Membaca Catatan Harian Abba, Resonansi Milad Hidayatullah ke-50

Oleh Mujahid M. Salbu*

SAAT tiba di Batam sekitar enam bulan lalu dan membongkar barang bawaan dari Balikpapan, ternyata terselip buku catatan harian Abba (ayahanda) Rahimahullah, dua buku catatan harian itu tahun 1982 dan tahun 1999.

Buku agenda harian itu semacam diorama dengan resonansi yang mengesankan karena merefleksikan aktivitas sekumpulan pemuda yang memiliki cita-cita besar membangun kampus sebagai wadah menghadirkan Islam yang indah (ilmiah, alamiah dan islamiyah).

Mereka datang dari penjuru nusantara, meninggalkan kehidupan yang sudah nyaman; sebagai guru, karyawan di perusahaan minyak, pedagang, dan lainnya.

Di Gunung Tembak, atas ajakan ustadz Abdullah Said Rahimahullah, mereka menjalani kehidupan penuh perjuangan; tempat tinggal dan makanan seadanya.

Jika ada waktu senggang, saya membaca kembali catatan yang ditulis tangan. Kebiasaan Abba sejak dulu mencatat setiap kejadian, termasuk yang biasa-biasa, misalnya saat beliau pulang dari Karang Bugis, mampir membeli ikan bandeng dan majalah Tempo, harian Kompas, Manuntung, dll, termasuk mampir membeli ikan bandeng lengkap dengan harganya dicatat.

Ini pula yang akhirnya menjadi oleh-oleh terindah buat kami yang masih bocah; majalah Tempo dan harian Kompas, dulu kalau hari Jumat, Kompas menyediakan bonus tabloid Bola. Kadang juga membawa buku-buku terbaru.

Selain itu beliau juga mencatat yang terbilang penting; merangkum materi pembicaraan ketika Ustadz Abdullah Said Rahimahullah membrifing pengurus atau diskusi dan juga ceramah dari pimpinan dan pengurus lain.

Dari catatan harian tersebut, ternyata budaya diskusi telah tumbuh di era 80-an. Beberapa kali dibuat forum dan pengurus bergantian menjadi narasumber kemudian ada yang ditunjuk sebagai penyanggah dan juga moderator. Dalam catatan itu nama-nama yang terlibat dalam diskusi semua dicatat.

Selain aktif berdiskusi, para pengurus awal harus aktif di lapangan dan ini porsinya lebih besar. Misalnya menggali empang, mencabut tunggul, dalam pembinaan hampir semua juga terlibat, ustadz Usman Palese Rahimahullah misalnya pernah menjabat sebagai kepala asrama yang mengurusi santri. Lalu ada puang Baking Rahimahullah sebagai kepala keamanan, ustadz Wakiyo Rahimahullah sebagai kepala koperasi dan lainnya.

Seni kepemimpinan ustadz Abdullah Said, sedikit banyak terungkap di catatan harian itu, misalnya, bagaimana dalam sebuah brifing menjelang ke Jakarta, sang pemimpin berpesan agar disiapkan asupan khusus berupa telur setengah matang dan susu untuk petugas pencari kayu bakar, pertimbangannya, getaran mesin geregaji kayu atau senso bisa berdampak pada kondisi dada mereka. Sedemikian detailnya beliau memikirkan para kadernya.

Abba juga menuangkan dalam buku agendanya sebuah statement ustadz Abdullah Said dalam sebuah pertemuan, “Saya kadang menunda menegur seseorang yang melakukan kesalahan, jika saya merasa yang bersangkutan belum siap untuk ditegur.”

Perhatian dan perlakuan ustadz Abdullah Said Rahimahullah kepada para kader terdahulu yang sangat detail diungkapkan karena beliau pernah dipimpin oleh tokoh-tokoh besar dan merasa para tokoh besar itu tidak memberikan perhatian yang detail dan maksimal kepada para kadernya.

Perjalanan awal Hidayatullah ditandai dengan keterbatasan termasuk kebutuhan pokok seperti beras, hal ini terungkap lewat sebuah risalah rapat tahun 1982. Jika hari ini, di beberapa tempat Hidayatullah melalui Baitul Maal Hidayatullah (BMH) kerap membagikan beras ke warga tidak mampu.

Sebaliknya di tahun 80-an, dalam setiap rapat bulanan diatur strategi mencari beras untuk memenuhi kebutuhan warga dan santri meski sering terjadi keajaiban, tiba-tiba ada donatur yang datang membawa beras puluhan karung. Bahkan pengurus diberi target misalnya ustadz Manandring mencari beras satu karung, puang Rahman Rahimahullah dua karung dan seterusnya.

Semoga dilain kesempatan saya bisa menuangkan kembali kilas balik perjalanan Hidayatullah yang terangkum dalam catatan harian Abba sejak tahun 80-an hingga beliau wafat pada tahun 2010.

Batam, 28 Dzulhijjah 1442 H

*)Penulis adalah Sekwil DPW Hidayatullah Kepulauan Riau & anak dari almarhum Ust Mansur Salbu, salah satu perintis awal Hidayatullah yang menulis buku Sejarah Hidayatullah/ Mencetak Kader.