Luruskan Niat dalam Berdakwah untuk Dapat Bantuan Allah

BANGLI (Hidayatullah.or.id) — Setiap dai dimanapun dia berkiprah harus selalu meluruskan niatnya, karena dengan niat yang benar itulah yang akan mendatangkan pertolongan dari Allah SWT.

Demikian dikatakan dai senior Ust Ahmad Edy Purwanto. Dai yang pernah ditugaskan Hidayatullah berdakwah ke Timor Timur (Timtim) ini mengingatkan bahwa niat lurus harus selalu dijaga. Edy tugas ke Kupang sebelum referendum kemerdekaan Timor Timur yang kini menjadi Republik Demokratik Timor Leste ini,

“Jaaangan sampai salah niat. Jadi, hati hati dengan niat. (Hanya) Allah-lah tujuan kita. Insya Allah dengan niat itulah akan ada jaminan pertolongan dari Allah fiddunya wal akhir,” katanya dalam obrolan virtual dengan Hidayatullah.or.id yang ditulis, Selasa (7/9/2021).

Edy mengatakan, seorang dai harus meyakini betul firman Allah SWT dalam Al Quran surah Muhammad Ayat 7 bahwa siapa yang menolong agama Allah maka pasti akan ditolong (intansurullaaha yansurukum).

Sehingga, menurutnya, jangan ditanyakan pertolongan Allah jika sudah menolong agama Allah karena itu sudah jandi Allah, maka pasti.

“Pertanyaannya sekarang adalah, sudahkah kita menolong agama Allah. Bukan Allah butuh kita tetapi kita yang butuh Allah,” imbuh suami Uswatun Hasanah ini.

“Artinya, Islam yang rahmatan lil ‘alamiin ini tidak sekedar kita nikmati sendiri karena tujuan kita hidup di dunia ini ada dua, yaitu, satu, ibadah kepada Allah. Kedua, kita sebagai khalifah agar bagaimana rahmatan lil ‘alamiin ini bisa terbangun di lingkungan kita dan lebih luas lagi untuk masyarakat,” imbuhnya.

Dai yang pernah mensyahadatkan 66 orang suku Tengger Senduro ini pun memberikan kiat berdakwah, yakni berupaya menjadi manusia yang memberi manfaat kepada siapapun dan dimanapun berada.

“Hal ini sebagaimana pesan Nabi bahwa sebaik baik manusia adalah yang bermanfaat pada manusia lainnya. Tapi, ingat, semua itu harus didasari pada niat,” katanya.

Kini Edy Purwanto mengabdi Provinsi Bali. Tepatnya di Desa Kutuh, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Di sini ia membina juga sejumlah muallaf.

Sebelumnya ia ditugaskan merintis dakwah di Kupang bersama Ust Abdullah Azzam pada tahun 1993. Hanya sekitar 1 tahun di Kupang, ia mendapat mendapat tugas baru untuk ke Timor Timur.

Bersama sahabatnya, Ust Hanafi Martin, seorang muhtadin asli Timtim, mereka berkiprah di Bumi Lorosae tepatnya di Fatuhada. Mereka lalu mendirikan Yayasan Al Ishlah untuk membina muallaf di desa Daisua, Kecamatan Same, distrik Manufahi, Timtim Selatan.

Dakwah di daerah minoritas muslim di Timtim memang tidak mudah. Edy dan Martin pun merasakan rintangan itu. Bahkan mereka sempat harus mendekam di penjara 4 bulan. (ybh/hio)