Merawat Dua Warisan Amal Jariyah Perintis Hidayatullah

ILUSTRASI: Hidayatullah terus menguatkan peran dan sinergi dengan berbagai elemen umat. Tampak Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla, membuka Munas IV Hidayatullah di Balikpapan, November 2015 lalu.

ILUSTRASI: Hidayatullah terus menguatkan peran dan sinergi dengan berbagai elemen umat. Tampak Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla, membuka Munas IV Hidayatullah di Balikpapan, November 2015 lalu.

Hidayatullah.or.id – Berdiri sejak 1973, sekurangnya ada dua warisan berharga yang ditinggal oleh pendiri dan para perintis Pondok Pesantren Hidayatullah hingga saat ini.

Dua warisan amal jariyah tersebut adalah kampus peradaban sebagai sarana berislam dan roda regenerasi kader dakwah sebagai sistem perkaderan.

Khusus yang disebut terakhir, bidang perkaderan dan pembinaan anggota Hidayatullah adalah motor utama dalam menggerakkan roda sistem tersebut.

“Setiap kampus Hidayatullah tentu memiliki masjid sebagai jantung peradaban sekaligus pusat transformasi nilai-nilai peradaban itu,” ungkap Ustadz Nur Fuad, Ketua Departemen Pembinaaan Anggota Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah.

Bersama sejumlah pengurus DPP lainnya, Ust Nur Fuad hadir di Kampus Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur, sebagai pemateri kegiatan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Bidang Perkaderan dan Pembinaan anggota Hidayatullah (18-20 Mei-2016).

Rakernas yang mengusung tema “Penguatan Halaqah Sebagai Tarbiyah dan Kepemimpinan” tersebut dihadiri oleh puluhan Murabbi dan Ketua Departemen Perkaderan Hidayatullah dari setiap wilayah di nusantara.

Menurut Ust Fuad, curah gagasan di atas melahirkan kesepakatan program nasional di setiap masjid kampus Hidayatullah.

Disebutkan, program yang dimaksud berupa taklim atau halaqah diniyah bakda Shalat Maghrib dan Shubuh di masjid.

“Program ini merujuk kepada kegiatan yang sudah berjalan di kampus induk Hidayatullah Gunung Tembak dengan segala pembenahan dan penyempurnaannya,” ungkap ust Fuad menjelaskan.

Ust Fuad berharap, selain sebagai wadah pembinaan anggota dan kader Hidayatullah, taklim dan halaqah diniyah itu bisa menjadi bekal memahami sejumlah kitab agama, dan bekal untuk mengamalkan nilai-nilai yang dipelajari.

Sedianya, sebagai panduan taklim atau halaqah diniyah tersebut, Departemen Pembinaan anggota DPP Hidayatullah akan menggunakan rujukan kitab yang standar dan diakui (muktabar) di kalangan ahlus sunnah.

Sebut misalnya Kitab Minhajul Muslim al-Jazairi (akidah), Kitab Taisir Karim ar-Rahman (tafsir), Kitab Taudhih al-Ahkam (hadits ahkam), Kitab ar-Rahiq al-Makhtum (sirah), dan Kitab Arabiyah Baina Yadaik (bahasa Arab). */Masykur Abu Jaulah

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.