Ust Jamaluddin Nur Ingatkan 3 Bekal Harus Dimiliki Kader Dai Hidayatullah

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Ketua Departemen Hubungan Antar Lembaga (HAL) DPP Hidayatullah Ust H. Jamaluddin Nur mengingatkan 3 hal yang harus menjadi bekal dan diinternalisasi bagi setiap kader dai untuk membangun militansi dan keandalan di dalam setiap medan dakwah. Ketiga hal tersebut adalah tilawah, tazkiyah dan taklimah.

Hal itu disampaikan Ust Jamaluddin saat memberikan sambutan dalam acara Sidang Senat Terbuka pada acara Yudisium Sarjana Angkatan Pertama yang berlangsung khidmat di Aula Serbaguna Gedung Hidayatullah Asia Raya, Kampus 2 Putri, Kampus Utama Hidayatullah, Tanjung Uncang, Batu Aji, Batam, Kepulauan Riau, Sabtu (20/3/2021).

Ketua Badan Pembina Kampus Utama Hidayatullah Batam ini memberikan taujih penguatan bagi paracalon wisudawan wisudawati yang baru saja resmi menyandang gelar kesarjanaannya.

Di hadapan ratusan para audiens yang berasal dari seluruh wilayah Indonesia tersebut, Jamaluddin menegaskan kembali tentang proses perkaderan yang ada di Hidayatullah. Menurutnya, ada tiga proses yang harus dijalani seorang kader agar menjadi kader yang tangguh dan militan.

“Pertama, kader harus memproses diri dengan tilawah. Banyak membaca al-Qur’an. Mengkajinya dengan sungguh-sungguh agar melahirkan ide dan gagasan baru. Ditadabburi. Serta membaca juga fenomena alam yang terjadi. Itu semua proses tilawah,” ujarnya dengan menyebut Surah al-Jumu’ah ayat dua.

Tahapan kedua selanjutnya bagi seorang kader, lanjutnya, yaitu tazkiyah, penyucian jiwa. Bagaimana kita ini tampil kepada umat karena punya jiwa-jiwa yang bersih. Punya mental yang kuat. Hal tersebut mesti melalui internalisasi jiwa kader.

“Ternyata, internalisasi tersebut adanya di Surah al-Muzzammil, dengan tujuh azimatnya. Itulah makanya muncul GNH, Gerakan Nawafil Hidayatullah,” tambahnya.

Bekal Ketiga, masih menurut Jamal Nur, adalah proses taklim, yaitu tradisi intelektual. Hal ini, kata dia, adalah mutlak keilmuan. Kalau perlu, sudah diupayakan agar memiliki perpustakaan digital. Siapa pun yang datang, katanya lagi, datang untuk membaca. ia datang melakukan proses taklim, proses keilmuan.

“Bisa dibayangkan, rohaninya bagus, intelektualnya juga oke, apa tidak menjadi kader yang luar biasa handal dan militan,” tegas dai yang pernah mengenyam pendidikan di Kampus Induk Ummul Quro, Hidayatullah Gunung Tembak ini.

Inilah harapan dan tantangan besar bagi para sarjana ini, tambahnya lagi, agar proses tranformasi nilai nilai manhaj kepada para kader muda ini terus berjalan.

“Selamat berjuang para sarjana kader, terus berkarya dengan ilmu yang telah didapat,” tandas dai yang pernah tugas di Padang, Sumatera Barat dan Aceh ini.

Yudisium Sarjana untuk angkatan pertama STIT Hidayatullah Batam ini, menetapkan Dewan Senat, yang terdiri dari Ketua Badan Pembina Yayasan, H.Jamaluddin Nur, Ketua Badan Pengurus Yayasan Khoirul Amri, Kabid Dikti M.Sidik, Ketua STIT Hidayatullah Batam, Mohammad Ramli dan Wakil Bidang Akademik Muji.

Turut hadir anggota Dewan Mudzakarah (DM) Hidayatullah, Ust Ir. Khairil Baits, Kepala Bidang Pendidikan Tinggi (Kabid Dikti), M.Sidik, sekaligus Rektor Institut Agama Islam Abdullah Said Batam, para dosen, tamu undangan, dan peserta yudisium sarjana yang memadati hallroom tempat acara.

Untuk diketahui juga, bahwa di Kampus Utama Hidayatullah Batam kini telah memiliki tiga perguruan tinggi; STIT Hidayatullah Batam, Institut Agama Islam Abdullah Said Batam, dan STIT Mumtaz Karimun, Kepulauan Riau.*/Azhari