Dunia Panggung Sandiwara dan Allah Selamanya Maha Kuasa

HIDUP ini memang sandiwara dan sutradaranya langsung oleh Allah subhanahu wa Ta’ala. Menjalani kehidupan dunia yang sudah menjadi skenario atau taqdir Allah dengan modal keimanan. Hakekat dari taqdir Allah semuanya baik dan untuk kebaikan manusia itu sendiri, sehingga orang beriman harus tetap menjaga prasangka yang baik kepada Allah, apapun yang terjadi.

Ketika ada hal-hal yang terjadi terasa kurang baik, kurang beruntung, kurang berpihak maka saat itulah kita intropeksi diri, evaluasi diri atau bermuhasabah. Mungkin ada kesalahan dan khilaf yang pernah kita lakukan atau Allah ingin menaikkan derajat kita dengan ujian tersebut.

Di hadapan Allah kita tidak bisa bersandiwara karena Allah Maha mengetahui terhadap segala yang kita lakukan secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi bahkan apa yang terbersit dalam hati. Allah Maha Mendengar semua pembicaraan yang kita ucapkan secara terang maupun bisik-bisik.

Sandiwara biasanya di hadapan manusia. Baik sandiwara by desaign dengan sutradara profesional untuk siaran film, sinetron dan lain sebagainya. Ini sifatnya kolosal dengan ditunjang oleh teknologi dan naskah yang dirancang menarik.

Ada juga sandiwara personal yang dilakukan sendiri dengan motivasi yang bermacam-macam dan berbeda-beda. Bersandiwara untuk bisa menarik simpati orang lain, menutupi kegalauannya, menampakkan kedewasaannya, menjebak atau menipu orang lain, menjaga harga diri dan status sosialnya. Sandiwara pribadi terkadang profesional, terkadang amatiran tergantung pengalaman dan kemahirannya masing-masing.

Kehidupan ini terkadang banyak sandiwara. Tapi catatan penting bagi orang beriman bahwa sandiwara yang dilakukan oleh manusia akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Sehingga harus berhati-hati dalam bersandiwara, apalagi di hadapan Allah karena bisa terjerat dalam sifat munafik.

Bersandiwara di hadapan manusia bisa dianggap penjilat dan pembohong. Bersandiwara di hadapan istri dan anak-anak bisa menjadi bom waktu yang bisa mecerai berai akad pernikahan karena dianggap berkhianat.

Hidup memang bersandiwara, bagi orang beriman bersandiwara dengan skenario yang telah dirancang oleh Allah. Berusaha tetap on the track sesuai dengan tuntutan dan tatanan yang Allah gariskan melalui rambu-rambu dalam syariat Islam.

Terkadang seseorang akan memperlihatkan bahwa ia sangat bahagia untuk menutupi kesedihannya. Terkadang seseorang memperlihatkan tawanya untuk menutupi tangisnya. Terkadang harus menyampaikan narasi yang baik untuk menghindarkan tangis yang terjadi. Maka dari itu, seseorang perlu bersandiwara di depan orang lain agar terlihat baik-baik saja. Terkadang seseorang terlalu naif untuk menolak taqdir peran yang sudah ditentukan dan tidak menerima keadaan.

Rasa gengsi? Rasa gengsi juga salah satu yang mendorong seseorang harus bersandiwara. Gengsi untuk menunjukkan bakti ke orang tua, cinta dengan istri, sayang dengan anak-anak, gengsi untuk menunjukkan hormat pada orang lain dan banyak lagi.

Rasa gengsi dan sandiwara membuat orang sulit untuk selalu bersyukur terhadap nikmat dari Allah. Sehingga hindari bersandiwara, terutama di hadapan Allah dan manusia.

Allah berfirman dalam surat al Hadid ayat 4:

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“ …..Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”.

Ust Abdul Ghofar Hadi