Ketum Ingatkan Lima Pelajaran Penting Madrasah Ramadhan

Ketum Ingatkan 5 Pelajaran Penting RamadhanHidayatullah.or.id – Ketua Umum DPP Hidayatullah Ust Nashirul Haq mengingatkan kembali lima pelajaran penting dari madrasah bulan Ramadhan yang telah kita lalui.

Kelima hal tersebut, ditegaskan beliau, merupakan langkah-langkah praktis menuju masayarakat yang baik dimulai dari diri sendiri dan keluarga. Dari sana kemudian ia menjadi pilar pokok sebuah masyarakat dan negara.

“Dari amalan Ramadhan setidaknya ada lima pelajaran penting yang harus dipertahankan dalam hidup sehari-hari oleh setiap pribadi beriman, sehingga dengannya kelak akan lahir masyarakat yang bersih,” kata Ust Nashirul saat membawakan pidato Idul Fitri 1437 H di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, belum lama ini.

Pertama, terangnya, adalah tarkul halal min ajlil ibti’ad ‘anil haram atau menjauhi harta haram. Ia menukaskan, selama Ramadhan kita telah berpuasa dari yang halal. Maka tidak ada alasan untuk mengambil yang haram.

“Masyarakat yang hidup di atas harta haram adalah masayarakat yang rapuh. Dalam sejarah kita membaca, hancurnya raja-raja terdahulu adalah kerena kedzaliman mereka terhadap rakyatnya. Banyak hak rakyat yang tidak dipenuhi. Akibatnya Allah Ta’ala menghancurkan mereka,” katanya.

Kedua, al isti’la’ ‘alal hawa atau mengendalikan nafsu dari maksiat.  Selama Ramadhan kita telah berhasil mengendalikan nafsu dari maksiat. Itu menunjukkan bahwa nafsu sebenarnya sangat lemah.

“Bahwa manusia bukan makhluk yang dikendalikan nafsu, melainkan dialah yang mengendalikan nafsunya. Berbeda dengan binatang, yang memang tidak punya akal, manusia adalah makhluk yang harus mengatur gejolak nafsunya,” jelasnya.

Beliau menjelaskan, dalam diri manusia ada dua kekuatan yang saling tarik menarik yaitu Kekuatan nafsu dan kekuatan takut kepada Allah. Bila takutnya kepada Allah lebih kuat, maka terkendalikanlah nafsu.

Namun, terangnya, bila nafsu dikendalikan maka ia akan masuk surga. Sebaliknya bila takutnya kepada Allah lebih lemah, maka nafsu akan lebih dominan. Bila nafsu yang dominan maka ia utamakan dunia di atas akhirat. Bahkan ia berani mengorbankan akhiratnya demi dunia.

Ketiga, As saitharah ‘alasy syaithan atau kemampuan menundukkan syetan. Diterangkan dia, kita telah membuktikan selama Ramadhan bahwa syetan dijadikan tidak berdaya.

“Lihatlah masjid-masjid penuh selama Ramadhan. Malam harinya- terutama pada sepuluh malam terakhir- sepanjang malam masjid hidup dengan orang-orang ber’tikaf dan shalat malam. Di rumah-rumah terdengar suara mendengung orang-orang sedang membaca Al Qur’an. Itu semua adalah bukti nyata bahwa syetan sebenarnya sangat lemah,” terang Ust Nashirul dalam pidatonya.

Namun, lanjutnya, dalam Al Qur’an banyak peringatan dari Allah mengenai bahaya syetan. Syetan selalu mempengaruhi seseorang supaya keluar dari jalan lurus, dan menuju ke neraka, sebagaimana Allah befirman dalam surah Al Hihr ayat 39:

Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma`siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,

Syetan juga selalu menakut-nakuti dengan kemiskinanm supaya seseorang tidak berinfaq, dan selalu mempengaruhi agar seseorang berbuat keji dan zina. Hal sebagaimana ditegaskan Allah Ta;ala dalam firman-Nya dalam surah Al Baqarah ayat 268:

“Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”.

Lalu, yang keempat: Ath Tha’ah al muthlaqah lillahi Ta’ala atau bersungguh-sungguh mengikuti apa kata Allah. Beliau menutarakan, selama Ramadhan kita telah berhasil patuh sepenuh hati kepada Allah Ta’ala. Bila Allah perintahkan puasa, kita langsung puasa. Padahal itu perbuatan yang sangat berat. Sebab yang kita tahan adalah hal-hal yang sebenarnya halal dan boleh dikerjakan.

“Itu menunjukkan bahwa tidak ada alasan lagi setelah Ramadhan untuk tidak ikut apa kata Allah. Sebab Dialah Allah Yang Maha Mengetahui. Semua yang datang dari-Nya pasti benar. Orang-orang yang tidak mengikutiNya pasti celaka. Karena Dialah yang memiliki langit dan bumi. Dialah pula Raja di Hari Pembalasan –maaliki yawmiddin,” ujarnya.

Kelima, Al hijratu minadz dzunub atau meninggalkan dosa-dosa dan kemaksiatan. Dijelaskannya, Ramadhan adalah bulan perjuangan menjauhi dosa-dosa. Dan, kita telah berhasil membuktikan selama Ramadhan untuk meninggalkan segala bentuk dosa dan kemaksiatan.

Bahkan, kita berusaha menjauhi sekecil apapun perbuatan yang sia-sia. Sia-sia artinya tidak mengandung nilai pahala sama sekali. Kita berusaha secara maksimal untuk menjadikan setiap detik yang kita lewati memberikan makna dan menjadi ibadah kepada Allah Ta’ala. Setiap saat lidah kita basah dengan dzikir, jauh dari pembicaraan dusta dan kebohongan.

“Masyarakat yang jauh dari dosa-dosa dan kemaksiatan adalah masyarakat yang berkah. Sebaliknya masyarakat yang penuh dengan dosa-dosa dan kemaksiatan adalah masyarakat yang rentan. Ibarat tubuh penuh dengan penyakit dan kotoran yang menjijikkan. Maka ia tidak produktif dan bahkan tidak bisa diharapkan darinya kebaikan,” imbuhnya.

Nashirul mengungkapkan, bukti kesuksesan kita menjalani ibadah Ramadhan adalah ketika berhasil melakukan perubahan dan peningkatan kualitas diri. Keyakinan makin kuat, ibadah makin tekun, akhlak makin sempurna, tanggung jawab sosial makin meningkat.

“Pribadi seperti itulah yang akan mendapat ampunan dan rahmat, memperoleh janji syurga di akhirat kelak. Semoga kita termasuk di dalamnya, amin,” pungkas beliau mengakhiri khutbahnya. (ybh/hio)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.