Menemui Orangtua di Desa Terisolir Pasca gempa, Santri Tempuh Perjalanan 18 Jam

MAJENE (Hidayatullah.or.id) — Pasca gempa Majene dan Mamuju di Sulawesi Barat beberapa waktu lalu. Kepanikan begitu cepat meluas. Tersambung dari hati ke hati. Terlebih bagi mereka yang memiliki keluarga di wilayah terdampak.

Seperti yang dialami oleh Asdar dan Dayat. Santri Pesantren Hidayatullah Polewali Mandar ini nekat berjalan kaki menerobos jalan menuju kampungnya yang terisolir pasca gempa di Desa Popenga, Ulumanda, Majene, Jumat (15/01/2021).

Asdar dan Dayat memulai perjalanan yang sangat menantang itu sedari pukul 21.00 waktu setempat dan baru tiba di rumahnya sore keesokan harinya, sekitar pukul 15.00 WITA. Alias mereka telah menempuh perjalanan selama 18-an jam.

Diakui Asdar dan Dayat. Resiko perjalanannya tidaklah ringan. Karena beberapa ruas jalan terputus oleh longsor. Mereka beberapa kali harus melewati hutan belukar, mencari alternatif jalan baru hingga akhirnya bisa sampai di kampungnya.

“Alhamdulillah, orang tua selamat. Beberapa rumah di sini rubuh namun tidak terlalu parah. Tidak ada korban Jiwa. Yang warga sangat butuhkan saat ini adalah kebutuhan makanan pokok. Warga terisolir karena jalan putus dan longsor. Benar-benar sulit dilewati,” kabar Asdar lewat sebuah pesan WhatsApp. Disertai potongan video saat mereka di goncang gempa susulan di tengah perjalanan.

Kabarnya, untuk mengirim pesan ini, mereka harus berjalan kaki ke kampung tetangga karena di Popenga tidak ada jaringan seluler.

Alhamdulillah, Selasa (19/01/2021) pagi, 6 orang santri (teman Asdar) diberangkatkan menyusul Asdar dan Dayat ke Popenga. BMH menitipkan beberapa kebutuhan pokok prioritas untuk Asdar dan warga di sana. Meski tidak banyak. Hanya sejumlah ransel dan kardus yang bisa santri-santri bawa. Karena jaraknya jauh, medannya sulit. Sementara moda transportasinya hanya mengandalkan kaki.* (Syamsuddin)