Beginilah Akibat bila Belajar tapi Meremehkan Adab

SEBAGIAN orang bertanya-tanya, mengapa semakin banyak orang pandai dan lulus pendidikan tinggi, namun kejahatan semakin “semarak” dan bahkan jauh lebih canggih?

Dulu, orang hanya mencuri perabotan elektronik atau perhiasan dengan mencongkel pintu dan melobangi dinding, namun sekarang orang bisa mencuri jutaan rupiah milik orang lain hanya dengan melalui jaringan ATM atau internet. Bagaimana bisa? Ya, karena pencurinya sangat menguasai teknologi informasi. Jelas, pelakunya sangat terdidik dan terlatih.

Mengapa pendidikan yang bertujuan membuat manusia semakin beradab justru memperlebar jalan bagi kejahatan?

Dalam pembukaan kitab Ta’limul Muta’allim, Syekh Zarnuji merasakan kegelisahan yang sama, dan menulis: “…saya melihat sebagian besar pelajar di zaman kita bersungguh-sungguh (mencari) ilmu namun tidak bisa sampai atau terhalang dari manfaat serta buahnya, yaitu beramal dengannya dan menyebarkannya. Sebab, mereka salah menempuh jalannya dan meninggalkan syarat-syaratnya. (Padahal), setiap orang yang salah mengambil jalan pastilah akan tersesat dan tidak bisa sampai ke tujuannya, baik sedikit maupun banyak….”

Abu al-Hasan al-Mawardi juga dalam Tashilu an-Nazhr wa Ta’jilu azh-Zhufr fi Akhlaqi al-Malik berkata, “Setiap orang yang belajar dari orang lain, selama dia tidak memelihara adab dalam dirinya, maka segala yang telah ia dapatkan dari (guru)nya itu akan berhamburan dan ia akan kembali kepada tabiatnya yang semula.”

Artinya, tanpa adab, pendidikan akan sia-sia. Apa yang ditanamkan dengan susah payah selama pendidikan, akan berhamburan kembali, begitu ia diwisuda dari Almamaternya dan memegang ijazah.

Mari kita buat perumpamaan. Jika Anda ingin membuat makanan tertentu, dan telah menyiapkan seluruh bahan maupun peralatan yang diperlukan, apa lagikah yang harus Anda pastikan agar makanan yang Anda inginkan bisa jadi dengan pas dan lezat?

Ya benar, Anda harus mengikuti resep pembuatannya secara tepat, seperti bagaimana menyiapkan bahan dasarnya, seberapa banyak air, gula atau garam yang ditambahkan, dan lain sebagainya, sampai tahap terakhirnya: digoreng, dikukus, dipanggang, atau dibakar.

Jadi, masalah terbesarnya adalah: sejak semula mereka telah keliru memilih jalan dalam mencari ilmu, atau tidak memperhatikan syarat-syaratnya.

Dalam konsep pendidikan Islam, jalan dan syarat itu terangkum dalam adab. Apakah adab itu?

Menurut Syarif ‘Ali al-Jurjani dalam kitab at-Ta’rifat, adab adalah pengetahuan tentang segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk menjaga diri dari kesalahan. Maka, orang yang tidak mengenal adab sangat rawan terjerumus dalam kesalahan-kesalahan.

Islam menggariskan banyak adab kepada pemeluknya. Ada adab kepada Allah, seperti mengakui dan bersyukur atas segala nikmat nikmat-Nya. Ketika ini dilanggar, maka pelakunya terjerumus dalam kufur ni’mat.

Allah berfirman, “Dan (ingatlah), tatkala Tuhanmu memaklumkan; ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Qs. Ibrahim: 7).

Ada lagi adab kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti mencintai dan menghormatinya. Lalu, ada adab kepada kedua orang tua, guru, ulama’, saudara, karib kerabat, teman sejawat, tetangga, tamu, pemimpin, dan masih banyak lagi.

Masing-masing adab memiliki fungsi dan peran tersendiri, dalam rangka menata hati dan membersihkan jiwa. Selanjutnya, bila hati dan jiwa telah siap, maka hidayah Allah akan tumbuh subur di dalamnya, bagaikan tanah yang telah ditata dan dibersihkan, lalu ditaburi benih yang tepat.

Sebaliknya, ketika adab diabaikan, maka cepat atau lambat seseorang akan memanen hasilnya. Tentu saja, bukan panen yang baik.

Imam ‘Abdullah bin Mubarak berkata, “Siapa saja yang meremehkan adab, ia dihukum dengan terhalang dari amalan-amalan sunnah; siapa saja yang meremehkan amalan-amalan sunnah, ia dihukum dengan terhalang dari amalan-amalan fardhu; dan siapa saja yang meremehkan amalan-amalan fardhu, ia dihukum dengan terhaladang dari ma’rifat (mengenal Allah).” (dari: Ahadits fi Dzammil Kalam wa Ahlihi).

Orang yang tidak mengenal Allah tidak akan takut kepada Allah. Dan, jika ia tidak takut kepada Allah, maka ia tidak akan segan melakukan aneka kejahatan dan kezhaliman. Semua bisa diterjangnya dengan ringan dan tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Anda pasti bisa membayangkannya dalam film-film mafia, dimana puluhan orang dibantai dengan senapan mesin dengan tatapan dingin tanpa rasa iba sedikit pun. Disana Anda juga sangat tahu, kejahatan itu di-menej sangat rapi dan tangguh. Tentu, dengan memanfaatkan hasil-hasil pendidikan dan teknologi.

Sekarang, di negeri ini, kejahatan telah tumbuh bagai mafia. Terorganisir sangat rapi, tangguh dan menggurita. Bahkan, tidak lagi sebagai kejahatan tersembunyi, namun telah diakui sebagai fakta. Bukankah pemerintah pun telah membentuk Satgas Mafia Pajak, sebagai misal?

Tampaknya, kegelisahan Syekh Zarnuji, ratusan tahun lalu, kini semakin relevan. Jika para pelajar tekun mencari ilmu, namun tidak mengindahkan adab, maka dalam waktu singkat mereka akan terjerumus dalam banyak kesalahan-kesalahan. Atau, setelah lulus, semua hasil pendidikannya akan musnah.

Dan, tentu saja, yang paling membahayakan adalah: jika mereka menjadi semakin pandai, namun tumbuh tanpa mengenal Tuhannya samasekali. Mereka akan berotak sangat encer, namun tidak bermoral. Bayangkanlah apa yang akan dilakukan generasi semacam ini.

Jika kepada Tuhan saja tidak takut, apalagi polisi, jaksa, hakim, dan manusia-manusia yang – sebagian dari mereka – terbukti bisa disuap dan dibeli dengan sejumlah materi? Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar