Mohon 3 Hasanah untuk Membangun Peradaban

ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمِنْهُمْ مَّنْ يَقُولُ رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْأَاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Dan di antara mereka ada pula yang berdoa, “Ya Tuhan kami! Berilah kami di dunia kebaikan), artinya nikmat, (di akhirat kebaikan) yakni surga, (dan peliharalah kami dari siksa neraka.”) yakni dengan tidak memasukinya. Ini merupakan lukisan tentang keadaan orang-orang musyrik dan keadaan orang-orang beriman, yang tujuannya ialah supaya kita mencari dua macam kebaikan dunia dan akhirat, sebagaimana telah dijanjikan akan beroleh pahala dengan firman-Nya (QS. Al-Baqarah 2: 201).

Kalau Allah sudah mengabulkan do’a kita yaitu kebaikan di Dunia, kebaikan di Akhirat dan terhindar dari api neraka (2 : 201), lalu apa lagi yang kurang?

Yang kurang adalah kesadaran kita untuk meminta. Kebaikan dunia itu luas, tanpa batas, tak berujung dan tidak bertepi. Tak marbuthoh pada kalimat حسنة bermakna mubalaghah (superlatif, penyangatan). Seperti kalimat فريضة pada teks hadits : طلب العلم فريضة

Tapi yang kita tahu hanya kebaikan dunia dan akhirat saja. Yang sering kita minta hanya terbatas kebaikan untuk kesehatan dan rezeki yang lancar saja seakan-akan yang lain yang menjadi kepentingan ummat seperti ilmu, ekonomi, politik, militer dan anashirul quwwah (unsur-unsur kekuatan) yang lain tidak masuk dalam deretan/daftar permohonan kita.

1. Hasanah Ilmu/ Literasi

Menurut penelitian internasional, dari 70 negara, tingkat pemahaman literasi Indonesia berada di ranking yang ke – 62.

Perintah pertama itu membaca, membaca itu berilmu. Harusnya tingkat literasi ummat Islam tinggi. Komunitas Zionis sekarang, setiap kecamatan banyak yang bergelar doktor.

Bagaimana dengan Hidayatullah? Yang menjadikan surat Al Alaq sebagai manhaj? Pesantren Hidayatullah adalah cermin/ gambaran peradaban ditandai dengan tingkat literasi yang tinggi. Baca WhatsApp 5 jam kuat, baca literasi artikel 5 menit tidak kuat. Ini adalah leher-leher yang tidak berliterasi tinggi

Pesantren Hidayatullah cermin terbaik, guru gurunya teruji bukan diuji. Kita sebagai lembaga benar benar kita hajatkan transfer knowledge adalah yang utama.

Kita masih fokus menambah sarana tapi mengabaikan SDM, padahal SDM itu sangat penting. Semua gedung yang dimiliki adalah alat, operatornya adalah manusia. Karena itu minimal 5% dari dana yang dimiliki oleh yayasan dialokasikan untuk pengembangan SDM (Sumber Daya Mujahid Muttaqin).

Kalau Hidayatullah yang mengadopsi manhaj hanya begini begini saja, bahaya. Bisa mencoreng wajah mulia Islam. Jika Islam yang kita tampilkan kumuh, kotor, dan tidak disiplin akan merusak kemuliaan Islam. Ini yang katakan oleh Muhammad Abduh, “Al Islaamu Mahjuubun bil Muslim”. Islam itu tertutupi oleh perilaku kaum muslimin sendiri.

Seorang Mufti Malaysia mengatakan: “Di Mesir ada Al Azhar, pusatnya keilmuan Islam. Tapi daya tarik Mesir adalah Fir’aun bukan jasanya al Azhar yang menjadi pusat keilmuan Islam”

Prof. DR. Muh. Roem, bertanya kepada mahasiswanya: mana yang lebih baik, orang bodoh yang bertakwa atau orang pinter yang tidak bertakwa? Lalu dijawab oleh beliau: Mustahil orang yang bertakwa itu bodoh, karena ayat pertama yang turun adalah surat Al Alaq tentang Ilmu, dan tidak mungkin orang yang pinter tidak bertakwa. Karena Ilmu puncak takut pada Allah. Kalau ada orang pintar tidak takut pada Allah bukan berilmu namanya, tapi zhon (persangkaan).

Keilmuan kita sudah Hasanah apa belum? Kalau belum masukkan dalam daftar do’a kita. Rasulullah berdoa untuk ditambahi ilmu yang bermanfaat, bukan yang lain.

2. Hasanah dalam Aspek Ekonomi

Ekonomi itu penting untuk kemaslahatan ummat, kemiskinan itu berpotensi untuk menyeret ummat kepada kekafiran.

كاد الفقر ان يكون كفرا

Bagaimana kita mau berdaya sementara secara pribadi Fakir, secara lembaga fakir. Faqir fil iman wa faqir fil ilmu wa faqir fil mal.

Secara pribadi ada yang memilih menjadi fakir, tetapi lembaga jangan. Sebuah lembaga atau negara harus kaya karena berkewajiban mencukupi orang orang miskin. Melayani bangsanya. Negara harus hadir untuk fakku raqabah (mengurai problem sosial) rakyatnya (Surat Al Balad).

Padahal Allah sudah memberikan sertifikat pada surat Al Araf : 32)

(قُلۡ مَنۡ حَرَّمَ زِینَةَ ٱللَّهِ ٱلَّتِیۤ أَخۡرَجَ لِعِبَادِهِۦ وَٱلطَّیِّبَـٰتِ مِنَ ٱلرِّزۡقِۚ قُلۡ هِیَ لِلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ فِی ٱلۡحَیَوٰةِ ٱلدُّنۡیَا خَالِصَةࣰ یَوۡمَ ٱلۡقِیَـٰمَةِۗ كَذَ ٰ⁠لِكَ نُفَصِّلُ ٱلۡـَٔایَـٰتِ لِقَوۡمࣲ یَعۡلَمُونَ)

Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah disediakan untuk hamba-hamba-Nya dari rezeki yang baik-baik ? Katakanlah, “Semua itu untuk orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, dan khusus (untuk mereka saja) pada hari kiamat. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu untuk orang-orang yang mengetahui.

Kata Ibnu Katsir itu diciptakan oleh Allah untuk orang beriman meskipun orang orang kafir ikut ikutan (nebeng, Bhs Jawa).

Masalahnya ummat Islam tidak sadar kalau Allah memberikan sertifikat bahwa mereka menguasai dunia dan seisinya

Kata Prof. Yusril, dunia saat ini bukan dikendalikan oleh politisi tapi oleh oligarki. Meskipun yang populer presiden tapi disetir oleh pemilik modal. Pemodal the real penguasa.

Rasulullah itu kaya, baik sebelum menjadi nabi maupun saat menjadi nabi begitu juga para sahabat nabi merupakan orang orang kaya yang hebat.

Kata Abdullah Ibnu Mubarok ketika ditanya mengapa berbisnis? Dia mengatakan: ” Aku berbisnis untuk menjaga kehormatan ulama agar mereka tidak mudah terbeli oleh penguasa”.

Seorang kyai, seorang ustadz harus lepas dari hutang jasa dengan santrinya jangan sampai hidup dari santri. Karena itu Pesantren harus punya amal usaha dan badan usaha. Agar independen. Berdikari. Berdiri di atas kaki sendiri.

3. Hasanah Bidang Politik

Politik itu sepenting apa? Bani Israil selalu dipimpin oleh nabi, kalau nabi meninggal Allah mengutus lagi seorang nabi untuk memimpin mereka

Allah tidak menumpas kemaksiatan dengan kita membacakan Al Qur’an tapi Allah menumpas kemaksiatan dengan implementasi Al Qur’an oleh seorang penguasa. Al Qur’an itu konsep, perlu ada orang yang mengimplementasikannya yaitu Sultan atau Penguasa.

ما اعظم هذا الدبن لو كان له رجال

Alangkah agungnya agama ini jika memiliki sosok yang sepadan dengan keagungannya

Yang namanya agama dan kekuasaan itu saudara kembar.

Kata Imam Al Ghazali: “Agama dan kekuasaan itu saudara kembar. Agama adalah pondasi dan kekuasaan adalah penjaga. Sesuatu yang dibangun tanpa pondasi akan runtuh dan sesuatu yang tidak ada penjaganya akan terancam hilang atau musnah”

Kata Ibnu Taymiah: ” Penguasaan terhadap urusan manusia termasuk kewajiban besar diantara kewajiban beragama karena kemaslahatan manusia tidak akan sempurna kecuali dengan berjamaah/ berkumpul sementara kalau berjamaah harus ada yang menjadi imam atau pemimpin diantara mereka.”

Urusan agama tidak akan tegak kecuali dengan kekuasaan. Segudang kepintaran tidak ada gunanya dihadapan segenggam kekuasaan.

Hidayatullah menerapkan sistem high politic. Tidak ikut politik praktis tapi mampu mempengaruhi. Menjadi jama’atudh dhaghthi (kelompok penekan).

Jihad Kontemporer Hidayatullah, Membangun Hayatul Muslim

Jihad adalah fitrah manusia. Dalam diri manusia ada dua kekuatan yang saling kontradiktif. Tarik menarik antara potensi positif dan potensi negatif. Kekuatan fujur dan kekuatan taqwa.

Untuk memenangkan dan agar ketakwaan lebih dominasi, mustahil terjadi tanpa jihad. Kemenangan manusia atas hawa nafsunya itulah menjadikan posisi manusia dipilih menjadi khalifah fil ardhi.

Tugas khalifah di muka bumi ini adalah ‘imaratul ardhi (memakmurkan bumi ini). Agar dunia menjadi potongan firdaus. Sebagaimana yang dirasakan nabi Adam ketika hidup di surga.

Allah berfirman pada surat Thaha ayat 118.

“Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang. Dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) ditimpa panas matahari di dalamnya” (QS. Thaha (20) : 118-119 ).

Kehidupan surgawi yang digambarkan pendahulu kita menggambarkan kesuksesan terbangunya sebuah peradaban. Berkecukupan makanan (mangan wareg), sandang (sandang rapet), tidur nyenyak (turu anteng), hidup nyaman (urip kepenak), papan mapan (kediaman yang mapan).

Dan dua indikator menonjol kemakmuran negeri adalah (terhindar dari kelaparan dan terbebasnya warga dari rasa takut (Q.S. Quraisy : 4-5).

Dalam menata kehidupan islami (kampus miniatur madinah), kita berusaha untuk mengurai problem kita sendiri secara terprogram dan berkelanjutan. Dengan tahapan berikut:

Ishlahun nafsi, ishlahul bait, ishlahur ra’iyyah, ishlahul hukumah, ishlahul buldan, kaffatan linnas wa rahmatan lil alamin.

Empat Parameter Kebahagiaan

Dalam kehidupan di miniatur madinah, setiap dari kita menginginkan kebahagian. Kita berusaha dengan berbagai cara, baik siang maupun malam, untuk mewujudkan kebahagian tersebut.

Namun, kebanyakan dari kita tidak tahu dan mengerti apa sebenarnya yang menjadikan hidup kita bahagia di dunia ini. Padahal Nabi Saw. sejak dahulu sudah mengabarkan bahwa ada empat perkara yang menjadikan hidup kita bahagia.

Dalam hadits riwayat Ibnu Hibban, Nabi Saw. bersabda :

أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ : اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيُّ.

“Ada empat perkara termasuk kebahagiaan; istri yang shalihah, tempat tinggal yang lapang, teman atau tetangga yang baik dan kendaraan yang nyaman.”

Memiliki istri yang shalihah dan baik.

Di antara sumber kebahagiaan dalam hidup adalah memiliki istri yang shalihah. Karena itu, ketika kita hendak memilih pasangan hidup, kita dianjurkan untuk memprioritaskan agama, kebaikan dan keshalihannya terlebih dulu.

Kita akan merasakan kebahagian dalam rumah tangga karena kebaikan dan keshalihan pasangan kita bukan karena yang lain. sebagaimana sabda Nabi Saw., istri shalihah adalah sebaik-baik perhiasan di dunia.

Dalam sebuah sabdanya, Nabi Saw. memberikan gambaran mengapa memiliki istri shalihah dapat mendatangkan kebahagian, yaitu karena ketika dipandang menyejukakan, ketika diperintah mau mentaati, dan istri shalihah dapat menjaga dirinya sendiri dari godaan orang lain meski tanpa pengawasan suami.

Disebutkan dalam hadis riwayat Abu Daud, Nabi Saw. bersabda:

أَلاَ أُخْبِرَكَ بِخَيْرِ مَا يَكْنِزُ الْمَرْءُ، اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهَ وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهَ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهَ

“Maukah aku beritakan kepada kalian tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya dan bila suami pergi, dia akan menjaga dirinya.”

Memiliki tempat yang nyaman.

Juga di antara sumber kebahagiaan adalah memiliki tempat tinggal atau rumah sendiri, yang nyaman dan lapang.

Dalam Islam, kita sangat dianjurkan untuk membangun rumah sebagai tempat istirahat ketika kita lelah dan tempat tidur ketika kita ngantuk, dan sebagai tempat silaturahmi bagi sanak famili kita.

Nabi Nuh ketika berada di atas perahu pada saat banjir besar memohon kepada Allah agar diberi tempat yang berkah. Ini menunjukkan bahwa tempat tinggal yang lapang dan berkah termasuk hal penting dalam hidup kita.

Memiliki teman dan tetangga yang baik.

Kehadiran teman dan tetangga dalam kehidupan kita sehari-hari sangat dibutuhkan. Islam sangat memperhatikan betul agar kita menjadi teman dan tetangga yang baik bagi orang lain, dan kita akan sangat beruntung jika memiliki teman dan tetangga yang baik kepada kita.

Al Jaaru Qabla Ad Dari (cari tetangga dahulu baru membangun rumah). Karena itu, kita dituntut untuk menghormati teman dan tetangga kita dengan harapan agar Allah memberikan teman dan tetangga yang baik kepada kita.

Orang-orang terdekat adalah modal utama untuk berinteraksi dengan lingkungan sosial yang lebih luas. Dalam hadits riwayat Imam Buhari dari Abu Hurairah, Nabi Saw bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah dia mengganggu tetangganya.”

Kendaraan yang nyaman.

Kendaraan yang nyaman bukan berarti harus mewah. Yang dimaksud di sini adalah kendaraan yang berfungsi dengan baik dan normal.

Kita sebagai muslim dituntut untuk bermanfaat kepada orang lain, dan kadang untuk melakukan hal tersebut kita membutuhkan kendaraan yang lancar.

Sebaliknya, apabila kendaraan sering rusak dan mogok, tentu hal ini sangat mengganggu kegiatan kita. Karena itu, di antara penunjang kebahagiaan hidup adalah memiliki kendaraan yang nyaman digunakan.

Empat perkara tersebut perlu kita upayakan terwujud dalam kehidupan kita agar kita bisa bahagia. Dalam Islam, mencari kebahagiaan di dunia tidak dilarang selama diusahakan dengan cara yang baik dan halal.

Ust. Sholih Hasyim