Teladan Semangat Ulama dalam Menuntut Ilmu

MUHAMMAD bin Ismail At-Thoiqh berkata : aku bekerja sebagai tukang emas bersama ayahku di Baghdad. Tiba-tiba terlihat Ahmad bin Hanbal berlari-lari sementara sandalnya ia pegang di tangan. Lalu ayahku berganti baju dan berkata :”wahai Abi Abdillah, kenapa engkau tidak malu, sampai kapan engkau terus berlari-lari belajar hadits? Ia menjawab: “sampai mati” 1)

Umar bin Khotob berkata :”jika seseorang keluar dari rumahnya dengan membawa dosa sebesar gunung Tihamah, lalu ia mendengar ilmu, ia takut dan bertaubat maka ia pulang ke rumahnya dalam keadaan tidak berdosa. Oleh karena itu jangan tinggalkan majlis para ulama’ 2)

Di kalangan sahabat nabi, Abu Bakar merupakan sosok yang sangat mulia, mengapa? Sebagaimana diketahui bahwa di kalangan umat ini ada orang yang lebih banyak sholatnya, lebih banyak amalnya, sedekahnya, puasa, hajji, bacaan qur’annya dari pada Abu Bakar. Sampai Abu Bakar bin Ayyash berkata: “Abu bAkar tidaklah mengungguli kalian denagn puasa dan sholat yang banyak. Namun ia mengungguli kalian dengan sesuatu yang menetap di dalam hatinya (ilmu). 3)

Umar bin abdul karim Ar-Rowasi pergi menuntut ilmu , mendengarkan ilmu dari 3.600 guru. Dan dalam salah satu perjalannya, sebagian jemarinya jatuh karena sangat dingin dan salju. Dan bersamanya tidak ada panas saat itu. 4)

Muhammad bin Abi Hatim berkata pula, aku berkunjung Kepada Adam bin Abi Ilyas, bekalku ketinggalan hingga aku memakan rerumputan dsn aku tidak mengabarksn apapun hal tersebut, Maka tatkala di hari ketiga datang seseorang yang belum kukenal kepadaku, dia memberikan sebungkus dinar seraya berkata : belanjakan ini untukmu” 5)

Al Imam al Hafidh Muhammad bin Thohir Al-Maqdisi berangkat menuntut ilmu dan diantara perkataannya yang menggambarkan kondisinya di tengah perjalannya: “saya pernah kencing darah dalam mencari hadits sebanyak 2 kali, sekali di Baghdad dan sekali di Makkah, hal tersebut terjadi karena saya berjalan tanpa als kaki dalam perjalannku untuk mencari hadts dalam cuaca yang sangat panas terik matahari membakar, maka hal itu memebri implikasi kepada tubuhku hingga aku kencing darah. Aku tidak pernah menunggang binatang dalam mencari hadits kecuali sekali. Aku selalu membawa buku-bukuku di atas puggungkudi tengah perjalanan, hingga akumenetap di suatu daerah dan aku tidak pernah meminta harta kepada seorang manusia di saat aku menuntit ilmu, dan aku hidup di atas rizki yang diberikan Allah kepadaku tanpa meminta kepada orang” 6)

Apabila seorang musafir menyimpang jalan, dan terdengkur sepanjang malam di tempat persinggahan, kapan bisa sampai di tempat tujuan? 7)

Keberhasilan hanya didapat dengan kesungguhan dan kesungguhan berpangkal dari sifat malas, tegaklah, niscaya didapatkan puncak cita-cita dalam waktu dekat.

Yahya bin Ma’in berkata : Aku pergi ke Shon’a bersama Ahmad bin Hanbal untuk mendengar hadits dari imam negeri Yaman, Abdurrozak bin Hammam as-Shon’any. Di saat musim hajji aku bertemu dengan belaiau maka beliau mendoakan Imam Ahmad atas kebaikannya. Setelah menunaikan Hajji keduanya (Yahya bn Main an imam ahmad) pergi lagi belajar ke Yaman. Imam ahmad kehabisan bekal. Namun beliau menolak pemberian manusia, dengan terus membuat ikan pinggang dan makan dari hasil penjualannya” 8)

Menjaga Waktu

Baqi bin Makhlad berangkat dari Andalusia ke Bagdad dengan berjalan kaki. Al-Qodhi Ibnu ‘iyad menyebutkan bahwa Abul walid al Baji dalam keadaan faqir hingga ditengah perjalannya ia bekerja menyewakan dirinya sebagai penjaga pintu gerbang.

Dia menggunakan upah dari menjaga tersebut untuk biaya membanti menuntut ilmu dan engan bantuan lampu-lampu pintu gerbang itu untuk membaca dan muthola’ahmaka Allah memberikan sebagian karunianya kepadanya 9)

Sungguh aneh, engkau mengharapkan kemulian namun tidur sja di malam hari. Orang yang mencari permata haruslah menyelam terlebih dahulu.

Abu Al-Fadl bin Bunyaman berkata : “aku melihat Abul ‘a’la al hamadzani di slalh satu masjid Baghdad sedang menulis sambil berdiri karena lampu-pampu tersebut yang letaknya tinggi” 10)

Imam Ahmad berkata : Aku bepergian dalam rangka menuntut ilmu dan sunnah sampai ke teluk-teluk, wilayah-wilayah Syam, pesisir Marokko, pantai Aljazair, Makkah, Madinah, Hijaz, Yaman, seluruh wilayah Iraq, Persia, Khurosan, gunung-gunung, tepi-tepi dan bagdad.11)

Al-Warraq berkata tentang Imam Bukhori, “apabila saya bersama Abu Abdillah di dalam perjalanan yang mengumpulkan kami, aku melihatnya berdiri dalam satu malam lebih banyak dari 15 kalihigga dua puluh kali. Dia sering menyalakan lampu dengan korek apidan dia menutupi api dengan tangnnya, serta ia membaca hadits-hadits. 12)

Imam Bukhori terjaga dari tidurnya pada suatu malam, maka ia menyalakan lampunya dan menulis faedah, kemudian memadamkannya kembali. Kemudian bangun lagi di saat lain dan yang lain lagi.sehingga dihitung dalam satu ,alam hamper 20 kali. 13)

Siapa yang sadar bahwa dunia ini adalah perlombaan untuk menadpatkan kemuliaan, sungguh setiap naik kedudukan dalm bidang ilmu dan amal niscaya bertambahlah kedudukannya di negeri pembalasan. Maka dia akan memanfaatkan waktunya, dan tidak akan menyia-nyiakannya walau hanya kekedip mata, serta tidak meninggalkan keutamaan yang bisa ia dapat melainkan dia mendapatkannya. 14)

Waki’ bin Jarrah, apabila selesai sholat ‘Isyak ia berpaling bersama Imam Ahmad. Maka berdiri di depan pintu , mereka melakukan mudzakaroh tentang hadits. Keduanya melakukan mudzakaroh hingga datanglah jariyah seraya mengatakan: “bintang te;ah tampak’ 15)

Barang siapa yang ketinggian sebagai cita-cita dirinya, maka segala hal yang ditemui amatlah ia sukai.

Ibnu Jauzi berkata dalam kitabnya Shoid al-Khothir: di masa kecil aku mengambil roti kering karwena aku keluar mencari hadits, aku duduk di atas sungai Isa di Baghdad aku makan kue dengan air, setiap aku makan sesuap akupun langsung minum. Inti sari cita-citaku tidk bis asilihat kecuali nikmatnya mendapattkan hadits. Maka nafasku berhenti karena berlari agar tidak didahului orang. Di pagi hari tidak ada makanan padaku, di sore hari demikian pula. Namun Allah tidak pernah menghinakanku pada makhluk (dengan memintta-minta).

Ahmad bin Hanbal pernah suatu ketika melaksanakan sholat bersama Abdur-rozak . abdurrozak bertanya kepadanya tentang penyebab kelupaannya. Ahmad berkata : ”aku tidak perrnah merasakan makanan sejak 3 hari yang lalu”. Cerita ini terjadi saat perjalanan I. Ahmad ke Yaman dalam menuntut ilmu. 16)

Hajjaj bin Assya’ir berkata : ibuku menyiapkan 100 biji roti dan meletakkan di geriba, aku turun ke Syababah di Mada’in. aku merendam roti di sungai Daljah dan memakannya. 17)

Ibnu ‘Asakir menyebutkan dalam kitabnya tabyin al-Kadzib al-Muftari dalam biografi Muhammad bun al0AHusain an-Naisaburi: bahwa dia menggantung pelajarannya, mempelajari kitab-kitabnya dan membacanya di remah-remang cahaya bulan. Karena is orsng ysng fakir tidak mampu membali minyak guna menyalakan lampu denganya. Kendati demikian ia tidak pernah harta syubhat sedikitpun juga.

Imam As-Syafi’I berkata : Kefakiran ulama adalah kefakiran yang dipilih sedangkan Kefakiran orang-orang bodoh adalah kefakiran karena terpaksa.

Ibnu jauzi berkata : aku merenugkan suatu keanehan yaitu bahwa segala sesuatu yang mahal serta oenting jalannya pasti panjang dan banyak kesusahan dalam mendaptkannya. Sungguh ilmu yang merupakan suatu yang mulia niscaya tidak bisa diperoleh kecuali dengan kepayahan, tidak tidur di malam hari, mengulang-ulang, menghafal meninggalkan kenikmatan dan istirahat. Sehingga sebagaian ahli fiqh berkata : aku tinggal selama bertahun-thun ingin makan harishah (bubur dan daging yang ditumbuk halus) dan aku tidak bisa karena saat menjualnya adalah saat mendengar pelajaran’

Al-hasan berkata : seorang yang benar-benar menuntut ilmu maka tidak lama akan bisa dilihat hal tersebut pada khusuk dan petunjuknya. Di lisan, penglohatan dan kebaikannya” 18) Imam Ahmad berkata “aku tidak pernah menulis hadits kecuali stelah menga,alkannya. Sehingga ad ahadits yang menjelaskan bahwa nabi berbekam dan memberikan ssatu dinar kepada Abu Thoibah, akupun memberikan kepada tukang bekam 1 dinar ketika berbekam” 19)

Dari Abu Salamah al-Khuza’I berkata : apabila imam Malik ingin keluar dari rumah meriwayatkan hadits, dia berwudhu, menegenakan pakaian terbaik, menyisir jenggotnya. Orang bertanya tentang tentang hal itu, beliau menjawab: “aku menghormati hadits rosulullah”. 20)

Dari Ma’an bin Isaia berkata : apabila Malik ingin duduk membacaka hadits/meriwayatkannya ia mandi, memakai minyak wangi, dan erpakaian yang bagus. Jika ada seseorang rebut meninggikan suara di majlisnya ia berkata , allah berfirman: (Al-Hujurat:2). Barabg siapa yang meninggikan suara saat dibacakan hadits rosulullah maka ia seakan-akan meninggikan suaranya di atas suara rosulullah”. 21)

Imam Malik berkata : “meninggalkan maksiyat adalah yang benar0benar baik untuk hafalan”.

As-Syafi’I berkata :
(aku mengeluh kepda Waki’ tentang buruknya hafalanku
Maka ia memebrikan petunjuk kepadaku agar meninggalkan maksiyat,
Karena sesungguhnya ilmu itu cahaya
Dan cahaya tidak diberikan kepada pelaku maksiyat. 22)
Waki’ berkata :”bantulah (untuk menguatkan) hafalan dengan menunggalkan maksiyat” 23)

Sa’id bin Jubair berkata :terkadang aku mendatangi Ibnu Abbas, aku menulis dikertasku hingga penuh isinya. Aku mwenulis di sandalku, di telapak tanganku.dan kadang aku dating kepadanya dan tidak menulisa satu haditspun sampai aku pulang. Dan tidak ada seorangpun yang bertanya kepadanya tentang sesuatu” 24)

Tatkala Imam Malik mau mengarang Al-Muwattho’ ada yang berkomentar: Bukankah para ulama telah mengarang banyak Muwattho’? ia berkata: “apa yang ada pada sisi Allah, ia akan kekal”Ketika Yahya bin Ma’in ditanya: paakh seseorang boleh emberikan fatwa apabila telah half 100.000 hadits?dia berkata :tidak. 200.000 hadits? Ia berkata :tidak. 300.000 hadits? Ia berkata: tidak. 500.000 hadits? Ia berkata : aku harap demikian. Dan ia memahaminya, memguasai hokum-hukumnya. Inilah alim yang disebut dengan sebenarnya.”

Di antara penghormatan yang luar biasa kepada para ulama’ adalah bahwa anak-anak kholifah menyiapkan sepatu orang alim manakal ia ingin pulang. Al-Farra’ mengajar dan mendidik anak kholifah al-makmun.

Pada suatu hari saat Al-Farra’ hendak pulang maka kedua anak kholifah berlomba dan ingin bertengkar siapa yang dahulu menyiapkan sandalnya. Kemudian keduanya berdamai dengan setiap masing-masing darinya menyiapkan satu sandal.

Mu’ad bin Jabal berkata : “ belajarlah ilmu, sesungguhnya mempeljarinya adalah kebaikan, menunututnya ibadah…….” 25)

Ahmad bin Hanbal berkata :”manusia membutuhkan roti dan air, karena ilmu dibutuhkan setiao saat. Sedangkan roti da air dibutuhkan setiap hari sekali ataupun dua kali” 26)

Ahmad bin Hanbal berkata :”manusia lebih membutuhkan ilmu dari pada makanan dan minuman. Karena seseorang kadang membutuhkan makanan setiap hari sekali ataupun dua kali. Adapu kebutuhannya terhadap ilmu adalah sejumlah bilangan nafasnya” 27)

Menghormati Ulama

Al-hasan berkata : “kalau bukan karena ulama, niscaya manusia ini bagaikan binatang” 28)

Setiap bahaya yang menimpa seseorang dalam perkara dunia atau akhiratnya penyebabnya adalah jahil. Karena alas an inilah , Allah mengabarkan bahwa orang-orang bodoh adalah binatang yang paling bejat;

“sesungguhnya binatang yang seburuk-buruknya di sisi Allah adalah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak ngerti apa-apa” (Al-Anfal: 22). 29)

Syaikhul Islam berkata : apabila seseorang telah dididik oleh seorang guru niscaya dia mengetahui cara berbuat baik dan berterima kasih kepadanya” 30)

Imam Malik berkata :” wahai anak saudaraku (kepada seorang pemuda Quraisy) belajarlah akhlaq sebelum belajar ilmu” 31)

Ar-Robi’ bin Sulaiman berkata : “demi Allah, saya tidak berani minum air, sedangkan imam Syafi’I memendang kepadaku, karena wibawanya. Sebagai bentuk penghormatan” 32)

Ulama adalah pelita zaman. Setiap orang alim adalah lampu penerang di masanya. Orang-orang yang hidup semasanya mengambil cahaya darinya. Jadilah lampu hidup di masamu. Bahkan lampu rumahmu dan lampu dirimu” 33)

Ust Mardiansyah, pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Bontang, Kaltim

Maroji’ :

1) (Al-‘ilmu, Ibnu Qoyim aljauziyah, 63).
2) (Al-‘ilmu, Ibnu Qoyim aljauziyah, 63).
3) (Al-‘ilmu, Ibnu Qoyim aljauziyah, 63).
4) (Tadzkiirul Huffadz 4/1237 dengan ringkas).
5) (At-Thobaqot al Kubro as Subki 2/227)
6) (Tadzkirotul Huffadz 4/1243)
7) (Al-fawaid : 131)
8 (manhaj Imam Ahmad, fi tarjamah Imam Ahmad 9/393)
9) (Tartib al Madarik 4/804)
10) (Tadzkirotul Huffadz 3/915)
11 (manaqib Imam Ahmad hal 25, al Bidayah wan-Nihayah 10/336)
12) ( Tarikh Baghdad 2/13)
13) (al-Bidayah wan-Nihayah).
14) (Al-Adab as-Syari’ah 1/241)
15) (al-jami’ li akhlaq ar_Rowi karya Khotin al-Baghdadi hal 2).
16) (Tobaqot al hanabilah 1/97)
17) (As-Siyar 12/302)(Thobaqot al-hanabilah hal 148)
18) (Az-Zuhd li Ahmad hal 228)
19) (As-Siyar 11/213)
20) (tahdzib al-asma’ wal-Lughoh 2/76).
21) ((tahdzib al-asma’ wal-Lughoh 2/76).
22) (Al-Jawab al-kafi al 98).
23) (Roudhah al-“uqola’ hal 29)
24) (As-siyar 4/335).
25) (tanbiihul Ghofilin, 2/46).
26) (Syadzarat adz-Dzahab, 2/176)
27) (Tadzhib Madarijus salikin).
28) (Al-fawaid: 193)
29) (Al-Anfal: 22).
30) (majmu’ fatawa: 28/17).
31) (Hilayah al’auliya’ 6/330)
32) (Tadzkirotul Huffadz 1/249)
33) (Tanbighul ghofilin, 2/468)