Bersyahadat Sibukkan Kita Bangun Diri dan Berbuat untuk Umat

KETIKA sudah muncul kesadaran tentang urgensi dan konsekwensi syahadat. Maka seseorang itu tidak berhenti untuk berpikir, bertadabur, dan bergerak. Tentu semua dalam bingkai kebaikan, mengajak dan membangun kebaikan kepada banyak orang di sekitarnya.

Berfikir untuk bagaimana bisa orang banyak juga bisa bersyahadat yang benar dan menikmati hidup dengan keimanan. Akan selalu mencari cara, menemukan metode, membuat media dan pendekatan yang agar banyak orang bisa bersyahadat dengan baik. Sebanyak-banyaknya mendakwahkan kepada orang lain mengenal syahadat

Mereka hanya berfikir tapi juga terus bergerak di tengah masyarakat. Menghadapi segala tantangan orang-orang yang kontra syahadat. Tentu sunnatullah nya pasti ada saja halangan, godaan, hambatan dan orang-orang yang tidak suka atau memusuhi bersyahadat.

Ketika bersyahadat yang benar, ada gelora dalam hati untuk beribadah dan berdakwah. Bukan diam merenung atau sibuk dengan diri sendiri dan keluarganya saja. Syahadat melahirkan orang berpikir aktif dan produktif.

Kesibukan Muhammad setelah diangkat menjadi nabi dan Rasulullah, kesibukannya luar biasa dan berlipat pekerjaan yang dilakukannya. Tugas kenabiaan adalah tugas khalifah atau pemimpin, seorang pemimpin bukan hanya dituntut harus baik tapi mengajak orang lain juga menjadi baik dan melakukan kebaikan.

Rasulullah saw sibuk dengan tugasnya menjadi nabi, kepala negara, panglima perang, gurunya para sahabat, imam shalat berjamaah, kepala keluarga, berdakwah, melayani umat dan ibadah kepada Allah. Semua peran dilakukan dengan sempurna.

10 tahun mengemban amanah kenabian di periode Madinah, 65 kali ada peperangan. Betapa sibuknya beliau, tapi tetap bisa mentarbiyah sahabatnya, mengurus istri dan anaknya. Istrinya bukan hanya satu tapi sembilan.

Subhanallah, hingga menjelang wafat. Rasulullah yang difikirkan dan disebut adalah umatku….umatku….umatku….

Abu Bakar sibuk menjadi sahabat Rasulullah saw yang paling setia. Ke mana saja menyertai dan putra putri nya juga Sholeh Sholehah, bahkan Aisyah menjadi istri nabi yang cerdas.

Siti Khadijah sibuk menguruskan perihal Rasulullah dan menjadi pendokong setia dakwah. Hartanya habis dan waktunya juga habis di jalan dakwah dan mentarbiyah keluarga nya.

Mus’ab bin Umair sibuk dengan tugasnya berdakwah di Madinah. Dua pertiga penduduk Madinah berislam lewat kesejukan dan kesantunan dakwah Islam beliau.

Abu Hurairah sibuk mengumpul hadith daripada Rasulullah saw dan otaknya adalah gudang pengetahuan. Hari ini menjadi rujukan hadis nya.

‘Ibn Sina dan Al-Razi sibuk dengan hafalan Al-quran, kajian-kajian tentang ibadah dan muamalah. Hasil karya-karyanya yang masih segar dan menjadi rujukan hingga kini.

Mereka orang-orang sibuk luar biasa untuk menjayakan Islam dan muslimin. Mereka disibukkan dengan tarbiyah, taklim, ibadah, halaqah-halaqah ilmu, dakwah, perang, infaq, dan membangunkan ekonomi untuk dijadikan harta dakwah.

Itu semua adalah dalam rangka aktualisasi syahadatnya. Apalagi memasuki bulan-bulan haram ini, bertambah kesibukan mereka. Bukan untuk pribadi dan keluarga tapi Islam dan muslimin.

Orang bersyahadat tidak pernah menjadi pengangguran dan tidak kurang pekerjaan, selama iman masih ada maka keterpanggilan untuk mendakwahkan Islam di tengah umat akan terus memanggilnya.

Sibuk dengan Agama

Orang-orang kafir juga sibuk dengan program-program anti Islam. Bagaimana memadamkan api Islam lewat propaganda, konspirasi, dan strategi mereka dalam menghentikan dakwah Islam. Ada lewat cara kekerasan dengan pembunuhan dan pengusiran, ada lewat pemikiran dan budaya untuk melemahkan umat Islam.

Mereka berkorban juga untuk keyakinannya yang salah. Luar biasa juga usahanya untuk menguasai dunia dalam segala bidang kehidupan. Untuk sementara ini, mereka berhasil. Itu harus kita akui, karena mereka lebih serius dan sibuk.

Orang Islam yang belum sadar dan sibuk dengan perbedaan dan perpecahan antar golongan. Sebagian sibuk dengan menyerang dan mencari kesalahan saudaranya sendiri.

Ada yang sibuk kerja mencari materi semata dari pagi hingga pagi lagi. Sibuk nonton musik yang suka musik,sibuk menonton movies yang hobby film. Sibuk berjam-jam bisa bertahan di depan televisi untuk serial drama atau olahraga. Ada yang sibuk dengan gadgetnya, game-nya atau chatting dengan teman temannya.

Padahal PR-nya banyak sekali bagi orang yang telah bersyahadat itu.

Para pemilik syahadat harus sibuk dan mengelola waktu dan terus memberi peringatan kepada orang-orang yang menjadi amanahnya. Merealisasikan syahadat yang dimilikinya di level keluarga, tetangga, dan masyarakat sekitarnya.

Sebagaimana pernah tersampaikan sebelumnya. Bahwa orang bersyahadat tidak mungkin menjadi pengangguran atau kurang pekerjaan. Karena banyaknya pekerjaan yang menuntut mereka terkait syahadatnya.

Mestinya tidak ada waktu kosong, tersia-siakan. Seharusnya merasa kurang waktu 24 jam sehari, kurang umur yang diberikan. Apalagi menanyakan liburan, istirahat, kompensasi, insentif, THR atau apalah bahasanya?

Mestinya berpikir untuk upgrading kompetensi diri dengan belajar dan berlatih. Agar bisa lebih banyak berkontribusi kepada umat. Semakin banyak kompentensi yang dimiliki maka semakin banyak yang diperbuat untuk umat.

Kok bisa berfikir pendek, padahal amanah bidang pendidikan belum berhasil bagi guru atau dosen. Pendidikan belum menghasilkan insan insan yang Kamil ibadahnya, komitmennya, keilmuannya, moral dan mentalnya. Itu semua perlu terus difikirkan dan dimujahadahkan.

Bagi dai, muballigh juga tentang dakwah yang belum merata, masih pasif menunggu jadwal. Bagi ekonom, PR tentang kesejahteraan umat Islam yang belum berdaya. Politikus muslim juga seharusnya tidak bisa tidur untuk menenangkan kebijakan dan politik untuk kepentingan umat.

Jangan juga hanya sibuk hanya dalam perasaannya saja atau merasa sibuk. Tapi tidak berkarya, hanya dalam angan-angan saja. Atau sibuk menilai kerja orang tapi dirinya tidak bekerja.

Terkadang kita yang jabatan juga belum seberapa, anak buah juga masih terbatas, istri baru satu, anak baru beberapa. Tapi sibuknya sepertinya sudah luar biasa. Sehingga merasa tidak sempat atau tidak optimal mengurus agama ini.

Tidak sempat membaca Al Qur’an, halaqah tak ada waktu, shalat sunnah rawatib juga tercecer, wirid tidak sempat, shalat lailnya payah, puasa sunnah tidak kuat. Itulah PR hidup di era kecanggihan komunikasi dan informasi yang dimanjakan oleh gadget dan tidak sadar bahwa itu semua jebakan jika tidak dioptimalkan dengan baik.

Subhanallah, ini sekedar belajar menuliskan fikiran dan perasaan yang selama ini mengendap. Semoga bisa dipahami dan bermanfaat. Semua kebaikan dari Allah dan keburukan tulisan ini berasal dari kami pribadi.

Ust Abdul Ghofar Hadi