Ketum DPP Hidayatullah Pesan Tanamkan Kesadaran Sarjana yang Kader Leader

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH Dr Nashirul Haq, LC, MA mengatakan bahwa Perguruan Tinggi Hidayatullah (PTH) dibangun untuk mencetak dan melahirkan sarjana yang kader dan leader.

Hal itu disampaikan dalam taujihnya pada acara Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana Angkatan Kedua STIT Hidayatullah Batam yang dirangkai dengan Penugasan alumni, Rabu, 21 Dzulhijjah 1443 H (20/7/2022).

“Kita ingin melahirkan sarjana kader dan leader. Karena kalau sekadar sarjana, perguruan tinggi umum sudah cukup,” katanya.

Ia menjelaskan kader lader tersebut. Kata dia, kader untuk mengabdikan dirinya sebagai dai dan guru. Kemudian leader, yaitu tidak hanya berdakwah, tetapi bagaimana dia tampil untuk menjadi pemimpin umat.

Kita bersyukur, lanjut Nashirul, karena berada di perguruan tinggi yang mewadahi kita. Tidak saja mewadahi untuk mengkuti proses pendidikan dan pengajaran, proses tarbiyah, tapi juga memfasilitasi kita untuk berkiprah lebih lanjut.

“Dan secara umum seperti inilah PTH, alumninya langsung ditugaskan untuk mengelola lembaga-lembaga pendidikan Hidayatullah di seluruh Indonesia,” imbuhnya pada acara yang digelar di Hallroom Masjid Al-Amin, Tembesi, Batu Aji, Kota Batam, Kepulauan Riau itu.

Saya ingat Ustadz Abdullah Said rahimahullah, pendiri Hidayatullah, kata Ust Nashirul lagi, dalam ceramahnya selalu menyampaikan ada beberapa wilayah yang sulit ditembus yaitu Wamena, Palangkaraya, dan Banjarmasin.

“Tanpa berpikir panjang saya pilih ketiga-tiganya karena ada semangat, keyakinan. Jadi mental yang harus disiapkan,” terang beliau yang menyebut bagaimana doktrin Pendiri Hidayatullah.

Makanya, sebutnya lagi, Allah SWT berfirman:

اِنْفِرُوۡا خِفَافًا وَّثِقَالًا وَّجَاهِدُوۡا بِاَمۡوَالِكُمۡ وَاَنۡفُسِكُمۡ فِىۡ سَبِيۡلِ اللّٰهِ‌ ؕ ذٰ لِكُمۡ خَيۡرٌ لَّـكُمۡ اِنۡ كُنۡتُمۡ تَعۡلَمُوۡنَ

“Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui (QS at Taubah: 41)

Jadi, terangnya lagi, orang-orang yang ditugaskan berdakwah lalu kemudian dia mikir-mikir lalu kemudian takalluf, diterangkan secara detil kisahnya dalam al-Qur’an, mereka adalah munafik.

Ia lantas menukil firman Allah SWT:

فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ ۗ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا ۚ لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ

“Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini”. Katakanlah: “Api neraka jahannam itu lebih sangat panas(nya)” jika mereka mengetahui. (QS. At-Taubah : 81)

“Kalau ada yang masih ragu-ragu hendaknya saling memotifasi. Karena katanya, dua orang penakut sesungguhnya dua orang pemberani. Jadi kalau ada yang gelisah, ragu-ragu, datang kepadanya beri motifasi,” tegas menantu Ustadz Abdullah Said ini memberi semangat.

Selanjutnya, Beliau menyampaikan bahwa kita bersyukur kepada Allah bahwa kita dihadirkan dalam sebuah wadah yang mewarisi perjuangan dan misi Rasullullah Saw.

“Kita ini adalah pewaris Rasulullah Saw, untuk turut dalam mendakwahkan Islam. Islam ini bisa menyebar ke seluruh dunia adalah karena jasa-jasa para sahabat yang dikirim untuk berdakwah, ada yang ke Yaman, Mesir, Najran, China, bahkan ke Indonesia,” imbuhnya.

Menurut Nashirul Haq lagi, bahwa wadah pendidikan untuk melahirkan kader dan leader di atas harus dijalankan secara profetik dan profesional.

“Profetik adalah konsepnya islami, mewarisi nilai-nilai kenabian, berisi semangat dan spirit para nabi dan rasul, serta didukung oleh profesionalitas,” ujar Alumnus International Islamic University Malaysia ini.

Profesionalitas ini terdiri tiga point, sebutnya, yaitu knowledge, skill dan attitude. “Ini harus ada di PTH Batam. Knowledge itu sudah pasti, karena sudah ada di pendidikan kita, tapi harus kompeten di bidangnya, punya skill, keterampilan,” ujarnya.

Ia menambahkan, sekarang ini popular Kampus Merdeka, untuk memberikan kesempatan yang sebesar-besarnya kepada mahasiswa untuk mengembangkan skillnya. Sebab inilah pembeda baginya, karena memiliki pengalaman dan kecakapan. Disinilah pentingnya pendidikan leadhership di PTH.

Nashirul juga menekankan pentingnta nilai attitude, karakter, behavior. Justru inilah sesungguhnya, kata dia, yang menjadi nilai tambah PTH, termasuk di Dikdasmen.

“Yang namanya attitude ini, tidak bisa didapatkan kecuali ada sentuhan langsung dari dosen, guru, sebagai murabbi, coach, mentor,” imbuhnya.

Akhirnya, kata Nashirul Haq, kita bersyukur Allah menganugerahkan kepada kita wadah pendidikan sekaligus mewadahi berkiprah untuk agama, umat, bangsa dan negara yang tercinta.

“Semoga STIT Hidayatullah Batam semakin maju, jaya, dan berkembang, dalam melahirkan sarjana-sarjana yang berkualitas dari sisi spiritual, intelektual, dan profesionalitas, semoga Allah meridhai semua juhud dan kerja keras kita,” tutupnya.

Acara Sidang Senat Terbuka Sarjana S1 angkatan kedua ini juga dirangkai dengan penugasan 41 sarjana kader STIT Hidayatullah Batam. Para kader sarjana tersebut akan ditugaskan untuk berkhidmat pada agama dan bangsa yang dikirim ke seluruh pelosok Nusantara.

Pada acara ini, hadir Rektor UIN Suska Riau, Prof Dr Khairunnas Rajab, M.Ag untuk orasi ilmiah, didampingi sekretaris Kopertais Wilayah XII Riau Kepri, Dr. Ahmad Masy’ari, M.H, Staf Ahli Walikota Batam Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Bapak Demi Haspinul Nasution.

Ada juga Ketua Badan Pembina Kampus Batam, Ustadz Jamaluddin Nur yang juga ketua dewan senat, Ketua Pengurus Yayasan, Ustadz Khoirul Amri, pengurus DPW Kepri, Muslimat Hidayatullah, para tamu pendamping, serta undangan lainnya.*/Azhari Tammase