Muslimat Hidayatullah Sulbar Kuatkan Konsolidasi Organisasi

MAMUJU (Hidayatullah.or.id) — Kepengurusan Muslimat Hidayatullah (Mushida) di tingktat wilayah provinsi Sulawesi Barat memiliki trik sendiri dalam menjalankan konsolidasi ke tingkat daerah.

Bekerja sama dengan DPW Hidayatulah Sulbar dalam hal ini ketua departemen Organisasi dan SDI, untuk melakukan konsolidasi jati diri, organisasi dan wawasan pada rapat kerja daerah khususnya di kabupaten Mamuju Tengah dan Pasangkayu pada Sabtu-Ahad, 27-28 Syawal 1443 (28-29/5/2022).

Hal tersebut setelah sukses melakukan agenda yang sama di kabupaten Majene dan Polman, sebagaimana dijelaskan Salbiana, S.Pd ketua PW Mushida Sulawesi Barat.

“Setelah Rakerda di Mamuju Tengah dan Pasangkayu, PD Mushida Mamuju yang terakhir, mudah mudahan sukses,” ungkapnya seperti dinukil di laman Hidayatullah Sulbar.

Dia menekankan agar seluruh pengurus di daerah dapat mengaplikasikan aspek aspek konsolidasi organisasi ke dalam kinerja pengurus.

Aspek tersebut adalah berjalannya secara standard administrasi kantor di seluruh PD Mushida se Sulawesi Barat.

Hal itu, kata Salbiana, mestinya ditandai adanya ruang khusus yang dijadikan sentra persuratan, mengarsipkan seluruh notulensi dan dijadikan ruang untuk berkantor oleh pengurus.

Juga aspek regulasi yang terus digaungkan ke seluruh stakeholder, agar senantiasa menetapkan aturan berdasar pada pedoman pedoman organisasi yang ditetapkan oleh DPP.

Manajemen dan Kepemimpinan sebagai salah satu aspek dalam konsolidasi organisasi juga ditegaskan, karena kedua hal tersebut sangat erat hubungannya dengan dinamika kepengurusan Mushida, khususnya.

Adapun Rakerda PD Mushida Mamuju Tengah (28/5/2022) banyak menekankan konsolidasi jati diri sebagai skala prioritas dalam menopang kinerja pengurus.

Di ruang kegiatan TK Yaa Bunayya kampus Hidayatullah Pasangkayu, rapat kerja PD Mushida berlangsung yang diikuti seluruh pengurus daerah.

Peserta rapat sangat antusias mendengarkan penjelasan penjelasan tentang aspek aspek yang dikonsolidasikan.

Termasuk ketika membahas aspek imamah – jamaah, yang banyak menyinggung peran Mushida sebagai organisasi pendukung tersebut.

Tercatat di berbagai event organisasi Mushida mengambil peran penting di dalamnya, hal itu karena adanya koordinasi yang baik.

Meski demikian tidak menafikan adanya kasuistik tentang intervensi kurang tepat dalam kebijakan suami sebagai pemimpin organisasi.

Terakhir, menyoal kultur dan aspek sipiritualitas organisasi, lebih menekankan agar program unggulan seperti, kerja bakti, halaqah, mabit, Rumah Quran Hidayatulah (RQH), majelis Quran Hidayatullah (MQH) dan Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH) dijadikan sebagai ikon pengurus dan kader Mushida.*/Bashori