat yang sama Islam berada pada golden age. Akan tetapi kita tidak bisa hanya bernostalgia atas kejayaan masa lalu. Kita mesti melihat realitas kekinian dan apa yang terjadi dimasa depan.

Jika kemudian saat ini, terjadi ketertinggalan yang jauh antara dunia Islam dengan Barat, maka kita tidak perlu menyalahkan keadaan. Kita mesti introspeksi, lalu bangkit. Banyak sarjana dan cendekiawan Islam yang telah melakukan upaya itu semua, dengan berbagai gagasan besar, disertai dengan model dan tahapan yang bisa dirujuk. Pun berbagai kelompok yang juga melakukan upaya-upaya itu. Tidak usah saling merasa benar, harus sinergi dan saling melengkapi.

Siapapun kita, dan dalam kapasitas apapun juga, hendaknya kita harus memulai dari diri kita dan orang-orang disekitar untuk melakukan revolusi diri, saat ini juga. Melakukan perbaikan terus menerus. Dan Ramadhan ini adalah momentumnya.

Kita jadikan Ramadhan sebagai bulan literasi, hingga melahirkan aksi yang nyata. Jika ini istiqomah sepanjang masa, dan nawaitu-nya benar, bahwa semuanya sebagai bismirabbik, bukan bismi yang lain, Insya allah pada gilirannya nanti, kita bisa mengubah keadaan, dan membuktikan serta mengembalikan peradaban Islam ini unggul dan menguasai dunia. Bukan hanya cerita, tetapi fakta. Wallahu A’lam.

ASIH SUBAGYO, instruktur pada Hidayatullah Institute