Syahadat Teguhkan Ketaatan

KETIKA mempersaksikan bahwa Allah adalah Tuhan yang berhak dan satu satunya yang patut disembah, maka bukan hanya menyembah tapi harus tunduk, patuh, pasrah, dan mentaati. Apalah arti persaksian jika tidak diiringi ketaatan atas segala perintah-Nya. Menjauhi hal-hal yang dilarang.

Ketika mempersaksikan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Persaksian itu ada nilainya ketika ada usaha menteladani Sunnah Sunnahnya dan mentaati perintahnya. Persaksian kepada Nabi Muhammad sebagai Rasulullah bukan sekedar melisankan atau mengagumi tapi berusaha mengikuti jejak langkahnya dalam beriman dan berislam.

Kisah sekitar peristiwa hijrah Rasulullah ke Madinah menjadi salah satu contoh ketaatan yang luar biasa dari seorang sahabat kepada perintah Rasulullah. Yaitu Ali bin Abi Thalib yang disuruh tidur di pembaringan Rasulullah, meski dengan risiko yang sangat berat.

Padahal jelas-jelas saat itu malam yang menegangkan dan Rasulullah diancam dibunuh oleh pemuda pilihan dari semua suku. Mereka sepakat dan siap dengan konspirasi mengepung rumah Rasulullah dan membunuhnya.

Ali bin Abi Thalib ringan saja menerima perintah. Tak ada tawar atau ragu. Juga tak bimbang. Padahal itu perintah tidak ringan atau taruhannya mati. Bisa saja mereka langsung menghabisi orang yang berbaring di kamar itu. Entah itu Muhammad atau orang lain.

Dalam konteks Hidayatullah, ketaatan ini diwujudkan dengan kepatuhan kepada pemimpin dan regulasi yang telah disepakati organisasi yaitu maklumat, Peraturan Dasar Organisasi, Peraturan Organisasi. Representasi kepemimpinan adalah regulasi yang telah disepakati melalui musyawarah organisasi kepemimpinan.

Pemimpin jamaah yang bervisi memperjuangkan Islam dan muslimin. Perintahnya juga tidak menyelisihi syariat. Kepemimpinan yang dipilih karena integritas dan kompetensi yang telah dimilikinya.

Seperti perintah untuk tugas daerah, membuka cabang baru Hidayatullah. SK bagi santri Hidayatullah adalah kehormatan dan dirindukan karena itu adalah bukti pengakuan dirinya sebagai kader. Sekaligus ajang pembuktian kekaderan.

Banyak kisah-kisah mutiara yang berserakan di hampir seluruh proses perintisan cabang baru Hidayatullah. Kisah yang heroik, sarat dengan pengalaman spritual, menggugah, inspiratif, dan sepertinya tidak masuk akal tapi itulah yang terjadi.

Salah satunya kisah Ustadz Iman Syahid. Itu nama hijrahnya. Aslinya, Tukiman. Beliau secara akademis hanya tamatan SMP, kemampuan pas-pasan, penampilan pun biasa saja.

Ketika mendapatkan SK untuk merintis Hidayatullah di Kudus, Jawa Tengah, maka hanya kalimat sami’na wa taho’na yang terucap dan diyakini dalam hatinya dengan mempersiapkan beberapa lembar baju untuk melangkah berangkat ke Kudus.

Kudus adalah salah satu kota Wali Songo. Banyak sekali pesantren kecil maupun besar, orang orangnya mahir baca kitab, ceramah dan bahasa Arab santrinya. Tapi itu tidak membuat keder, minder, dan mundur beliau untuk melaksanakan amanah merintis cabang Hidayatullah.

Apa yang dilakukan Iman Syahid yang saat ini ditemani satu santri SMP dari Hidayatullah Surabaya?

Tiba di Kudus, alamat yang dituju tidak ada. Tak ada yang dikenal satupun. Tapi ada masjid yang menjadi alamat berkumpulnya orang-orang baik. Di masjid banyak saudara seiman dan bisa dipastikan kemungkinan besar orang-orang shaleh di dalamnya.

Dia singgah di sebuah masjid dan izin sementara tinggal di masjid beberapa saat. Sambil membersihkan kamar mandi, WC, lingkungan masjid dan tentu dalam masjid dibersihkan dan dirapihkan. Sesekali membantu mengajar ngaji anak-anak di masjid.

Tidak lama mengundang perhatian jamaah terutama pak Haji.

” Eh, kamu ini siapa dan dari mana?” tanya pak Haji.
” Saya Iman Syahid, petugas dari Pesantren Hidayatullah Surabaya”
” Tugas apa ke sini?”
” Tugas mendirikan pesantren pak Haji”.

Tentu pak Haji kaget, kok ada orang model begitu mau mendirikan pesantren.

“Apa modalmu, sudah menguasai kitab apa?” tanya pak Haji
” Belum ada”
” Terus apa modalnya?”
” Taat saja pak Haji, sami’na wa atho’na

Tambah heran lagi pak Haji. Keheranannya bercampur penasaran. ” Kok mendirikan pesantren dengan modal taat”

Akhirnya Pak Haji itu pergi ke Hidayatullah Surabaya menanyakan kebenaran. Apakah betul, mengutus orang yang bernama Iman Syahid dan satu santri untuk mendirikan pesantren Hidayatullah di Kudus.

Setelah bertemu Ustadz Abdurrahman Surabaya, ternyata betul. Dan betul modalnya memang hanya ketaatan. Beliau tambah heran tapi mulai percaya dan yakin.

Akhirnya dibantu kontrak rumah untuk mengawali pesantren. Ini yang aneh lagi, tidak ada cerita pesantren di Kudus itu kontrak. Pasti mereka sudah punya lahan yang lengkap dengan masjid, asrama, dapur dan ruang belajar. Plus kyainya.

Dengan modal silaturahim, taat, sabar, dan semangat akhirnya terbangun pesantren hingga saat ini eksis dan maju pesat. Mendapatkan kepercayaan dari masyarakat Kudus terutama pak Haji. Hingga hari ini Pak Haji masih setia dan terus mensupport pembangunan dan pengembangan Hidayatullah Kudus.

Berkah Ketaatan

Sekali lagi, banyak kisah-kisah serupa yang lebih heroik di Hidayatullah tentang ketaatan para santri awal maupun santri-santri hari ini. Saat ini juga banyak kader-kader muda yang mengawali atau merintis Pesantren Hidayatullah di daerah-daerah terpencil, pelosok, dan minoritas. Alhamdulillah ada transformasi nilai dari para senior yang terwariskan kepada generasi muda sehingga mereka bisa eksis dan ekspansi seperti santri-santri awal.

Ada rasa penasaran dan iri rasanya mendengar kisah-kisah seperti itu. Bukan sekedar kagum atau senang, tapi bagaimana bisa mengikuti perjuangannya, meniru sepak terjangnya. Meski tidak mudah untuk bisa seperti orang-orang yang sudah memiliki syahadat.

Ketaatan itu berat bagi orang yang belum bersyahadat dengan baik. Bagi yang belum paham hakekat persaksian kepada Allah dan Muhammad sebagai utusan Allah. Banyak halangan yang berlapis-lapis dan alasa-alasan logis yang menghalangi seseorang untuk bisa taat.

Sebagaimana pernah diceritakan oleh Allahuyarham Abdullah Said dan diceritakan ulang oleh Allahuyarham Mansur Salbu di podium Masjid Ar Riyadh, Kampus Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan.

Ketika ada santri mau ditugaskan, menyampaikan belum siap karena belum menikah. Akhirnya santri itu didaftarkan untuk ikut pernikahan karena kebetulan sudah umur yang layak untuk menikah.

Ketika sudah menikah dan akan ditugaskan, katanya masih menunggu bulan madu dulu, silaturahim keluarga istri dan lain sebagainya. Akhirnya tertunda lagi penugasannya.

Setelah beberapa saat kurang lebih hampir dua bulan yaitu waktu yang cukup untuk bulan madu dan silaturahim. Ia belum juga siap ditugaskan karena istri sedang hamil muda, ngidam, mula-mual sehingga kasihan dalam perjalanan dan tempat tugas baru. Tunggu kelahiran anak dulu.

Ketika anak sudah lahir beberapa bulan. Ada lagi alasan, kasihan anak masih menyusui, perlu suplemen yang cukup dan kasih sayang dari orang tua terutama ibunya. Tunggu anak agak besar sedikit katanya

Setelah anak sudah besar, masuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), ketika hendak ditugaskan kasihan jika anak pindah-pindah sekolah. Dan terus berlanjut hingga punya cucu tetap ada alasan baru untuk tidak berangkat tugas.

Penugasan jika mengikuti alasan maka tidak akan pernah berangkat tugas. Menugaskan jika mempertimbangkan perasaan maka tidak berat menugaskan santri itu.

Padahal semua alasan di atas, dalam kondisi apapun, seorang kader bisa berangkat tugas. Banyak kader yang ditugaskan saat bujang, baru akad nikah sehingga bulan madu di kapal atau numpang di takmir masjid.

Ada yang tugas saat istri hamil, ada juga yang baru melahirkan bahkan melahirkan di perjalanan tugas. Kader ada yang mengasuh anak di perjalanan, dari anak merangkak hingga bisa berjalan karena naik kapal berhari-hari.

Syahadat itu tidak mengenal alasan dalam menunaikan ketaatan dalam perintah. Entah ringan ataupun berat. Sebagaimana Allah berfirman:

“Infiru khifafan wa tsiqalan! …Berjuanglah kamu, sama ada senang maupun susah atau berat… (Surah At-Taubah, ayat 41)”

Setelah menyadari urgensi syahadat maka harus taat dengan dalam kepemimpinan dan tugas adalah harga yang harus dibayar.
Ringan atau berat, cocok atau tidak cocok, senang atau tidak senang, siap atau tidak siap. Artinya tidak ada pilihan dalam bersyahadat itu selain taat kepada Allah, Rasulullah dan pemimpin.

Seringkali tugas itu lebih berat dari kemampuan yang dimilikinya. Namun disitulah nikmatnya tugas, dengan ketaatan Insyaallah Allah memberikan banyak hikmah, keberkahan dan solusi yang tak terduga.

Dengan berat dan banyaknya tugas, memaksa untuk bisa Taqarub melalui ibadah dan munajat. Karena tidak ada tempat bergantung untuk membantu selain Allah SWT.

Kata salah seorang pendiri Hidayatullah, Ust Hasyim HS, “Ketaatan tugas itu tidak menunggu pintar baca kitab atau bahasa Arab dulu, siap dulu mentalnya, berpengalaman dulu, sarjana dulu. Kalau menunggu itu semua ya tidak tugas-tugas”.

Subhanallah. Sekali lagi, taat itu berat, meskipun dalam tugas yang sederhana. Seperti sekedar berhalaqah, kerja bakti, piket malam, aktif ikut pembelajaran taklim, rajin shalat berjamaah. Padahal perintah perintah tersebut, kebaikannya kembali pada diri masing-masing. Tapi banyak yang menghindari kebaikan tersebut dengan tidak taat.

Contoh ketaatan yang berat seperti pindah tugas, menjabat posisi tertentu yang baru atau merintis daerah baru. Padahal selama ini sudah di zona aman, sudah mapan, sudah eksis, sudah menjabat lama, sudah mahir di bidang sebelumnya.

Apalagi merasa sudah bergelar, berilmu, profesional, berpengalaman, berjasa, berpengaruh dan lain sebagainya. Tentu tambah berat kalau menimbangnya dengan perasaan manusia biasa. Tapi Insya Allah ringan bagi yang menimbang standar syahadatnya yang telah mengkristal dalam dirinya.

Harus ada keberanian menyingkirkan kepentingan egoisme, interested pribadi dan keangkuhan terselubung. Kemudian menyakini bahwa ketaatan adalah konsekwensi bersyahadat.

Insya Allah, roda rotasi, mutasi, promosi tugas tidak pernah berhenti di Hidayatullah. Berputar menguji ketaatan jamaah dan pemimpinnya. Itulah asyiknya dinamisasi gerakan Hidayatullah sehingga bisa eksis dan terus ekspansi.

Semoga Allah memberikan kesiapan hati, jiwa, perasaan dan fikiran untuk senantiasa taat kepada Allah, Rasul-Nya dan pemimpin.Amin ya rabbal Alamin.

Ust Abdul Ghafar Hadi