Perhatikan Kehalalan Produk yang Digunakan Hingga Hal Terkecil untuk Kehatihatian

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Agama Islam amat sangat memperhatikan masalah kehalalan dan kebaikan produk yang menjadi kebutuhan sehari hari. Oleh sebab itu, Asesor Penilai Lembaga Pemeriksa Halal Luar Negeri, Ir. Dina Sudjana, mengatakan kaum muslimin harus memperhatikan betul kehalalan dan kebaikan produk yang digunakan sebagai bentuk kehatihatian bahkan pada hal hal yang barangkali tampak sepele seperti dalam pengemasan dan penyajian.

“Produk halal menurut syariat ialah halal bahannya, halal cara memperolehnya, halal cara memprosesnya, halal dalam pengemasannya, halal dalam penyimpanannya, halal dalam pengangkutannya, dan halal dalam penyajiannya,” katanya.

Hal itu disampaikan Dina Sudjana saat menjadi narasumber Seminar Halal bertajuk “Halal is My Life: Halal, Thayyib, dan Berkah” dalam rangkaian acara Daurah Murobbiyah Nasional II Muslimat Hidayatullah di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jalan Cipinang Cempedak, Jakarta, pada 6-7 Muharram 1444 5-6 Agustus 2022.

Dina menjelaskan, gaya hidup merupakan cara seseorang menjalani hidupnya sehari-hari yang dipengaruhi standar, nilai, dan prinsip masing-masing. “Standar, nilai, dan prinsip masing-masing orang tentunya saling berbeda. Islam memiliki standar nilai yang menyelamatkan dan penuh keberkahan,” katanya.

Gaya hidup, terang Dina, juga bisa diartikan sebagai seni seseorang menjalani hidup, mulai dari prinsip, tingkah laku, kebiasaan, aktivitas, sampai dengan minat dan ketertarikannya.

“Gaya hidup halal diartikan sebagai seni hidup seseorang dalam menjamin kehidupan sehari hari tanpa melanggar hal yang sudah diatur oleh agama. Gaya hidup ini adalah sebuah seni yang menerapkan prinsip halal tapa meninggalkan situasi kekinian,” lanjutnya.

Ketua Harian Pusat Halal Salman ITB ini menegaskan bahwa umat Islam diwajibkan untuk memakan, menggunakan, memanfaatkan dan mengkonsumsi produk halal dan baik.

Jika kewajiban tersebut diabaikan, maka akan berdampak negatif pada tingkat keimanan dan keislamannya seperti amal ibadahnya tidak diterima Allah SWT, dan doanya tidak dikabulkan.

“Oleh karena itu produk halal harus tersedia, terjangkau, dan terjamin agar umat Islam merasa aman dan nyaman dalam mengkonsumsinya,” imbuhnya sambil mengutip Kitabullah surah Al-Baqarah ayat 168-169:

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”.

Yang tak kalah menarik, di sela-sela materinya, Dina menceritakan pengalamannya selama hidup di Jepang tentang gaya hidup Islami, berdakwah, dan mengedukasi banyak orang tentang makanan yang halal dan thoyyib. Hal inilah yang membuat perempuan kelahiran Bandung ini direkrut oleh Pemerintah Jepang untuk membuat standar halal.

Dalam kesempatan ini, hadir juga narasumber lainnya Fahrur Rozi sebagai Kabid Umum Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) Hidayatullah.

Dia menyampaikan bahwa LPH Hidayatullah berkomitmen mendukung visi Indonesia sebagai pusat industri produk halal dunia.

Hal serupa dikemukakan penguasaha produk konsumsi dan kesehatan halal, Muhammad Arif Sufia Gandadipura, yang menurutnya industri halal saat ini telah menjadi kebutuhan masyarakat tidak saja di Indonesia tapi dunia.

“Makanan tidak hanya harus halal, namun juga harus thoyyib dan berkah,” terang Arif.

Menurut Arif, thoyyib terdiri dari kandungan gizi yang lengkap, higienis, menyehatkan, bebas dari zat perusak, dan sesuai sunnah Rasulullah.

“Jika kita menerapkan sunnah, maka hidup menjadi berkah. Berkah ialah kebaikan yang bertambah,” papar praktisi halal dan thoyyib ini.

Dia menerangkan bahwa sunnah itu berpahala, maka memperbanyak melakukan sunnah akan mengundang keberkahan dan menambah pahala. Makan makanan yang disunnahkan adalah berpahala, dan insyaa Allah membuat tubuh menjadi sehat.

“Tubuh yang sehat itu membuat peluang untuk berbuat kebaikan seperti beribadah, berdakwah, banyak beramal shaleh,” tuturnya.

Ia lantas memaparkan perihal produk probiotik yang dipasarkannya dengan mengacu pada sabda Rasulullah: “Ya Allah, berkahilah cuka, karena ia adalah lauk para nabi sebelumku.” (HR. Ibnu Majah No.3318)

Arif menyebutkan, cuka adalah cairan hasil fermentasi, yang mana pada proses fermentasinya melibatkan makhluk berukuran mikro, yaitu bakteri atau mikroba atau disebut juga dengan istilah probiotik.

“Produk yang diproses melalui fermentasi dengan melibatkan ribuan jenis probiotik termasuk dalam kategori cuka yang disunnahkan oleh Rasulullah,” jelasnya.

Dengan mengonsumsi produk hasil fermentasi, selain tubuh akan menjadi sehat, juga mendapat pahala dan keberkahan karena mengikuti sunnah Rasulullah.

Acara yang diselenggarakan Departemen Ekonomi PP Muslimat Hidayatullah ini disiarkan melalui kanal YouTube Mushida Official, dihadiri oleh peserta offline dan online yaitu peserta Daurah Murobbiyah Wustha Nasional II, Pengurus PP, PW, PD, dan Umum.

Panitia Penyelenggara Ina Sriwahyuni mengatakan seminar ini diharapkan dapat menambah wawasan muslimah tentang gaya hidup halal, mengonsumsi produk yang thoyyib, sehingga membawa kebarkahan dalam hidupnya.

Kabid Pelayanan Umat PP Mushida sekaligus moderator seminar, Neny Setiawaty binti Maman Hidayat, menambahkan, melalui pemaparan ini, banyak peluang ekonomi yang dapat diambil oleh ummahat sekalian, mengingat dalam bidang kehalalan ini juga masih sangat sedikit.

“Semoga materi yang bermanfaat ini dapat menjadi bekal bagi ummahat untuk diterapkan di daerah masing-masing,” tandas Neny.*/Arsyis Musyahadah