Sosok Ayah Ideologis dan Ayah Biologis Penting Bagi Anak

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pendiri AQL Islamic Center Ustadz Bachtiar Nasir (UBN), pada webinar bertema “Kekuatan Figur Ayah dan Ibu Sebagai Pembentuk Kepribadian Seorang Anak”, mengawali materinya dengan mengungkapkan istilah al-waalid atau al-abu dan al-waalidatu atau al-umm.

Istilah tersebut, menurutnya, jika dilihat dengan kaca mata terminologi Al-Qur’an, lebih cocok diterjemahkan menjadi ayah ideologis dalam dunia pendidikan. UBN menyebutkan Surat Al-Ahzab ayat 40 yang terjemahannya berbunyi:

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-nabi. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”

Kata abaa (ayah) dalam ayat tersebut merupakan diksi yang membedakan antara ayah biologis dan ideologis.

“Anak-anak membutuhkan orang tua biologis sekaligus orang tua ideologis,” ujar UBN dalam webinar kedua pra Musyawarah Nasional V Muslimat Hidayatullah (Mushida), Sabtu (28/11/2020) disiarkan secara live streaming pada kanal Youtube Hidayatullah ID itu.

UBN mengungkapkan bahwa pepatah Arab berkata, ayah biologis membesarkan seseorang secara fisik. Sedangkan ayah ideologis membesarkan seseorang secara ruh dan ideologi. Ayah biologis membesarkan seseorang selama ia hidup di dunia. Sedangkan ayah ideologis mampu membuat seseorang hidup bahagia di surga.

Meski keduanya penting bagi seorang ayah, namun UBN mengakui bahwa hal tersebut tak mungkin diemban dalam diri seseorang secara bersamaan. Dikarenakan keterbatasan, kelemahan dalam keilmuan seseorang. Hal inilah yang melatarbelakangi besarnya peran guru dan pentingnya menitipkan seorang anak pada sebuah lembaga yang mampu membekalinya dengan ideologi yang lurus. Bukan tanpa alasan.

Ustadz yang pernah mengenyam pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, ini menceritakan pengalamannya bahwa 75 persen karakter dalam dirinya terbentuk selama tinggal di pesantren.

Dalam pemaparannya, UBN menerangkan tentang hikmah. “Hikmah, adalah solusi agar seseorang mampu menjadi orang tua berkarakter dan menanamkan nilai serta karakter terhadap anak,” tutur penulis buku Masuk Surga Sekeluarga ini.

Dengan mengutip tulisan Dr. Muhammad Muhamad Badri pada buku Sentuhan Jiwa Untuk Anak Kita, UBN mengulas teori HUMAN TOUCH.

Dijelaskan dalam buku tersebut, sang penulis merumuskan tema pembahasannya menjadi 10 (top ten) bab yang bila disingkat menjadi HUMAN TOUCH. Kepanjangan dan penjelasannya yaitu:

HUMAN; H = Her him; dengarkanlah ia, U = Understand his feelings; pahami perasaannya, M = Motivate his desire; beri semangat pada hasratnya, A = Aprreciate his efforts; berilah apresiasi pada setiap usahanya, N = News him; penuhi otaknya dengan banyak informasi.

TOUCH; T = Train him; didik dan kaderlah ia dalam hal aqidah, ibadah, akhlak, dan skill-nya, O = Open his eyes; bukalah mata dan wawasannya, U = Understand his uniqueness; pahami keunikannya, C = Contact him; jalinlah hubungan dengannya ruhiyah maupun jasadiyah, H = Honour him; hargai dan muliakanlah ia.

“Sentuhlah anak dengan sentuhan manusiawi, bukan bendawi atau hewani,” simpul UBN setelah mengulas pembahasan HUMAN TOUCH itu.

Sekjen MIUMI mengatakan, ada rumus yang harus ditekankan dalam mendidik anak. “Sucikan jiwanya, sebelum orang tua mendidiknya. Pahamkan adab di dalam jiwanya, baru kemudian ajarkanlah ia tentang ilmu.” Lanjutnya, hal itu akan menjadi benih di atas tanah yang akan tumbuh subur, yang kelak akan dinikmati buah manisnya.

Pemimpin Pesantren Ar-Rahman Qur’anic College ini memberi kata kunci agar menjadi orang tua yang sukses berdasarkan Surat Luqman ayat 12. “Jika ingin menjadi inspiring father and mother, maka jadilah orang yang memiliki hikmah,” tegasnya.

Hikmah mengandung dua hal, yaitu ilmu dan amal. Al-Ilmu naafi’ wa amal sholih. Ilmu yang bermanfaat dan amal shaleh, akan menjadi teladan untuk anak-anak. Jadilah orang tua yang mampu bersyukur setelah memiliki hikmah. Bersyukur atas segala karunia dan anugerah buah hati yang dimiliki.

Sebagai pamungkas, UBN mengimbau kepada para orang tua bahwa demi memberi yang terbaik kepada anak, hadirkan sosok ideologis yang hidupnya selalu bergantung kepada Allah.

Untuk diketahui, Muslimat Hidayatullah akan menggelar Musyawarah Nasional V Mushida secara virtual. Acara berpusat di Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Kota Depok, Jawa Barat, dengan 33 titik lain sebagai perwakilan tiap Pengurus Wilayah (PW) Mushida yang ada di berbagai provinsi.

Perhelatan akbar lima tahunan itu kali ini akan digelar secara virtual karena berlangsung di tengah pandemi, dengan mengusung tema “Meneguhkan Integritas Muslimah Demi Tegaknya Peradaban Islam”, pada 26-27 Desember 2020.

Sebelum Munas, digelar sejumlah acara termasuk webinar. Pada Sabtu (05/12/2020) mendatang, Mushida akan menggelar webinar ketiga dengan tema “Meneguhkan Integritas Muslimah Demi Terwujudnya Peradaban Islam”. Pematerinya adalah Ketua Wanita ISMA Malaysia Dr Suriani Sudi dan Ketua Umum PP Mushida Dr (Cand) Reny Susilowati. Pembaca bisa mengikutinya pada siaran live streaming di kanal Youtube Hidayatullah ID pukul 08.00-11.00 WIB.* Arsyis Musyahadah