Recode DNA Pemenang sebagai Umat Terbaik

JAUH jauh hari sebelum Real Madrid (RM) memenangkan pertandingan melawan Liverpool dengan sekor 1-0 di final Liga Champion, Ahad malam, maka sudah banyak yang memprediksi bahwa klub sepak bola dari kota Madrid Spanyol itu akan menjadi juara.

Bukan tanpa alasan. Sebab secara statistik, memang menunjukkan bahwa RM, sebelum ditambah 1 semalam, sudah 13 kali juara Liga Champion sedangkan Liverpool baru 6 kali juara.

Disisi lain, berdasarkan trackrecord-nya, meski berseok-seok di fase sebelumnya, RM selalu bisa memenangkan pertandingan di final. Dan dari sini kemudian dinibatkan istilah bahwa Real Madrid itu memiliki DNA juara.

Sebuah diksi yang cukup mewakili keberadaan RM. Lalu apa sebenarnya DNA itu. Secara singkat dapat dijelaskan bahwa DNA adalah kependekan dari deoxyribonucleic acid (asam deoksiribonukleat) yaitu informasi genetik untuk pewarisan sifat dari induk ke anaknya.

DNA merupakan rantai molekul yang berisi materi genetik yang khas pada setiap orang. Tidak hanya pada manusia, tapi pada semua makhluk hidup memiliki DNA. DNA bisa bermanfaat untuk menunjukkan perbedaan satu organisme dengan organisme lainnya.

Lalu mengapa dikaitkan dengan juara? Ini semacam metafora, bahwa ada sifat genetik yang melekat dalam Real Madrid, sebagaimana pengertian DNA di atas. Hal yang sama sebenarnya juga terjadi baik secara individu maupun organisasi. Dimana secara natural DNA itu diturunkan. Akan tetapi bukan berarti jika tidak memiliki DNA Juara tidak bisa melakukan itu.

Menurut Prof. Rhenald Kasali dalam bukunya Re-Code Your Change DNA, yang terbit tahun 2007, sebanarnya DNA itu memang bisa diubah, dengan melakukan pengkodean ulang (re-code). Sebab informasi genetik dimaksud merupakan kode-kode yang spesifik dan bisa diubah.

Rhenald dalam melihat “change DNA” mengincar pada perubahan genetik perilaku (behavioral genetics) yang akan mengarah pada dunia pembaharuan yang lebih baik.

Mengubah DNA Pengubah dilakukan melalui prinsip OCEAN, yang merupakan singkatan dari: 1. Openness to experience, yaitu keterbukaan terhadap pengalaman hidup 2. Conscientiousness, berkenaan dengan keterbukaan hati dan telinga 3. Extroversion, terkait dengan keterbukaan terhadap orang lain 4. Agreeableness, berhubungan dengan keterbukaan terhadap kesepakatan 5. Neuroticism, keterbukaan terhadap tekanan-tekanan

Sehingga, organisasi yang hidup tidak akan pernah kehilangan kreatifitas dan inovasi. Sebab akan selalu berupaya menghidupkan ekspektasi-ekspeksasi yang terukur sehingga mampu menggairahkan kehidupan organisasi (Adversity Quotient atau AQ) secara berkelanjutan.

DNA yang sudah ada pada seorang leader perlu dilakukan dan melakukan re-code dengan mentransformasikan kepada seluruh elemen organisasi. Sehingga mampu memotivasi organisasi dan individu-individu dalam organisasi agar lebih menjadi berdaya.

Memperbaiki DNA individu dan organisasi dapat dilakukan dengan memperbaiki “DNA organisasi (Organization DNA), DNA Perubahan (Change DNA), dan DNA Kepemimpinan (Leadership DNA)” dengan cara memasukkan “darah-darah segar baru” dalam top management atau middle management. Bisa juga dengan memasukkan anak-anak muda yang masih segar, dengan harapan agar mereka mampu menjadi katalis untuk memberikan warna dan gairah baru.

Disisi lain juga mesti memperhatikan rekruitmen. Dimana rekruitmennya harus dilakukan melalui seleksi yang sangat ketat (free and fair competition and collaboration), serta diberikan kesempatan melalui career track yang cepat.

Memberikan kepercayaan kepada anak muda, sesuai dengan realitas jaman dan generasinya dalam organisasi merupakan cara yang paling efektif untuk mengubah DNA Organisasi. Kalau mereka teguh terhadap prinsip perubahan yang mereka hidupkan, maka mereka akan tetap konsisten membawa nilai-nilai baru tanpa meninggalkan identitas dan idealisme organisasi.

Sehingga, mereka akan bekerja dengan etos kerja yang berbeda dalam mengimplementasikan visi, misi, tujuan serta program-program organisasi. Dari sini maka DNA pemenang itu akan terbentuk dan terejawantahkan dalam organisasi.

Kecepatan dan ketepatan dalam transformasi menuju DNA pemenang, sebenarnya sangat tergantung bagaimana seluruh elemen dalam organisasi menjalani proses.

Sebagaimana kutipan dari Rhenald bahwa,”Siapa yang bisa memimpin harus berani maju ke depan. Siapa yang mau berubah harus membuka pikirannya. Kalau tidak memimpin, kita harus sama-sama bergerak. Kalau memimpin tidak bisa, dipimpin tak mau ikut, silahkan duduk manis di tepi atau keluar sama sekali”.

Sebagai muslim kita sesungguhnya mewarisi DNA pemenang itu. Hal ini sebagaimana dalam Surat Ali Imran ayat 110: ”Kamu adalah umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.”

Demikian juga dalam surat At-Tin ayat 4, ”Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” Dan masih banyak ayat lagi yang menerangkan tentang ini.

Akan tetapi, keterpurukan umat Islam beberapa dekade ini, bahkan lebih diperparah semenjak keruntuhan Khilafah Utsmaniyah, menyebabkan sebagian besar DNA Umat Islam yang hampir 2 Milyar di seluruh dunia ini, mengalami inferior.

Dari DNA umat terbaik dan unggul, mengalami keterpurukan. Langkah-langkah perbaikan sudah banyak dilakukan oleh para pendahulu kita, akan tetapi recode DNA pemenang menjadi tantangan saat ini. Dan, sesungguhnya itu bisa dilakukan.

Kerangka yang ditawarkan Rhenald di atas, bisa menjadi referensi. Sebab perubahan itu sebuah keniscayaan, dan dilakukan oleh individu maupun kelompok.

“…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri..” (ar-Ra’d: 11). Ini PR besar umat ini, untuk melahirkan DNA Pemenang.

Wallahu a’lam

Asih Subagyo│Senior Researcher Hidayatullah Institute