Istiqamah Dibawah Kepemimpinan Iman

KECERDASAN dan kehebatan otak pikiran manusia tidak boleh menepikan iman sebagai bekal utama dalam meniti kehidupan. Ilmu, iman, dan amal tiga sisi yang saling melengkapi. Oleh sebab itu, iman harus menjadi pemimpin dan memandu setiap jengkal langkah kita.

Demikian benang merah dari taushiah yang disampaikan oleh kader senior Hidayatullah, Ust H Abdul Latif Usman selepas shalat shubuh di Masjid Baitul Karim, Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, belum lama ini, Jumat, 23 Dzulhijjah 1443 (22 Juli 2022).

“Iman harus menjadi pemimpin dalam diri kita, bukan menuhankan dan membesarkan kemampuan pikiran,” katanya.

Dia menerangkan, Hidayatullah dengan 6 jatidirinya pun telah berupaya memanifestasi nilai nilai Islam yang luhur itu agar senantiasa berada di bawah kepemimpinan iman.

“Selama orang Hidayatullah bersenyawa dengan jatidirinya, maka ia akan tetap pada rel yang benar dibawah kepemimpinan spiritual,” tegasnya.

Menurutnya, kalau dalam perlangkahan kita berada dibawah dominasi kepemimpinan pikiran yang mengandalkan otak dan kekuatan manusiawia belaka, tanpa spritual, maka kita hanya melakukan penggemukan bukan pengembangan.

“Kalau spiritual yang memimpin, maka Hidayatullah akan terus berkembang. Tetapi, kalau keangkuhan pikiran yang menuntun, maka kita hanya melakukan penggemukan. Gemuk tapi rapuh,” katanya.

Ust Latif mengatakan, sebagai umat Islam sekaligus kader Hidayatullah sudah semestinya kita senantiasa selalu meningkatkan kualitas ilmu dan iman. Menurutnya, setiap muslim penting memahami dan merenungi alam dalam konteks universal dan alam yang melekat terpatri dalam diri manusia.

Ia mengajak merenung akan kebesaran Sang Maha Pencipta. Ust Latif pun lantas menyampaikan sebuah studi ilmiah astronom dari California Institute of Technology (Caltech) yang mengemukakan bahwa air yang ada di atas langit (di luar angkasa) sebanding dengan 140 triliun kali lipat air di bumi.

“Kalau dihitung, bobot air di sana 100.000 kali lebih berat daripada matahari. Disitulah hanya sebagian kecil dari pijakan Arsy Allah,” katanya seraya menambahkan seyogyanya sebagai mahluk kita dianjurkan untuk memikirkan ciptaannya dan menghindari berfikir tentang dzat Allah yang tak terbatas.

Lebih jauh lagi beliau menyampaikan penting bagi kita sebagai mahkluk untuk terus menggugah iktibar dari perenungan tentang hakikat dan keberadaan alam dengan kompleksitas yang ada di dalam diri manusia yang sering di sebut sebagai alam mikroskopis.

“Boleh jadi sedikit diantara kita yang memikirkan bahwa bagaimana Allah menciptakan semuanya dengan begitu tertata dan memiliki ketepatan pencitaan yang sempurna,” katanya.

Ust Latif lantas mencontohkan bagaimana kompleksitas penciptaan manusia. Mengutip dari Live Science, ia menyebutkan ada tiga jenis pembuluh darah manusia yaitu arteri, vena, dan kapiler yang masing-masing memainkan peran yang sangat spesifik dalam proses sirkulasi.

Ust Latif menukil, jika semua jenis pembuluh tersebut diletakkan dalam satu baris dari ujung ke ujung, mereka akan membentang sekitar 60.000 mil atau 100.000 kilometer.

Sebagai perbandingan, keliling bumi menempuh jarak sekitar 25.000 mil atau 40.000 kilometer. Artinya, pembuluh darah seseorang bisa mengelilingi planet ini sekitar 2,5 kali.

“Maka kita bisa bayangkan banyak hal yang belum kita tahu maksud dari semua yang Allah ciptakan terutama dalam diri kita,” imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, Ust Latif mengajak para santri untuk selalu menghidupkan kultur spiritual Hidayatullah. Sebagai sosok yang memiliki kontak batin dan emosional dengan para pendiri Hidayatullah, ia begitu semangat penuh spirit perjuangan mengantarkan pendengar untuk akhirnya kemudian bisa menyentuh titik kesadaran paripurna.

Ada beberapa poin mendasar di samping penuturan terkait bayangan nostalgia perjuangan di awal awal perintisan Hidayatullah termasuk kisah unik penuh haru kala ia mendampingi sahabatnya, KH Abdurrahman Muhammad, melakukan safari dakwah ke Timur Tengah.

Di kesempatan tersebut, Ust Latif juga kembali mengenang awal ia masuk ke Cilodong tahun 1983 yang kala itu membersamai pendiri Hidayatullah Abdullah Said dan pewakaf tanah kampus Hidayatullah Depok almarhum Bapak Agus Sutomo. Abdullah Said dan Agus Sutomo adalah sahabat dekat.

Ia juga minta didoakan agar kelak ketika wafat dalam keadaan husnul khotimah berdakwah di jalan Allah. Ust Latif lantas menyebut 3 nama sahabat seangkatannya nikah massal yang merintis Hidayatullah Depok yang kini sudah lebih dulu dipanggil oleh Allah Ta’ala yaitu Budi Setiawan, Syamsu Rijal Aswin, dan Mujahid Zubair.

“Ada 5 orang seangkatan saya nikah massal. Tiga orang sudah meninggal, sekarang tinggal saya dan Pemimpin Umum. Saya nggak tau, siapa nanti yang duluan dipanggil Allah,” katanya.

Ia menyampaikan harapan tumbuh kembang pesatnya pembangunan pusat peradaban mesti disertai semangat dakwah menggelora di masa depan.

Dengan keyakinan harapan yang mengkristal, ia mengatakan bahwa suatu saat dalam kurun periode 4 dasawarsa atau 40 tahun kedua mendatang akan berdiri pencakar langit beserta fasilitas pesawat sebagai penunjang dakwah antar pulau bahkan antar benua.

“Maka dengan semua indikator dan pencapaian hingga hari ini, bukan tidak mungkin sebagai lembaga yang memiliki kader militan dan dibawah kepemimpinan iman yang bersenyawa dengan jati diri Hidayatullah, insya Allah semua cita cita besar akan terwujud,” tuturnya.

Sebagai penutup ia berpesan agar semua kader harus memiliki modal keberanian yang hebat, ketaatan yang kuat, dan merawat negeri ini dengan sebaik baiknya.

“Kita sudah merebut kemerdekaan, sekarang kita mengisi kemerdekaan dengan hal hal produktif, kita akan terus mempertahankan kemerdekaan ini. Dan ingat, jangan sampai kita menjual kemerdekaan,” tandasnya.*/Asep Rohim, Ainuddin