Menari Menurut Irama Orang Lain

Oleh Ustadz DR. H. Nashirul Haq, MA*

Misi utama Hidayatullah adalah membawa umat manusia kembali kepada fitrah mereka. Mengakui eksistensi Allah SWT sebagai Rabb yang Maha Tunggal, menyembah hanya kepada Allah SWT semata, dan mengakui Allah SWT sebagai satu-satunya Zat yang berhak terhadap kekuasaan tunggal atas hukum.

Kita sering kali terjebak pada agenda pihak lain. Padahal itu di luar konteks manhaj gerakan kita (Hidayatullah). Istilahnya “menari menurut irama orang lain”. Orang sibuk bicara pilkada, pemilu, dan pilpres, kita juga terpaksa ikut-ikutan bicara hal itu. Orang sibuk bicara masalah khilafiyah, kita juga ikut-ikutan sibuk membahasnya. Menghadapi serangan harakah lain, kita seperti kebakaran jenggot. Akhirnya, kita lupa dengan metode perjuangan kita sendiri, lupa dengan agenda kita sendiri.

Ideologi Islam yang ditanamkan oleh Allah SWT melalui wahyu kedua pada intinya adalah mengajarkan superioritas.  Suatu sikap mental untuk menjadi pemenang dan bukan pecundang. Realitas kaum Muslimin hari ini selalu diselubungi oleh sikap mental inferioritas. Tidak ada keyakinan yang sungguh-sungguh bahwa Islam yang mereka miliki dan perjuangkan adalah suatu kebenaran yang telah diturunkan oleh Allah SWT. Islam yang akan dapat mengatasi segala sistem, ideologi, ajaran dan bahkan kekuasaan politik manapun yang eksis pada hari ini. Sikap mental inferior inilah yang kemudian muncul dalam berbagai bentuk aksi dan tindakan yang tidak sesuai dengan contoh dan teladan yang telah diberikan oleh Rasulullah SAW.

Wahyu ketiga yaitu surat al-Muzzammil ayat 1-10 adalah metode pembinaan syakhsiyah mu’minah, individu yang beriman. Seorang mukmin yang sudah memiliki falsafah hidup yang benar, yaitu tauhid serta sudah pula memiliki ideologi yang benar, yaitu meyakini kebenaran dan keunggulan Islam akan diberikan pencerahan oleh Allah SWT sebelum mengarungi kancah perjuangan yang lebih luas.

Oleh karena itu, kesadaran dan keyakinan saja tidak cukup dan tidak memadai, melainkan harus dibekali dengan berbagai perangkat dan kemampuan personal yang mumpuni. Kemampuan personal itu meliputi kualitas spiritual, intelektual dan mental. Melalui perintah-perintah dalam surat al-Muzzammil, Allah SWT menyediakan kawah Candradimuka bagi pembinaan ruhani melalui aktivitas pada malam hari (qiyamul lail) yang meliputi shalat, tartil al-Qur’an dan berzikir. Sedangkan kekuatan intelektual diasah melalui memperbanyak tabattul atau kontemplasi. Sementara kekuatan mental disiapkan dengan mengasah kebiasaan untuk bersabar dan mengalah untuk menang.

Tidak ada metode gerakan perjuangan dalam dunia ini yang begitu lengkap dan detailnya dalam menyiapkan kekuatan individu, khususnya pada hal-hal yang bersifat soft skill. Yaitu yang menyangkut kekuatan ruhani (spiritual), intelektual dan mental.

Allah SWT tidak memerintahkan Rasulullah SAW untuk mengasah pedang, atau membangun benteng, atau mengumpulkan dana, pada masa-masa awal turunnya wahyu ini. Allah SWT sebaliknya memerintahkan Rasulullah SAW bersama para pengikut beliau yang masih sangat sedikit pada waktu itu untuk menyiapkan diri, yaitu melalui riyadhah ruhiyah pada malam hari, berupa latihan-latihan yang bersifat ruhaniyah, intelektual dan mental.

Di balik rahasia pencerahan ruhani yang seperti itu, Allah SWT akan menurunkan kekuatan yang bersifat transenden, yaitu berupa qaulan tsaqiila, suatu perkataan yang berat.

Para ahli tafsir menerangkan qaulan tsaqiila adalah al-Qur-an itu sendiri yang mengandung keagungan, sehingga dikatakan perkataan yang berat. Akan tetapi, perkataan yang berat dapat pula dimaknai sebagai suatu kemampuan untuk meyakinkan manusia akan kebenaran wahyu yang beliau bawa.

Seorang individu mukmin harus pula senantiasa melakukan aktivitas tabattul, upaya untuk melepaskan diri dari semua pengaruh duniawi dan terfokus hanya semata-mata kepada Allah SWT. Atau dapat pula kita sebut sebagai kontemplasi. Melalui kontemplasi tidak hanya ruhani yang dapat tercerahkan, tetapi juga intelektual. Karena, merupakan sarana untuk menyerap ilham, petunjuk dan taufik dari Allah SWT. Jika dalam berzikir yang bekerja adalah hati dan lisan, maka dalam tabattul atau kontemplasi yang bekerja adalah pikiran, yang tertuju hanya kepada Allah SWT semata. Masya Allah, luar biasa perangkat yang telah disiapkan oleh Allah SWT bagi kejayaan umatnya

Persiapan terakhir adalah tawakkul, sabar dan hijrah. Tawakkul adalah kesadaran diri untuk menyerahkan segala keputusan akhir kepada Allah SWT. Dan persiapkanlah diri untuk bersabar. Karena, engkau pasti akan berhadapan dengan segala caci maki, hinaan dan pendustaan dalam misi menyebarkan risalah tauhid ke muka bumi.

Jalan dakwah yang akan engkau tempuh bukanlah jalan beralaskan permadani merah yang empuk, bertaburkan intan permata dan emas. Bukan pula jalan yang penuh pujian dan pengagungan. Persiapkanlah mentalmu untuk bersabar, siap untuk berhijrah meninggalkan kampung halaman, sanak keluarga, sahabat, orang-orang yang engkau kasihi. Bahkan ibu, bapak, anak dan saudara kandungmu, tidak jarang yang akan menjadi musuhmu.

Kalau metode ini dapat secara konsisten kita terapkan dalam mencetak kader-kader pejuang risalah tauhid, siapa lagikah yang sanggup untuk menandinginya? Misi dan tugas apakah yang tak akan sanggup dipikul oleh mereka yang tercerahkan dan terlatih dalam pelatihan Ilahiyah yang seperti itu?

Tapi kita sering tidak sabar, ingin cepat tiba, mau mencari short cut, sehingga tergoda untuk meninggalkan khazanah dan kekayaan yang kita punya, dan berpaling memakai metode pembinaan orang lain yang mungkin terlihat lebih bergemilau. Percayalah, tidak ada yang lebih sempurna dari madrasah Ilahiyah ini dalam mencetak kader-kader pejuang unggulan.

Manhaj ini juga memberikan garis-garis yang sangat jelas dan tegas dalam membangun kekuatan organisasi dan menjalankan perjuangan melalui dakwah. Perintah dan kewajibannya sangat jelas, yaitu qum fa andzir, bangun dan beri peringatan.

Kepada siapa? Kepada seluruh umat manusia, kepada seluruh dunia. Dengan apa? Dengan tauhid, memperingatkan manusia untuk kembali kepada Allah SWT. Bagaimana caranya? Dengan membesarkan dan mengagungkan Dia, mensucikan diri dan lingkungan, meninggalkan segala jenis kekotoran dengan banyak memberi tanpa mengharap balas, dan dengan bersabar. Wallahu a’lam.*

*Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah. Naskah diambil dari rubrik Khiththah Majalah Suara Hidayatullah edisi November 2019

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.