Teladan Figur Nabi Sulaiman Membangun Peradaban Mulia

peradaban islam ilustrasiHidayatullah.or.id — Pimpinan Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad dalam taushiahnya disela acara Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Hidayatullah di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau baru baru ini, mengutip hikmah dari sejarah figur Nabi Sulaiman Alaihissalam dalam membangun sumber daya yang seturut dengan spirit Islam untuk membangun peradaban mulia.

Diantara serpihan mutiara hikmah dari sejarah Nabi Sulaiman yang dijelaskan Ustadz Abdurrahman adalah kita harus menjadi umat pengayom, penuh kasih, dan tidak mengecilkan apapun potensi yang ada.

“Berikan rasa aman kepada siapapun, sampai “semut” sekalipun. Jangan anggap enteng karena dia “kecil”,” kata Ustadz Abdurrahman seraya menamsilkan semut yang kecil dengan segala hal yang mungkin dianggap sepele dan tidak berguna dalam perjalanan hidup kita.

Beliau juga menuturkan hikmah kisah figur Nabi Sulaiman lainnya, yakni ketegasan yang dipadu dengan kebijaksanaan. Hal ini kemudian melahirkan budaya disiplin yang tinggi.

“Jangan ada anggota yang “bergerak” tanpa izin, karenanya ketika seekor burung Hud-hud tidak terlihat dalam sebuah forum, langsung diancam (oleh Nabi Sulaiman),” lanjut beliau.

Karena itu, Nabi Sulaiman pun menerapkan aturan yang cukup ketat dalam rangka menegakan kedisiplinan tersebut. Kalau ada yang berpotensi melanggar akan diingatkan bahkan dihukum apabila terbukti melanggar.

Dari kisah tersebut juga mengandung intisari penting tentang pentingnya kesadaran diri mencakup potensi, kemampuan, dan peran. Sehingga kemudian akan melahirkan sikap yang tidak emosional atau reaksioner.

Ustadz Abdurrahman lalu mengajak untuk sama mencermati penjelasan Ratu Balqis kepada stafnya sebagaimana ternukil dalam Al Qur’an surah An Naml [27]: 34, dimana salah satu hikmahnya jika kita melawan arus besar, akan dibinasakan dan orang-orang mulia akan dihinakan.

“Intinya, jangan pernah melawan arus besar. Pandai-pandailah mengukur diri, kita sering merasa besar, karena terkurung oleh tempurung,” ungkap beliau mengingatkan.

“Demonstrasi dan semacamnya yang kita kenal sekarang ini, guna melawan arus besar tanpa mengukur diri, bukanlah peradaban Islam. Yang baru kena gas air mata sudah melempem, apa lagi kalau lebih dari itu,” pungkasnya.

Pimpinan Pusat Hidayatullah menggelar acara Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) yang dihadiri oleh unsur pengurus Hidayatullah mulai dari PW, Ortom, dan sebagainya. Acara ini digelar guna membahas dan mensosialisasikan hal-hal penting lainnya dalam rangka persiapan menghadapi kegiatan Musyawarah Nasional ke-IV Hidayatullah di Balikpapan, November mendatang. (ybh/hio)