Inilah 3 Ibrah Penting dari Madrasah Ramadhan

Ilustrasi kaligrafi oleh Mila Okta Safitri/ Pixabay

RAMADHAN merupakan sekolah ilahiyah bagi orang beriman. Sebagai sebuah wahana pendidikan ideal, setidaknya memenuhi tiga unsur standarisasi (tsalatsatu maqayis). Standar input, proses, dan output. Input madrasah Ramadhan sumber daya mukmin, prosesnya kegiatan shiyam dan qiyam Ramadhan, outputnya adalah sumber daya muttaqin.

Banyak pelajaran penting yang Allah SWT berikan pada bulan penuh berkah ini. Kurikulumnya ditetapkan agar setiap Muslim melakukan upgrade dan update level/derajat keimanannya.

Karena, ketika keimanan mengalami disfungsi, maka memiliki kelayakan untuk dijajah (qabiliyyah littaghallub). Sebaliknya, ketika keimanan fungsional, identik dengan kejayaan, ketenangan, kesuksesan, amanah, prestasi, dll.

Ramadhan, sarana untuk melatih diri (mujahadah), menempa jiwa, tazkiyatun nafs, rekonstruksi pikiran dan sikap, agar menjadi pribadi berkualitas secara lahir dan batin, hamba yang taat, serta mencapai derajat takwa.

Jiwa kita dididik dan ditempa untuk mengendalikan hawa nafsu. Menahan diri untuk tidak makan dan minum dan menghindari hal-hal yang bisa membatalkan ataupun yang merusak pahala shaum (al Imsak ‘anil mufthirat wal imsak ‘anil muhlikat).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bukanlah orang yang kuat yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat itu adalah orang yang bisa mengendalikan dirinya ketika marah” (al Hadits)

Malam hari, membiasakan qiyamul lail dan tahajjud (qiyam) serta melakukan tadarus Alquran serta istighfar di waktu sahur. Dan siang hari melakukan shoum (puasa lahir) dan shiyam (puasa batin). Itu semua merupakan sebagian kecil mata pelajaran yang Allah sediakan untuk dimaksimalkan pemanfaatannya.

Apabila diperhatikan lebih dalam, setidaknya ada 3 pelajaran (ibrah) penting dalam madrasah Ramadhan yang perlu kita sadap.

Pertama, pelajaran syukur

Tidak semua orang dapat menginjakkan kakinya pada Ramadhan untuk menikmati bulan yang penuh rahmat, hidayah, dan ampunan-Nya. Berbahagialah yang berkesempatan kembali bertemu dengan Ramadhan.

Maksimalkan Ramadhan sebaik mungkin sebagai bentuk rasa syukur. Sebab, tak ada yang tahu, apakah Ramadhan berikutnya bisa berjumpa kembali atau tidak. Sahabat kita yang membersamai puasa tahun yang silam, sekarang tidak bersama kita lagi. Sudah dipanggil oleh Allah Swt.

Kedua, pelajaran ikhlas dan sabar

Keikhlasan menjadi modal melaksanakan berbagai aktivitas ibadah pada Ramadhan. Semua dilakukan semata-mata mengharap keridhaan-Nya tanpa campuran kepentingan yang lain.

Dengan ikhlas, hati menjadi riang dan ringan menjalankan setiap peribadahan. Sehingga bisa memaknai dan menikmati segala aktifitasnya.

Sementara untuk membentengi keikhlasan itu diperlukan keteguhan hati, ketegaran jiwa, yakni kesabaran. Bayangkan, bagaimana seorang Muslim harus berjibaku dengan nafsunya tatkala ia sedang menjalani shaum.

Bersabar menahan lapar dan dahaga, berhemat dalam ucapan sia-sia bahkan dosa, tunduk dari pandangan yang tak membawa berkah, lumpuh dari melakukan hal-hal yang tak disenangi Allah, bahkan sampai pada tataran berprasangka hanya yang baik-baik.

Rasulullah SAW bersabda, “Bukanlah shaum itu sekadar tidak makan dan tidak minum, melainkan shaum itu adalah mengendalikan diri dari ucapan kotor dan perbuatan yang tidak ada manfaatnya. Apabila seseorang memarahi engkau tanpa sebab yang engkau ketahui, katakanlah kepadanya, ‘Saya sedang shaum.'” (HR. Hakim).

Ketiga, pelajaran muraqabatullah was shidq

Ramadhan menjadi madrasah untuk menumbuhkan kedua sifat tersebut. Bayangkan, yang mengetahui seseorang sedang shaum ialah hanya Allah dan dirinya sendiri.

Walaupun seseorang berada dalam kesempatan untuk mencicipi makanan, ketika sadar bahwa ia sedang shaum maka akan begitu segan memakannya. Mengapa? Karena dilihat orang ataupun tidak, ia akan tunduk karena Allah semata.

Ia selalu merasa diawasi oleh Allah dimanapun dan kapan pun. Pola pendidikan inilah yang mengajarkan kejujuran dalam segala hal. Ia tidak bisa bersembunyi dan tidak ada yang dirahasiakan di mata Allah Swt.

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda :

أربعٌ إذا كنّ فيك فلا عليك ما فاتك من الدنيا، حِفظ أمانة وصِدق حديث وحُسن خليقةٍ وعِفَّة طعْمَة

Empat perkara bila ada pada dirimu maka dunia yang fana tidak akan pernah menyusahkanmu: 1. Menjaga amanah. 2. Jujur dalam ucapan. 3. Akhlaq yang baik, dan 4. Menjaga makanan (HR. Ahmad, dishahihkan Albani : Silsilah ash-Shahihah, 733)..

Madrasah Ramadhan menggembleng kita agar trampil mengelola waktu dengan sebaik-baiknya. Bagaimana bisa produktif di tengah keterbatasan sumber daya waktu. Sudah seharusnya diisi dengan melakukan amal kebajikan. Buanglah segala moda /kotoran yang melekat di dalam diri, jiwa, bahkan harta.

Lulusan Madrasah Ramadhan

Apabila seluruh mata pelajaran Ramadhan diikuti dengan tanpa absen dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, wisuda sebagai manusia takwa menjadi anugerah yang tidak ternilai harganya (QS al-Baqarah [2] :183).

Taqwa berasal dari kata dasar: waqa, yaqii, wiqoyah – ittaqa. Yakni, mencari perlindungan yang bisa melindunginya dari neraka di akhirat dan mencari perlindungan yang bisa melindunginya dari hal-hal yang membuat murka Allah Swt di dunia ini. Diantaranya menjaga pisik dari penyakit yang menggerogotinya. Dengan menerapkan pola hidup sehat seperti umat Islam pertama di Madinah.

Pada suatu hari, Rasulullah SAW kedatangan tamu seorang tabib bangsa Yahudi yang datang dari Palestina. Ia minta izin untuk buka praktik di kota Madinah. Rasulullah pun mengizinkan. Tabib Yahudi itupun mulai buka praktik.

Tapi, satu bulan kemudian ia kembali datang menemui Rasulullah, kali ini untuk permisi pulang ke negerinya. Rasulullah pun tak dapat menyembunyikan keheranannya.

“Kenapa Anda begitu cepat meninggalkan kota ini, apa ada yang kurang menyenangkan di sini?’’ tanya Beliau.

“Tidak, Tuan. Semuanya baik-baik saja. Bahkan penduduk kota ini sungguh sangat menyenangkan,” kilah sang tabib.

“Lalu, apa yang menjadi masalahnya?” desak Rasulullah.

Sang tabib berterus terang, bahwa ia ingin cepat pulang ke negerinya karena selama satu bulan buka praktik di Madinah tak satupun warga kota yang datang untuk berobat padanya. Padahal, di negerinya ia termasuk tabib pakar yang terkenal dan banyak pasiennya.

Kemudian ia melanjutkan ceritanya.

“Karena penasaran, saya pun berkeliling kota masuk kampung keluar kampung untuk mencari pasien yang sakit. Tapi, tak satupun saya jumpai orang sakit untuk saya obati. Saya merasa heran, seluruh warga kota dalam keadaan sehat wal’afiat. Belum pernah saya dapatkan kota dengan seluruh penduduknya yang sehat seperti di kota Madinah ini,” ujarnya si tabib itu panjang lebar.

“Lalu, saya bertanya kepada penduduk yang saya jumpai, apa rahasianya sehingga mereka hidup nyaris sehat sempurna?” lanjut sang tabib.

“Lantas, apa jawaban mereka?” Tanya Rasulullah.

“Mereka menjawab: “Kami adalah kaum yang tidak (akan) makan sebelum datang lapar. Dan apabila kami makan, tidak (sampai) kekenyangan.” “Begitulah jawab mereka, Tuan,” jelas sang tabib Yahudi itu kepada Rasulullah.

Mendengar cerita tabib tersebut, Rasulullah berkomentar, “Sungguh benar apa yang mereka katakan kepada tuan,“ ujar Rasulullah seraya berkata, “Lambung manusia itu tempatnya segala penyakit, sedangkan pencegahan itu pokok dari segala pengobatan.” (H.R. ad- Dailami).

Dalam sabdanya yang lain :

ماملا ادمي وعاء شرّا من بطن بحسب ابن ادم اكلات يقمن صلبه فان كان لا محالة فثلث لطعامه وثلث لشرابه وثلث لنفسه

Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk yaitu perut. Cukuplah bagi anak Adam mengkonsumsi beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Namun jika ia harus (melebihinya), hendaknya 1/3 perutnya (diisi) untuk makanan, 1/3 untuk minuman, 1/3 lagi untuk bernafas (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dll.)

Berangkat dari cerita tabib Yahudi di atas dapat kita simpulkan, bahwa kaum Muslimin pada masa awal berkembangnya agama Islam adalah satu kaum (umat) yang amat disiplin dalam mempraktekkan pola hidup sederhana.

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud ra. bahwa:

نحن قوم لا ناكل حتى نجوع واذا اكلنا لا نشبع

“Kami adalah kaum yang tidak (akan) makan kecuali lapar, dan apabila makan tidak akan (sampai) kekenyangan.”

Menggambarkan sikap hidup mereka yang sangat berhati-hati dalam soal pengendalian perut.

Meskipun mereka hidup berkecukupan, mereka tidak menjadi rakus dan selalu menjalani pola hidup sederhana seperti yang diajarkan dan dicontohkan Rasulullah SAW.

Hal tersebut membuat mereka mampu mengendalikan perut dengan menghindari sifat rakus atau ingin menikmati segalanya. Mereka yakin bahwa tanpa tanpa kendali, perut atau lambung dapat menjadi tempatnya segala penyakit baik yang bersifat fisik maupun non fisik.

Yang bersifat fisik adalah segala bentuk penyakit yang dapat dideteksi secara medis seperti diare, disentri, kolera, maag, dan penyakit perut lainnya.

Sedangkan yang bersifat non fisik adalah segala bentuk penyakit kejiwaan yang tidak dapat dideteksi secara medis, seperti tamak, rakus, serakah, konsumtif, materialistis, dsb, di mana penyakit tersebut hanya bisa diobati dengan cara mengingat Allah (zikir) dan lebih mendekatkan diri kepadaNya (taqarrub).

Allah SWT berfirman, “Makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (Q.S. Al- A’raf:31)

Jumhur Ulama mengatakan: Taqwa adalah melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya untuk menggapai ridha Allah Swt.

Ibnu Masud berkata: Bertakwa adalah Dia ditauhidkan dan tidak disekutukan, nama-Nya selalu diingat dan tidak dilupakan, nikmat-Nya disyukuri dan tidak diingkari.

Ust. Sholih Hasyim | Kudus, Jawa Tengah