Beriman kepada yang Ghaib

AL-QUR’AN menyatakan bahwa diantara ciri orang bertakwa adalah beriman kepada yang ghaib, sebagaimana disitir oleh ayat-ayat permulaan surah al-Baqarah. Ketika menafsirkannya, Imam Ibnu Katsir menyatakan bahwa ada banyak sekali pernyataan ulama’ Salaf tentang makna “beriman kepada yang ghaib” ini. Meskipun demikian, seluruhnya benar dan merujuk kepada satu inti yang sama.

Sebagian besar pernyataan mereka merujuk kepada hal-hal yang tidak bisa kita saksikan di dunia ini, seperti surga dan neraka; atau tidak bisa kita mengerti hakikatnya dengan pasti, seperti masalah takdir. Namun, ada satu lagi penafsiran mereka yang unik, dan biasanya jarang disitir. Apakah itu?

Suatu ketika, sekelompok orang berbincang-bincang di dekat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Mereka membicarakan para Sahabat Rasulullah dan keimanan mereka. Maka, Ibnu Mas’ud pun berkata, “Sungguh, persoalan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah persoalan yang sangat jelas bagi siapa saja yang pernah berjumpa dengan beliau. Demi Dzat yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain-Nya, tidak seorang mukmin pun yang beriman dengan satu keimanan yang lebih utama dibanding beriman dengan cara ghaib.” Beliau kemudian membaca permulaan surah al-Baqarah. (Riwayat Sa’id bin Manshur. Hadits hasan li ghairihi).

Disini, yang dimaksud “beriman dengan cara ghaib” adalah mengimani Rasulullah padahal tidak pernah berjumpa dengan beliau. Memang benar, bagi kita yang hidup di zaman ini, atau siapa saja yang menjadi muslim tanpa pernah menjumpai Rasulullah, maka sudah termasuk beriman kepada yang ghaib. Bukankah Rasulullah adalah seseorang yang “ghaib” bagi kita sekarang (karena beliau telah lama wafat)?

Dulu, di zaman Sahabat, Rasulullah hidup diantara mereka, sehingga keimanan kepada beliau tidak termasuk mengimani perkara ghaib. Selain itu, wahyu dan mukjizat turun di depan mata, sementara segenap bukti kenabian pun bisa disaksikan secara langsung. Bila ditilik dari sisi ini, sebenarnya lebih mudah mengimani beliau.

Oleh karenanya, beriman kepada beliau di zaman ini, yakni beriman dengan cara ghaib, bisa menjadi amal yang sangat utama dan nilai pahalanya bahkan lebih besar dibanding keimanan para Sahabat Rasulullah sendiri. Mempercayai sesuatu yang tidak bisa dilihat adalah satu kesulitan tersendiri, sedangkan menjaganya agar tetap eksis merupakan kesulitan lainnya.

Tentang hal ini, terdapat sebuah hadits yang disitir oleh Ibnu Katsir dari Ibnu Marduwaih, bahwa Abu Jum’ah al-Anshari radhiyallahu ‘anhu (seorang Sahabat) datang ke Baitul Maqdis untuk mengerjakan shalat disana. Setelah rampung, beberapa orang mengiringi beliau keluar dari masjid, termasuk Raja’ bin Haywah.

Abu Jum’ah kemudian berkata, “Kalian berhak mendapatkan hadiah. Akan aku ceritakan kepada kalian sebuah hadits yang pernah aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Orang-orang pun berkata, “Ceritakanlah (hadits itu), semoga Allah merahmati Anda!” Beliau berkata, “Kami pernah bersama Rasulullah, dan Mu’adz bin Jabal adalah orang kesepuluh diantara kami. Kami kemudian berkata: ‘Wahai Rasulullah, adakah kaum yang lebih besar pahalanya dibanding kami? Kami beriman kepadamu dan juga mengikutimu.’ Beliau menjawab, “Apa yang menghalangi kalian untuk itu, sedangkan utusan Allah ada di tengah-tengah kalian membawakan wahyu dari langit untuk kalian? Akan tetapi, kaum yang datang sesudah kalian, dimana Kitab datang kepada mereka diantara dua lembaran (sampul), mereka mengimaninya dan mengamalkan isinya, mereka itu lebih besar pahalanya dibanding kalian.” Beliau mengucapkannya dua kali.

Hadits ini mempunyai penguat dari jalur lain yang shahih, juga bersumber dari Abu Jum’ah. Diceritakan bahwa pada suatu hari para Sahabat makan bersama Rasulullah, dan Abu ‘Ubaidah bin Jarrah radhiyallahu ‘anhu ada diantara mereka. Ia bertanya, “Wahai Rasulullah, adakah seseorang yang lebih baik dari kami? Kami masuk Islam dan berjihad bersama Anda.” Beliau menjawab, “Ya, ada. Mereka adalah kaum yang hidup sesudah kalian, yang beriman kepadaku walaupun tidak melihatku.” (Riwayat Darimi, Ahmad, dan al-Hakim).

Tidakkah kita bergembira dengan hadits ini? Ya, kita sangat pantas bergembira karenanya. Bayangkan, kita bisa mendapatkan pahala melebihi para Sahabat! Tentu saja, untuk mendapatkannya, kita harus memenuhi syarat-syaratnya, sebagaimana disitir oleh hadits-hadits itu sendiri. Syarat pertama adalah beriman kepada Rasulullah, dan ini harus dibuktikan dengan mengikuti serta mengamalkan Sunnahnya.

Syarat kedua adalah beriman kepada Al-Qur’an, bahwa ia benar-benar Kalam Allah yang diwahyukan kepada beliau sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia. Dan, syarat ketiga adalah mengamalkan isi kandungannya, semaksimal kemampuan yang dimiliki.

Jika dicermati lebih jauh, ketiga syarat di atas pada dasarnya merefleksikan pesan yang dikandung oleh sebuah hadits lainnya: “Aku meninggalkan di tengah-tengah kalian dua perkara. Kalian tidak akan tersesat selama selalu berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (Riwayat Malik dalam al-Muwatha’).

Demikianlah, hadits-hadits Nabi terangkai satu sama lain dengan kokoh. Rupa-rupanya, tidak ada jalan lain bagi kita untuk selamat di dunia dan akhirat selain berpegang teguh kepada keduanya. Sebagaimana ditunjukkan disini, salah satu makna “beriman kepada yang ghaib” pun ternyata berujung kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar