Peran Penting Keluarga dalam Membangun Peradaban

Pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Perkaderan dan Pembinaan anggota Hidayatullah (18-20 Mei 2016).

Pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Perkaderan dan Pembinaan anggota Hidayatullah (18-20 Mei 2016).

Hidayatullah.or.id – Ketua Bidang Dakwah dan Tarbiyah Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust Tasyrif Amin, mengingatkan peran penting keluarga Muslim dalam membangun kembali peradaban Islam.

Menurutnya, rumah tangga syariah adalah basis atau rahim dari sebuah peradaban Islam yang hendak dibangun.

Sebaliknya, ketika anggota keluarga kehilangan ruh syariah tersebut, bisa dipastikan tidak ada kader dakwah apalagi pemimpin yang bisa diharap dari rumah tangga demikian.

Hal itu dinyatakan beliau di depan ratusan warga dan santri Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan, beberapa waktu lalu.

Hadir di kesempatan yang sama, 70 orang Murabbi dan Ketua Perkaderan Hidayatullah di seluruh wilayah nusantara yang mengikuti Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Perkaderan dan Pembinaan anggota Hidayatullah (18-20 Mei 2016).

“Hati-hati dengan penyakit yang biasa menjangkiti dai. Ia sibuk menyerukan kebaikan ke tengah umat. Tapi lupa mendakwahi dan mendidik anak-anak dan anggota keluarganya sendiri,” ucap Ust Tasyrif memperingati.

Untuk itu ustadz yang juga pembina kampus Hidayatullah di beberapa daerah ini menerangkan adanya sejumlah tipikal rumah tangga dalam al-Qur’an.

Pertama, jelas Ust Tasyrif, adalah rumah tangga Nabi Ibrahim. Diceritakan, Nabi Ibrahim adalah teladan utama dalam membina keluarga.

Mulai dari minta istri, minta anak, hingga berdoa agar keturunannya menjadi pemimpin orang-orang beriman. Semua itu, lanjutnya, tak lepas dari permohonan doa kepada Allah.

“Itu adalah doa politik, menjadikan semua keturunannya sebagai Nabi dan pemimpin bagi orang beriman,” ungkap Ust Tasyrif.

Sebaliknya, ada dua tipikal rumah tangga yang berkebalikan. Yaitu antara keluarga Nabi Nuh yang istrinya kafir dan membangkang. Serta keluarga Fir’aun yang Asiah, istrinya justru menjadi wanita yang kokoh keimanannya.

“Jadi yang membedakan itu adalah istri, ketika istri tak bisa berperan sebagai pendidik,” papar Tasyrif menerangkan.

“Istri Nabi Nuh yang tidak jadi pendidik menghasilkan Kan’an, anak yang juga pembangkang. Sedang Asiah berhasil mendidik Musa meski berada di bawah kekuasaan Fir’aun,” imbuh Ust Tasyrif kembali.

Selanjutnya, masih menurut Ust Tasyrif, ada tipikal rumah tangga yang unik. Yaitu keluarga Maryam.

Disebutkan, meski tanpa ayah, seorang ibu tetap bisa menjadi pendidik yang berhasil mengkader Isa, putranya.

Terakhir, Ust Tasyrif mengingatkan untuk menjauhi seburuk-buruk tipe keluarga yang dilakoni oleh Abu Lahab.

“Keluarga itu hanya bisa memproduksi kejahatan demi kejahatan. Semuanya saling membantu untuk keburukan,” tutup Tasyrif. */Masykur Abu Jaulah

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.