Menjadikan Teknologi Wasilah Menghadirkan Kemaslahatan

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Dr H Nashirul Haq (Foto: Ainuddin Chalik/ Hidayatullah.or.id)

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Tidak saja tata kelola organisasi sebagaimana amanah yang dipikulkan di pundaknya saat ini, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Dr H Nashirul Haq juga memiliki perhatian serius terhadap masalah teknologi informasi.

Dalam kesempatannya meluangkan waktu menyapa santri di Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Batu Aji, Muka Kuning, Batam, Kepri, UNH, begitu ia karib disapa, mendorong santri agar menguasai teknologi dan mengisi platform informasi digital dengan hal positif.

“Bayangkan kalau yang menguasai dan yang mengisi internet adalah orang beriman, semua untuk kebaikan. Kalau adik adik menjadi ahli nuklir, ahli IT, hadirkanlah kemaslahatan,” katanya di Masjid Agung Hidayatullah Batu Aji usai shalat shubuh beberapa waktu lalu, ditulis Rabu, 22 Safar 1443 (29/9/2021).

Lulusan Universitas Islam Madinah (UIM) Arab Saudi yang menuntaskan gelar doktoral bidang syariah di International Islamic University Malaysia (IIUM) ini mengatakan saat ini adalah era dimana umat manusia terpapar dengan kemajuan teknologi.

Namun, dia mengimbuhkan, seiring dengan kemajuan dan kemudahan itu, ada yang justru memanfaatkannya untuk merusak seperti membuat nuklir untuk membunuh umat manusia.

Oleh karena itu, menurutnya, amat penting bagi orang orang muslim untuk menguasai teknologi agar ia menjadi wasilah untuk menghadirkan kemaslahatan.

Apalagi, lanjutnya, ditengah gempuran teknologi informasi seperti media sosial saat ini, kebenaran menjadi tidak lagi diukur berdasarkan nalar dan rasionalitas, melainkan ditentukan oleh emosi, perasaan serta seberapa kencang kekuatan degungan follower, likers dan subscriber.

“Teknologi itu ibarat pisau, kalau yang pakai pisau itu ibu di dapur, ia bisa untuk memasak. Namun jika yang menggunakan pisau tidak tahu, maka bisa hancur,” imbuhnya memberikan tamsil.

Lebih jauh ia menekankan, bahwa dalam berbagai hal harus dimulai dari penanaman adab (ta’dib), termasuk dalam hal penggunaan teknologi.

Karena itu, terangnya lebih lanjut, pendidikan harus diawali dengan basis Qur’an untuk melewati proses penyucian jiwa, penyucian niat, pikiran, dan penyucian perilaku dengan akhlak Qur’ani.

“Bukan hanya akhlak atau perilaku, tetapi juga pembentukan fiqrah. Sehingga ia mencari ilmu sematamata karena Allah untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan menghilangkan kebodohan orang lain,” katanya.

Dengan tertanamnya adab dan sucinya fiqrah, seorang muslim pada akhirnya menjadikan aktifitas menuntut ilmu sebagai kewajiban dan sebagai ibadah untuk mendapatkan ridha dan berkah dari Allah SWT.

“Memberikan ilmu kepada yang berhak menerimanya adalah shadaqah. Sebaik baik sedekah adalah mengajarkan ilmu dan mengajarkannya. Ilmu akan menjadi amal jariyah yang terus didapatkan pahalanya selama diamalkan ilmunya,” katanya.

Beliau menerangkan, profesi yang paling mulia di dunia ini adalah guru. Ia lantas mengisahkan sebuah kisah sebagaimana dinukil dari Sunan Ibnu Majah bahwa pada suatu ketika sahabat sedang berhalaqah, lalu datang Rasulullah SAW lantas berkata “innama bu’itstu mu’alliman”. Nabi menyampaikan bahwa “sesungguhnya aku diutus sebagai guru”.

“Bukan hanya makna guru biasa, tapi beliau sebagai guru umat yang memiliki keluhuran akhlak dan adab,” katanya.

Untuk itu, UNH kembali menekankan bahwa adab harus ditanamkan sebelum ilmu. Jika tidak, maka bisa saja ia menuntut ilmu karena dunia yang dapat menjadikannya menjadi congkak dan sombong.

“Belajar itu niatnya ibadah untuk menghilangkan kebodohan, mengangkat harkat martabat manusia dan untuk mengajarkan manusia,” ujarnya.

Ia mengingatkan, orang yang salah niat dalam menuntut ilmu, maka tidak akan mencium baunya surga. UNH menyampaikan hal tersebut seraya menukil hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah, Abu Daud dan Ahmad berbunyi: “Barangsiapa menuntut ilmu yang seharusnya untuk Allah, namun ia tidak menuntutnya kecuali untuk mencari dunia, maka pada hari kiamat ia tidak akan mendapatkan bau surga”.

“Sekarang banyak ilmu dan sains yang mendatangkan kemudharatan, ada yang membuat nuklir untuk membunuh manusia, ada yang ahli IT tapi mengunakannya untuk kejahatan kartu kredit (carding) untuk mencuri uang orang lain. Carilah ilmu karena Allah untuk menghadirkan kebaikan, tidak merusak harkat dan martabat diri sendiri dan orang lain,” pungkasnya. (ybh/hio)