Dengan Akhlak Ikhtiar Memelihara Eksistensi Negeri

Al Hamdulillah was syukru lillah ‘ala ni’amillah, Idul Qurban sudah sekian kali kita lakukan. Sesuatu yang bersifat rutinitas seringkali kurang tertangkap esensinya/subtansinya.

Itulah sebabnya perlu dipersegar ulang esensi hari raya idul adha ini. Dengan harapan kita selalu menemukan hal-hal baru, pelajaran baru, dan hikmah baru dibalik peristiwa.

Hanyalah orang-orang yang cerdas kalbunya yang bisa memetik ibrah dibalik peristiwa. Sehingga, konsisten untuk mengagungkan asma Allah Subhanahu Wa Ta’ala..

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

ذٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعٰٓئِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj 22:32)..

Qadarullah, idul adha 1443 H ini jatuh pada bulan Juli 2022. Sebulan lagi kita juga akan memperingati 77 tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Sebuah usia mendekati ‘uzur. Usia yang sepatutnya menggambarkan kematangan struktur kepribadian. Setengah abad lebih duapuluh tahun.

Sebagai ungkapan rasa syukur dan istighfar serta muhasabah dalam memperingati hari raya Idul Qurban 1443 H pada pagi hari ini dan mengisi kemerdekan pada bulan Agustus besuk, kita ucapkan tasbih, tahmid, tahlil, takbir, hauqalah. Apa saja yang sudah kita lakukan untuk menggapai cita-cita, dan apa saja yang belum kita raih?

سُبحان الله والحَمد لله ولا اله الاّ الله والله اكبَر ولا حَول ولا قوَّة الاّ بالله العَليِّ العَظِيم

Maha suci Allah (tasbih). Betapa kotornya diri ini, seringkali tidak pandai memelihara anggota tubuh dari perbuatan keji dan mungkar. Kita kurang trampil mengelola telinga untuk mendengarkan firman- Nya. Mengelola mata untuk menyaksikan ayat tanziliyah dan ayat kauniyah. Mengendalikan mulut dari perkataan sia-sia, terutama di era digital sekarang. Mengelola tangan untuk berinfaq, jari-jari untuk bertasbih. Mengelola kaki untuk melangkah ke rumah Allah. Mengelola hati memaksimalkan akal sehat dan mujahadah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberi taujih kepada kita dalam firman-Nya :

قُلْ أَرَءَيْتُمْ إِنْ أَخَذَ اللَّهُ سَمْعَكُمْ وَأَبْصٰرَكُمْ وَخَتَمَ عَلٰى قُلُوبِكُمْ مَّنْ إِلٰهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِهِ  ۗ اُنْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْأَيٰتِ ثُمَّ هُمْ يَصْدِفُونَ

“Katakanlah (Muhammad), “Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu?” Perhatikanlah, bagaimana Kami menjelaskan berulang-ulang (kepada mereka) tanda-tanda kekuasaan (Kami), tetapi mereka tetap berpaling.” (QS. Al-An’am 6 : 46)..

Segala puja dan puji hanya milik Allah Swt (tahmid). Betapa sering kita tidak pandai bersyukur atas nikmat yang diberikan kepada kita. Baik nikmat lahir dan batin. Kita kadangkala memandang orang terdekat kita sebagai rivalitas (pesaing) kita, bukan dilihat sebagai anugerah yang disyukuri.

مَنْ لَمْ يَشْكُر النّاسَ لَمْ يشْكُرِ الله

Barangsiapa yang tidak mensyukuri manusia (makhluk) sama dengan tidak mensyukuri Penciptanya (Allah Al Khaliq).

Tiada Tuhan selain Allah (tahlil).
Semoga dengan memperbanyak melantunkan tahlil, semakin kuat keimanan kita dan mendorong untuk beramal shalih.

Allahu akbar (takbir).
Betapa kecil diri kita, harta kita, kewenangan kita, pengaruh kita, ilmu pengetahuan kita. Bumi dibandingkan dengan ‘Arsy Allah bagaikan kelerang di tanah lapang. Dan kita berada di kelereng tersebut. Betapa kecilnya kita dihadapan kebesaran Allah Swt.

La haula wa laa quwwata illa billah (hauqalah). Tiada daya dan kekuatan yang kita miliki kecuali disupport dari kekuatan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita adalah faqir, miskin, dan dhoif. Allah Swt memiliki segala sifat kesempurnaan, sedangkan kita tempat salah dan lupa.

Sementara itu kita dibebani tugas yang tidak mudah dan tidak sederhana.

Pertama : Sebagai ‘abdullah untuk menomor satukan Allah Swt.
Kedua : Menjadi mandataris Allah untuk ‘imaratul ardh (membangun dan memakmurkan bumi). Utamanya bumi pertiwi yang kita diami secara turun-temurun.

Agar anak cucu kita nanti at-home di tanah tumpah darah kita, kita tidak berhenti untuk membangun di segala bidang. Untuk meninggalkan warisan yang terbaik kepada generasi pelanjut kita. Yaitu, mewariskan nilai-nilai tauhid dan prestasi (amal shalih).

Ingatlah, jika kalian tidak sanggup membangun dan memperbaiki, jangan merusak. Karena membangun diatas puing-puing kerusakan memerlukan cost (biaya) yang mahal.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

وَابْتَغِ فِيمَآ ءَاتٰكَ اللَّهُ الدَّارَ الْأَخِرَةَ  ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا  ۖ وَأَحْسِنْ كَمَآ أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ  ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْأَرْضِ  ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qasas 28: Ayat 77)

Membangun sesuatu itu tidak mudah dan tidak sederhana. Membangun itu memerlukan proses yang konstan (jangka panjang). Tidak dengan cara instan. Membangun tidak seperti membalik telapak tangan. Bim salabim, langsung jadi. Itulah sunnatullah fil kaun (hukum alam yang berlaku di jagat raya).

Dalam membangun itu juga harus lebih utuh, seimbang. Jangan mudah terpedaya dengan paham diluar islam. Yang selalu berpikir dikotomis dan kontradiktif. Jasmani di satu sisi, ruhani pada sisi yang berbeda. Bangunan pisiknya mentereng, ruhani penduduknya keropos. Seperti kata pujangga Arab berikut :

مَتَى يَبْلغُ البُنيانُ يومًا تَمامَه # اِذا كُنت تبنِيْه وَغَيْرُك يَهْدِمُ
فَلَوْ اَلْفُ بَانٍ خَلْفَهُم هادِمٌ كَفَى # فَكَيْف بِبَانٍ خَلْفَهُ اَلْفُ هَادِمٍ

Kapan bangunan bisa sempurna,
bila kalian membangun, sedangkan selainmu merobohkan ?

Jika ada seribu pembangun satu merobohkan, cukuplah sudah, bagaimana jadinya jika satu membangun seribu yang meruntuhkan ?

Pada peristiwa Uhud yang dipimpin langsung oleh Qoidul Mujahidin, Imamul Muttaqin, pertolongan Allah tidak jadi diturunkan karena pasukan tidak solid dan tidak disiplin. Ada sebagian yang menginginkan akhirat dan ada pula yang memburu dunia. Satu niatnya suci, yang lain motivasinya kotor.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُۥٓ إِذْ تَحُسُّونَهُمْ بِإِذْنِهِۦ  ۖ حَتّٰىٓ إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنٰزَعْتُمْ فِى الْأَمْرِ وَعَصَيْتُمْ مِّنۢ بَعْدِ مَآ أَرٰىكُمْ مَّا تُحِبُّونَ  ۚ مِنْكُمْ مَّنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَّنْ يُرِيدُ الْأَاخِرَةَ  ۚ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ  ۖ وَلَقَدْ عَفَا عَنْكُمْ  ۗ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

“Dan sungguh, Allah telah memenuhi janji-Nya kepadamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mengabaikan perintah Rasul setelah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antara kamu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada (pula) orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk mengujimu, tetapi Dia benar-benar telah memaafkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang diberikan) kepada orang-orang mukmin.”
(QS. Ali ‘Imran 3:152)..

Oleh karena itu, pendiri negeri kita telah meletakkan rambu-rambu, memberi arah pembangunan ke depan. Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya. Mendahulukan mental sebelum pisik. Mensinergikan antara imtak dan iptek. Keduanya tidak perlu dipertetangkan. Manusia tanpa ruh, mayat berjalan. Manusia tanpa jasad yang sehat, jin kuntilanak, dhemit, dan makhluk halus lainnya di alam sana.

Muncul dan tenggelam, maju dan mundurnya sebuah peradaban tidak instan (ujug-ujug). Oleh karena itu, jangan menjadi manusia instan. Ingin sukses enggan bersulit-bersulit. Ingin panen tidak mau menanam. Ingin meraih cita-cita tidak mau memburunya. Ingin menduduki kursi dengan jalan pintas. Ingin berkuasa dengan menghalalkan segala cara. Demikianlah karakteristik insan digital. Seseorang dibentuk oleh lingkungan sosialnya (nahnu ibnul biah).

Apa yang dirasakan oleh generasi pelanjut – maju dan mundur – merupakan akumulasi (tumpukan) kontribusi positif dan destruktif pendahulunya.

اِنّمَا الْاُمَمُ الاَخلاقُ مَا بَقِيَتْ # وَاِن هُمو ذَهَبَت اَخْلاقُهم ذَهَبُوا

Sungguh, eksistensi sebuah negeri berbanding lurus dengan kualitas moral penduduknya, jika minus moralnya negeri tersebut akan hilang bersama waktu.

Sesungguhnya kemajuan yang dialami bangsa ini merupakan akumulasi kontribusi pendahulu kita pada masa yang silam. Oleh karena itu jangan menyederhanakan kebaikan sekalipun hanya berupa senyum. Karena, mentransfer aura positif kepada lingkungan sosial..

وَلاَ تحْقِرنَّ مِنَ المَعْرُوْفِ شَيْئا وَلَوْ اَنْ تلْقَى اَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلِيْقٍ

Janganlah sekali-kali engkau remehkan kebaikan sedikitpun sekalipun engkau bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri-seri (steril dari serakah, hasud dan sombong)..

Demikian pula kehancuran, kehinaan, ketertinggalan suatu peradaban tidak terjadi sekaligus. Tetapi melalui proses yang panjang. Sebagaimana kebaikan yang terakumulasi dalam kurun tertentu dan melahirkan kemajuan peradaban, akumulasi keburukan (destruktif) juga akan menggiring kepada sebuah kepunahan peradaban.

Oleh karena itu, jangan mendekati perbuatan zina, jangan mendekati harta anak yatim, jangan mendekati tindakan keji baik yang tampak ataupun yang tersembunyi, demikianlah taujih Rabbani dalam al Quran. Kebaikan itu mengajak saudara-saudaranya, demikian pula kejahatan itu beranak-pinak..

Penyakit yang menimpa kita juga tidak datang secara tiba-tiba, tetapi efek dari pola makan, pola hidup, pola pikir yang kita terapkan dalam jangka waktu yang panjang. Maka, perbaiki pola makan, pola hidup, pola pikir. Jangan kebanyakan pola (tingkah) !..

Pendiri negeri ini kita ketika membangun pondasi Indonesia memunculkan rumusan istilah yang menggambarkan visi besar yang ingin diraihnya. Yaitu baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (negeri yang baik dan mendapatkan ampunan dari yang Maha Pengampun). Istilah tersebut diserap dari Surat Saba (34). Nama sebuah negeri yang makmur dan sejahtera, dipimpin oleh seorang ratu yang sangat adil bernama Bilqis.

Dalam hadits Farwah bin Musaik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya oleh seorang laki-laki, “Ya Rasulullah, kabarkanlah kepadaku tentang Saba’ ? Apakah Saba’ itu ? Apakah ia adalah nama sebuah tempat ataukah nama dari seorang wanita ?” Beliau pun menjawab,

لَيْسَ بِأَرْضٍ وَلَا امْرَأَةٍ وَلَكِنَّهُ رَجُلٌ وَلَدَ عَشْرَةً مِنَ العَرَبِ فَتَيَامَنَ سِتَّةٌ وَتَشَاءَمَ أَرْبَعَةٌ

 “Dia bukanlah nama suatu tempat dan bukan pula nama wanita, tetapi ia adalah seorang laki-laki yang memiliki sepeluh orang anak dari bangsa Arab. Enam orang dari anak-anaknya menempati wilayah Yaman dan empat orang menempati wilayah Syam.” (HR. Abu Dawud, no. 3988 dan Tirmidzi, no. 3222).

Dalam riwayat Ibnu Abbas ra. terdapat tambahan :

انّ رجلاً سَاَل رسولَ الله صلى الله عليه وسلّم عَن سباٍ ماهو
اَرَجلٌ ام امراةٌ ام ارضٌ فقال : بل هو رجلٌ ولد عشَرةً فسكن اليمن منهم ستّة وبالشام منهم اربعةٌ فامّا اليمانيّون فمَذْحِج والكِنْد والاَزْد والْاَشْعَريّون واَنمارٌ وحِمْيَرُ عَربًا كلّها وَاَمّا الشّامِيةُ فلخمٌ وجُذام وعامِلة وَغَسَّان

Sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang Saba, apakah itu ? apakah dia laki-laki atau perempuan atau bumi (nama negeri) ?. Beliau pun bersabda : Bahkan dia itu seorang laki-laki yang memiliki sepuluh anak, enam orang diantaranya tinggal di Yaman, dan empat lainnya tinggal di Syam. Mereka yang tinggal di Yaman adalah Madzhij, Kindah, Al Azd, Al-Asy’ariyyin, Anmar dan Himyar, semuanya bangsa Arab. Adapun mereka yang berada di Syam adalah Lakhm, Judzam, ‘Amilah dan Ghassan (HR. Ahmad, no. 2898).

Secara garis besar wilayah Jazirah Arab dibagi menjadi dua bagian, bagian Utara dan bagian Selatan. Arab bagian Selatan lebih maju dibandingkan Arab bagian Utara. Masyarakat Arab bagian Selatan adalah masyarakat yang dinamis dan memiliki peradaban, mereka telah mengenal kontak dengan dunia internasional karena pelabuhan mereka terbuka bagi pedagang-pedagang asing yang hendak berniaga ke sana. Sementara orang-orang Arab Utara adalah mereka yang terbiasa dengan kerasnya kehidupan padang pasir, mereka kaku dan lugu karena kurangnya kontak dengan dunia luar. Tentu saja geografi kerajaan Saba’ sangat mempengaruhi bagi kemajuan peradaban mereka.

Kerajaan Saba’ memiliki bala tentara yang kuat. Hal itu bisa pahami dari perbincangan petinggi negeri untuk membalas kiriman surat dari Nabi Sulaiman yang diantarkan burung Hud-Hud.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَالُوا نَحْنُ أُولُوا قُوَّةٍ وَأُولُوا بَأْسٍ شَدِيدٍ وَالْأَمْرُ إِلَيْكِ فَانْظُرِى مَاذَا تَأْمُرِينَ

“Mereka menjawab, “Kita memiliki kekuatan dan keberanian yang luar biasa (untuk berperang), tetapi keputusan berada di tanganmu; maka pertimbangkanlah apa yang akan engkau perintahkan.”” (QS. An-Naml 27: Ayat 33)..

Juga dikenal dengan hasil alamnya yang melimpah, orang-orang pun banyak berhijrah dan bermitra dengan mereka. Perekonomian mereka begitu menggeliat hidup dan sangat dinamis.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan tentang kemakmuran kaum Saba’ dalam firman-Nya..

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ ءَايَةٌ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun, di sebelah kanan dan di sebelah kiri.” (QS. Saba’: 15)

Kedua kebun tersebut sangat luas dan diapit oleh dua gunung di wilayah Ma’rib. Tanahnya pun sangat subur, menghasilkan berbagai macam buah dan sayuran.

Qatadah dan Abdurrahman bin Zaid rahimahumallah mengisahkan, apabila ada seseorang yang masuk ke dalam kebun tersebut dengan membawa keranjang di atas kepalanya, ketika keluar dari kebun itu keranjang tersebut akan penuh dengan buah-buahan tanpa harus memetik buah tersebut. Abdurrahman bin Zaid menambahkan, di sana tidak ditemukan nyamuk, lalat, serangga, kalajengking, dan ular (Tafsir ath-Thabari, 20: 376-377).

Menurut al-Qusyairi, penyebutan dua kebun tersebut tidak berarti bahwa di Saba’ kala itu hanya terdapat dua kebun itu saja, tapi maksud dari dua kebun itu adalah kebun-kebun yang berada di sebelah kanan dan kiri lembah atau di antara gunung tersebut. Kebun-kebun di Ma’rib saat itu sangat banyak dan memiliki tanaman yang bervariasi (Fathul Qadir, 4: 422).

Yang membuat tanah di Ma’rib menjadi subur adalah pusaka nenek moyang mereka berupa bendungan monumental Ma’rib atau juga dikenal dengan nama bendungan ‘Arim, bendungan yang panjangnya 620m, lebar 60m, dan tinggi 16m ini mendistribusikan airnya ke ladang-ladang penduduk dan juga menjadi sumber air di wilayah Ma’rib.

Dalam buku-buku tafsir mencatumkan nama Ratu Bilqis sebagai pemrakarsa dibangunnya bendungan ini. Ratu Bilqis berinisiatif mendirikan bendungan tersebut lantaran terjadi perebutan sumber air di antara rakyatnya yang mengakibatkan mereka saling bertikai bahkan saling membunuh.

Dengan dibangunnya bendungan ini, orang-orang Saba’ tidak perlu lagi khawatir akan kehabisan air dan memperebutkan sumber air, karena bendungan tersebut sudah menjamin kebutuhan air mereka, mengairi kebun-kebun dan memberi minum ternak mereka.

Faktor Kehancuran Negeri Saba’

Sebelum Ratu Bilqis masuk Islam, kaum Saba’ menyembah matahari dan bintang-bintang. Setelah ia memeluk Islam, maka kaumnya pun berbondong-bondong memeluk agama Islam yang didakwahkan oleh Nabi Sulaiman ‘alaihissalam.

Sampai kurun waktu tertentu, kaum Saba’ tetap mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun dengan bergulirnya waktu, mereka kembali ke agama nenek moyang mereka, menyembah matahari dan bintang-bintang. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus tiga belas orang rasul kepada mereka (Tafsir Ibnu Katsir, 6: 507), akan tetapi mereka tetap tidak mau kembali ke agama monotheisme, mentauhidkan Allah  dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apa pun. Allah pun mencabut kenikmatan yang telah Dia anugerahkan kepada mereka,

فَأَعْرَضُوْا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ العَرِمِ

“Tetapi mereka berpaling, maka kami datangkan kepada mereka banjir al-‘arim.” (QS. Saba’: 16)..

Penyebab kehancuran bendungan tersebut tentu saja adalah takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala dan akibat dari penduduk Saba’ yang kufur akan nikmat Allah terhadap mereka. Namun, Allah menciptakan suatu perantara yang bisa diterima oleh logika manusia agar manusia lebih mudah untuk merenungi dan mengambil pelajaran.

Di dalam buku-buku tafsir disebutkan, seekor tikus yang lebih besar dari kucing sebagai penyebab runtuhnya bendungan Ma’rib. Subhanallah ! Betapa mudahnya Allah menghancurkan bendungan tersebut, meskipun dengan seekor makhluk kecil yang dianggap eremah, tikus.

Sebab lain yang disebutkan oleh sejarawan adalah terjadinya perang saudara di kalangan rakyat Saba’ sementara bendungan mereka butuh pemugaran karena dirusak oleh musuh-musuh mereka (at-Tahrir wa at-Tanwir, 22 : 169), perang saudara tersebut mengalihkan mereka dari memperbaiki bendungan Ma’rib. Allahu a’lam mana yang lebih benar mengenai berita-berita tersebut.

Bendungan ini hancur sekitar tahun 542 M. Setelah itu, mereka hidup dalam kesulitan, tumbuhan-tumbuhan yang tumbuh subur di tanah mereka tidak lagi menghasilkan buah seperti sebelum-sebelumnya dan Yaman saat ini termasuk salah satu negeri termiskin dan terkering di Jazirah Arab.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنٰهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَىْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَىْءٍ مِّنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ

“Tetapi mereka berpaling, maka Kami kirim kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Asl dan sedikit pohon Sidr. (QS. Saba’ 34 : 16)..

ذٰلِكَ جَزَيْنٰهُمْ بِمَا كَفَرُوا  ۖ وَهَلْ نُجٰزِىٓ إِلَّا الْكَفُورَ

“Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.” (QS. Saba’ 34 : 17)..

Dalam firman-Nya yang lain

وَضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلٗا قَرۡيَةٗ كَانَتۡ ءَامِنَةٗ مُّطۡمَئِنَّةٗ يَأۡتِيهَا رِزۡقُهَا رَغَدٗا مِّن كُلِّ مَكَانٖ فَكَفَرَتۡ بِأَنۡعُمِ ٱللَّهِ فَأَذَٰقَهَا ٱللَّهُ لِبَاسَ ٱلۡجُوعِ وَٱلۡخَوۡفِ بِمَا كَانُواْ يَصۡنَعُونَ } { وَلَقَدۡ جَآءَهُمۡ رَسُولٞ مِّنۡهُمۡ فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَهُمُ ٱلۡعَذَابُ وَهُمۡ ظَٰلِمُونَ

“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka seorang rasul dari mereka sendiri, tetapi mereka mendustakannya; karena itu mereka dimusnahkan azab dan mereka adalah orang-orang yang zalim.” (QS. An-Nahl: 112 – 113).

Kalau kita renungkan kisah kaum Saba’ dengan perenungan yang mendalam, tentu saja kita menemukan suatu ibrah kengerian, bagaimana sebuah negeri yang teramat sangat subur, lalu menjadi negeri yang kering dan tandus. Allah mengabadikan kisah kaum Saba’ ini di dalam Alquran dan memberi nama surat yang memuat kisah mereka dengan surat Saba’. Hal ini tentu saja dimaksudkan agar manusia senantiasa mengingat-ingat apa yang terjadi kepada kaum ini.

Demikian pula negeri kita, Indonesia, yang disebut sebagai jamrud katulistiwa, tongkat yang dibuang ke tanah akan menjadi pohon, sebagai gambaran kesuburannya, namudzajiyyah fil jannah (market surga), qith’atun minal firdausi fil ardhi (sepenggal surga firdaus di bumi), meminjam istilah pujangga Arab, hendaknya menjadi bahan tafakkur dan muhasabah secara radikal peristiwa sejarah pada kaum Saba’ agar kita tidak mengulang kisah perjalanan mereka.

Perhatikan lantunan lagu berikut :

Kolam Susu

Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

Penduduk Saba bosa dengan makanan yang siap sedia dan alam yang subur seperti bosannya Bani Israil dengan makanan manna dan salwa di Padang Tih. Bangsa saba mengungkapkan kebosanannya seperti pada ayat berikut..

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَقَالُوا رَبَّنَا بٰعِدْ بَيْنَ أَسْفَارِنَا وَظَلَمُوٓا أَنْفُسَهُمْ فَجَعَلْنٰهُمْ أَحَادِيثَ وَمَزَّقْنٰهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ  ۚ إِنَّ فِى ذٰلِكَ لَءَايٰتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

Maka mereka berkata, “Ya Tuhan kami, jauhkanlah jarak perjalanan kami,” dan (berarti mereka) menzalimi diri mereka sendiri; maka Kami jadikan mereka bahan pembicaraan dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang sabar dan bersyukur.”(QS. Saba’ 34: Ayat 19)

Sehingga buah bibir bangsa Arab ketika melukiskan kehancuran negeri setelah mencapai kemakmurannya dengan ungkapan yang masyhur :

تَفَرَّقُوا بِاَيْدِي سَبَاٍ

Mereka bercerai- berai, porak-poranda bagaikan tangan-tangan (jahil) penduduk Saba.

Tergantung kita, apakah negeri kita ini kita jadikan taman yang indah sejauh mata memandang atau hutan rimba. Hukum rimba, yang kuat memangsa yang lemah, yang pintar membodohi yang bodoh, yang kuat menindas yang miskin. Kezaliman menggurita, keadilan tersudut, terpojok, dan termarginalkan.

Marilah kita resapi taujih nabawi berikut, dalam salah satu sabdanya, sebagai bekal untuk menata ulang negeri kita.

الدّنيَا بستان تزيّنَتْ بِخَمْسة اَشْياء : عِلْمُ العُلماءِ وَعَدلِ الاُمراءِ وَعبادةِ العُبّادِ واَمانةِ التّجّارِ ونَصِيحَة المُحْتَرفِين

Dunia ini adalah bagaikan satu kebun yang dihiasi dengan lima macam perhiasan :

  1. Ilmunya ulama dan cerdik pandai
  2. Keadilan para pemimpin
  3. Kedisiplinan ibadahhamba-hamba Allah
  4. Kejujuran para saudagar
  5. Ketaatan kaum profesional pada aturan
  • فَجاءَ اِبلِيسُ بِخَمْسةِ اَعْلامٍ واقامَها بِجنْب هذِه الخمْس : فَجاءَ بِالحَسَد فرَكّزه بجنْب العِلم وجاء بالجُور فركّزه بِجَنب العَدل وجاء بالرِّباء فركّزه بِجَنب العِبادَة وجاء بالخِيانة فرَكّزه بجنْب الاَمانة وجَاء بالغِشّ فرَكّزه بجنْبِ النّصِيْحَةِ

Maka datanglah iblis dengan lima macam bendera: Bendera hasad ditanamkannya disamping ilmu para ulama. Bendera kezaliman dipancangkannya di sebelah keadilan para pemimpin. Bendera riya dikibarkannya di sebelah ibadah para ahli ibadah. Bendera khianat disisipkannya di sebelah amanah pebisnis. Dan bendera ingkar dipasangkannya di sebelah ketundukan kaum profesional.

Ust Sholeh Hasyim
(Disadur dari naskah Idul Adha 1443 Hijriyah)