Mewaspadai 6 Tingkatan Godaan Syetan

SYETAN telah bersumpah akan menggoda seluruh anak Adam. Ia bertekad menggoda manusia dari depan, belakang, kanan, dan kiri, sehingga sebagian besar mereka tidak bersyukur kepada Allah (lihat: Qs. al-A’raf: 16-17). Oleh karena itu, Allah berkali-kali menegaskan bahwa syetan adalah musuh yang nyata bagi manusia, dan permusuhannya tidak bisa dianggap enteng.

Seorang ulama’ besar di abad VII Hijriyah, yakni Ibnul Qayyim al-Jauziyah, kemudian meneliti masalah ini dan menemukan bahwa godaan syetan itu bertingkat-tingkat. Syetan takkan berhenti pada satu macam godaan, sampai berhasil mendapatkan “bagian” dari diri seseorang, entah sedikit maupun banyak.

Dalam kitab Badai’ul Fawa’id, Ibnul Qayyim menyatakan bahwa rayuan syetan itu bisa dikategorikan dalam enam jenis. Seorang manusia pasti terkena salah satunya atau lebih. Menurut beliau, godaan ini bertingkat-tingkat; dimana yang pertama adalah yang terburuk dan sangat jelas, sementara yang terakhir merupakan godaan paling halus dan kebanyakan manusia tidak menyadarinya.

Bila gagal pada satu level tertentu, ia akan menurunkan godaannya pada level yang lebih rendah. Demikian seterusnya sampai berhasil. Apa sajakah godaan-godaan itu? Mari kita kaji satu persatu.

Pertama, keburukan berupa kufur, syirik, dan memusuhi Allah dan Rasul-Nya. Inilah yang paling syetan harapkan dari seorang hamba. Jika ia berhasil menyesatkan seseorang sehingga menjadi kafir dan musyrik, redalah rintihannya dan ia bisa beristirahat. Sebab, manusia itu kini telah menjadi pengikutnya, dan akan mewakilinya menggoda sesama manusia. Kelak, orang-orang seperti ini akan menemaninya kekal di neraka. Na’udzu billah.

Kedua, keburukan berupa bid’ah. Bila syetan melihat keteguhan iman seseorang, ia akan menurunkan godaannya kepada level kedua, yaitu amalan-amalan bid’ah. Syetan lebih senang mendahulukan bid’ah dibanding kefasikan dan maksiat, sebab pelaku bid’ah selalu merasa benar sehingga tidak akan bertaubat, padahal amalnya keliru dan bertentangan dengan ajaran Rasulullah.

Sementara, orang bermaksiat bisa jadi karena lalai atau tidak tahu, sehingga tatkala pelakunya sadar atau diberi ilmu, ia lebih mudah diluruskan. Amalan-amalan bid’ah itu sia-sia, walaupun pelakunya menyangka telah melakukan amal shalih sebaik-baiknya.

Ketiga, dosa-dosa besar. Bila seseorang termasuk teguh memegang Sunnah dan tegas terhadap bid’ah, syetan pasti sangat ingin menjatuhkannya ke dalam dosa besar, dengan berbagai ragam dan bentuknya; apalagi jika orang itu termasuk ulama’ terpandang dan memiliki banyak pengikut.

Syetan sangat membenci para ulama’, sebab mereka amat sulit digoda dan gemar menasehati umat. Bila ulama’ ini terjerumus, syetan segera mendorong sebagian orang untuk menyebarluaskan aib-aibnya, sehingga sang ulama’ ditinggalkan umat. Maka, berkuranglah satu musuhnya yang paling ulet.

Sayangnya, mereka yang suka menyebarkan aib sang ulama’ ini tidak sadar telah dipergunakan syetan untuk memuluskan agendanya, yakni menjauhkan umat dari ulama’. Berhati-hatilah dalam masalah ini.

Keempat, dosa-dosa kecil. Jika dosa-dosa besar tidak bisa ditancapkan, syetan akan merayu manusia dengan dosa-dosa kecil. Syetan membuatnya lalai sehingga dosa-dosa kecilnya menggunung, lalu mebuatnya binasa.

Rasulullah membuat ibarat untuk tumpukan dosa kecil ini. Ada sekelompok orang berjalan di gurun. Ketika malam menjelang dan mereka ingin menyalakan api, masing-masing orang menyebar untuk mencari kayu. Satu demi satu kemudian kembali dengan sebatang ranting di tangannya.

Sekarang, setelah terkumpul semuanya, ia tidak lagi terlihat sebagai ranting-ranting kecil, namun setumpuk kayu bakar yang cukup untuk menghangatkan rombongan itu semalaman. Begitu pulalah dosa kecil yang ditumpuk-tumpuk.

Kelima, sibuk menekuni perkara mubah, yakni persoalan-persoalan yang tidak berdosa sekaligus tidak berpahala. Namun, secara halus syetan membuatnya sibuk dengan hal ini sehingga tidak sempat melakukan kebaikan yang berpahala. Misalnya, menonton siaran sepakbola di tengah malam, padahal saat itu merupakan waktu terbaik untuk shalat lail. Maka, sia-sialah waktu yang dimilikinya dalam aktifitas yang tidak bermanfaat, sekaligus kehilangan peluang pahala.

Oleh karenanya, Rasulullah bersabda, “Diantara tanda bagusnya keislaman seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak penting baginya.” (Riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah. Hadits shahih).

Keenam, bila syetan melihat seseorang sangat ketat memanfaatkan waktunya dan tahu betul nilai dari setiap hembusan nafasnya, maka ia akan menggodanya dengan godaan yang paling halus dan sangat sukar disadari, yaitu melakukan sesuatu yang lebih rendah dengan meninggalkan yang lebih utama.

Ketika seseorang sibuk dengan amalan yang rendah padahal ada peluang amalan lain yang lebih tinggi, secara lahir ia memang tidak bermaksiat, akan tetapi sebenarnya ia telah merugi. Oleh karenanya, kita diajari untuk memahami prioritas amal dan bisa menempatkan segala sesuatu secara proporsional.

Sebab, syetan bisa menampakkan 70 pintu kebaikan padahal seluruhnya berujung pada satu keburukan, atau berakhir dengan melalaikan satu kebaikan lain yang sebenarnya jauh lebih utama dibanding 70 kebaikan tersebut sekaligus.

Sungguh, ini adalah jaring-jaring godaan yang sangat rapat dan sulit ditembus. Oleh karenanya, kita diajari untuk selalu memohon perlindungan kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk. Ya, Allah lindungilah kami semua! Amin. Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar