Ke Terminal Sambil dengar Curhatan Tukang Ojek Terjerat Judi Online

SEBENARNYA sejak kemarin ingin berangkat ke Tulungagung, untuk menghadiri pernikahan salah satu staff DPP Hidayatullah. Namun qadarullah, tidak dapat tiket kereta.

Akhirnya dapat tiket bus hari ini, meski mepet waktunya. Sesaat sebelum berangkat, sempat ada keraguan ketika ada tawaran untuk ikut rombongan mobil bersama teman-teman staff. Kebetulan ada satu kursi kosong. Mungkin lebih santai dan nyaman.

Namun sudah terlanjur pesan tiket bus, meski belum bayar. Sudah pesan Grab motor juga untuk ke terminal Pulo Gebang. Keduanya bisa saja dibatalkan. Keraguan itu sekitar dua menit.

Bismillahirrahmanirrahim, putuskan untuk tetap naik bus dan grab ke terminal. Ketika naik Grab motor, driver langsung bertanya

“Bapak seorang ustadz?”
“Iya begitulah,” jawab saya sekenanya sambil memperbaiki helm dan menduga mungkin driver mendengar percakapan sesaat sebelumnya yang semua staf memanggil saya dengan sebutan ustadz.

“Begini pak ustadz, saya terkena judi online. Saya mau taubat tapi belum bisa sepenuhnya. Terkadang masih terikut,” kata anak muda ini dengan semangat bercerita dan bertanya.

Subhanallah, mungkin doa anak muda driver Grab ini sehingga saya harus bertemu dengannya dan naik bus.

“Mas, selama ini shalatnya gimana,” tanya saya sederhana

Ee…ee, kalau di rumah mertua rajin pak ustadz. Tapi kalau lagi jalan begini terkadang buntu atau bolong. Alias tidak shalat,” katanya agak ragu awalnya tapi polos menjawabnya.

“Begini Mas, kalau kita menjaga kewajiban kepada Allah maka Allah akan menjaga kita dari hal-hal yang tidak baik, termasuk seperti judi online. Dalam shalat ada doa, harapan dan keyakinan,” jawab saya agak normatif.

“Oh begitu pak ustasz”
“Mas, jam berapa bangun tidurnya”
“Jam 02.00, kadang jam 03.00”
“Apa yang dikerja, kalau bangun tidur jam segitu”
“Mandi, masak untuk sarapan, menyiapkan perlengkapan kerja dan menunggu waktu shalat subuh,” jawabnya runtut

“Alhamdulillah, mulai malam ini ditingkatkan. Setelah mandi, wudhu dan berdiri shalat hajat dua rakaat. Sampaikan hajat mas kepada Allah kalau perlu menangis dalam sujud karena lemah dan ingin banget lepas dari judi online”

Insyaallah ustasz”

“Bagaimana cerita awal bisa kena judi online”
“Dari teman ustadz. Dia cerita-cerita, sebenarnya tidak langsung tertarik. Beberapa pekan baru mulai coba-coba dan akhirnya kecanduan,” jawabnya dengan nada sedih dan menyesal.

“Kenapa mau berhenti judi, memang tak pernah menang,” tanya saya dengan sedikit canda.

“Pernah menang tapi sering kalah. Uang jutaan habis dan motor sempat terjual, kerja menjadi malas”.

ABDUL GHOFAR HADI