Momentum Syawal dan Maaf Memaafkan

MUDIK yang dua tahun terakhir ini dilarang karena covid-19, tahun ini seperti meledak sehingga jalan-jalan macet dari H-8 hingga H+8. Berbagai transportasi umum habis dipesan, baik darat, laut maupun udara. Jutaan kendaraan merayap keluar Jakarta saat akhir Ramadhan dan merayap di arus baliknya.

Salah satu motivasi mudik adalah maaf. Mereka ingin meminta maaf kepada orang tuanya, saudaranya, tetangga, dan teman-teman di kampungnya. Mereka tidak peduli dengan jalan macet, tiket mahal, berdesak-desakan dan lain sebagainya yang sekilas mudik itu susah dan berat. Spirit maaf yang menguatkan dan mendorongnya untuk mudik.

Sebuah kata yang trending topic untuk di bulan Syawal ini. Semua umat Islam seolah ingin berlomba mendahului dan memperbanyak maaf kepada orang lain. Bagi yang mudik merasa tidak sah maaf jika tidak mencium tangan orang tuanya, memeluk hangat saudaranya. Mereka merasa tidak cukup hanya sekedar telepon, mengirim pesan di media sosial atapun video call.

Maaf menjadi penyempurna ibadah di bulan Ramadhan. Allah menjanjikan ampunan terhadap dosa-dosa yang telah lalu kepada orang beriman yang berpuasa dan berdiri di malam hari Ramadhan karena iman. Itu dosa yang terkait dengan Allah dengan istighfar dan taubat.

Adapun dosa kepada manusia atau orang lain, harus dengan meminta maaf langsung atau mengembalikan hak orang lain. Maaf yang tulus dan ikhlas, bukan formalitas, apa adanya dan ikut-ikutan.

Maaf itu mencairkan suasana, mendinginkan jiwa dan melembutkan hati. Sehingga para Wali Songo menyebut Syawal dengan lebaran. Asal katanya lebar yang berarti lapang, setelah Ramadhan harus ada kelapangan hati, kebesaran jiwa kepada orang lain untuk maaf dan memaafkan.

Maaf yang paling penting adalah kepada orang-orang terdekat. Keluarga inti, orang tua, suami istri dan anak. Lapis kedua, saudara dan tetangga dekat, lapis ketiga rekan kerja, atasan, bawahan yang hari-hari berinteraksi dan berhubungan. Karena mereka yang paling sering berinteraksi hampir setiap saat dan setiap hari.

Semakin sering interaksi maka semakin besar kemungkinan pernah berbuat salah, salah ucap, menyinggung, mengecewakan, dan lain sebagainya. Itu semua bisa terhapus dengan maaf.

Maaf untuk menghilangkan gengsi, harga diri yang terlalu tinggi, jaim. Syawal ini harus ada kelapangan hati dan jiwa untuk maaf memaafkan. Allah memberikan indikasi orang yang bertaqwa dengan salah satunya memaafkan manusia atau orang lain. Sebagaimana dalam al Qur’an surat ali Imron ayat 133-134:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Dalam surat al A’raf ayat 199 juga ada perintah yang sangat jelas untuk kita semua menjadi orang yang pemaaf.

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.

Menjadi pemaaf dan meminta maaf memang tidak dibatasi hanya di bulan Syawal. Tapi bulan Syawal ini adalah momentum untuk menjadi pemaaf dan meminta maaf, jika bulan Syawal enggan, maka menunggu bulan apa lagi untuk maaf dan memaafkan.

Ust Abdul Ghofar Hadi