Meluaskan Dakwah dengan Majelis Quran Berbagai Lapisan

JAKARTA (Hidayatullah) — Kurang lebih 15 tahun ini Hidayatullah melalui Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) telah menggalakkan layanan pendidikan dan bimbingan Al Qur’an melaui Majelis Quran Hidayatullah (MQH) sebagai salah satu derivasi program Gerakan Nasional Dakwah Mengajar dan Belajar Al Qur’an (Grand MBA).

Dalam upaya menguatkan pelayanan dakwah tersebut dengan menyasar ke semua lapisan masyarakat terutama yang masih buta aksara Al Qur’an, kini Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah meluncurkan Rumah Qur’an Hidayatullah (RQH).

Peresmian ini mengusung tema besar ‘Membangun Indonesia dengan Al-Qur’an’, serta diikuti oleh jamaah Hidayatullah di Indonesia baik offline atau online. Berpusat di aula gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, program itu diresmikan langsung oleh Ketua Umum DPP Hidayatullah, Dr H Nashirul Haq.

“Dengan memohon ridha dan kasih sayang Allah, mari kita bersama-sama meresmikan Rumah Qu’ran Hidayatullah dengan membaca Basmalah,” kata Nashirul Haq saat meresmikan RQH, Selasa (16/02/2021).

Dengan diresmikannya wadah pembinaan Al Qur’an tersebut, Nashirul berharap ada percepatan pengembangan dakwah keummatan di beberapa titik yang belum tersentuh.

Harapannya dengan adanya program majelis pembinaan Al Qur’an ini maka percepatan dan perkembangan jaringan dakwah akan sangat terbantu.

“Sekarang ini kita hadir secara struktural di 374 kabupaten/kota, dan pesantren kita hadir di 600 lebih titik,” sambungnya.

Selain itu, ia begitu yakin dengan target yang telah dicanangkan secara bersama seluruh komponen yang terlibat. “Dan InsyaAllah pada periode ini, komitmen kita akan hadir di seluruh kabupaten dan kota,” serunya dengan nada optimis.

Kepada para pengajar Al-Qur’an, Nashirul mengingatkan kembali bahwa pekerjaan mengajarkan Al-Qur’an merupakan karunia yang sangat besar, untuk itu harus bangga menjalani profesi ini.

“Karenanya, mari kita bersama-sama membangkitkan semangat dan motivasi umat, untuk merasa bangga sebagai mualimul Qur’an. Menjadi orang-orang yang rabbani. Dan inilah profesi yang sangat mulia di dunia,” bebernya.

Lebih jauh, Nashirul menekankan, bahwa jihad terbesar seorang Muslim yakni dengan dakwah Al-Qur’an.

“Jihad yang paling besar menurut Allah adalah jihad mendakwahkan Al-Qur’an,” ungkapnya sambil mengutip penggalan Al-Qur’an dalam Surat Al-Furqon ayat 52.

Terakhir, Nashirul menyampaikan perlunya saling memahami dalam bersinergi, sehingga memudahkan jalan terciptanya cita-cita bersama.

“Semoga institusi internal dan eksternal bisa bersatu padu dalam membangun sinergitas demi suksesnya gerakan Qur’anisasi,” tandasnya.

Di kesempatan yang sama, Anggota Dewan Pertimbangan Hidayatullah, Hamim Thohari mengatakan syarat sebuah kebangkitan itu harus melibatkan semua pihak.

“Sebuah gerakan kebangkitan itu hanya bisa terjadi jika melibatkan banyak kalangan. Kita harus libatkan sebanyak-banyaknya potensi umat,” ujarnya.

Hamim menyakini, salah satu syarat membangun kebangkitan Indonesia ya dengan Al-Qur’an. “Sebuah kebangkitan yang akan kita gerakkan dengan Al-Qur’an,” tegasnya.

Koordinator Grand MBA Nasional, Ust Agung Trana Jaya, menyampaikan rasa haru atas kian tingginya perhatian pada gerakan memasyarakatkan Al Qur’an. Dia berharap, gerakan ini terus melejit dan memberi kebaikan kepada umat dan dunia secara luas.

“Saya merasa sangat terharu, saya katakan bahkan sangat emosional, karena saat ini perhatian kita pada gerakan ini sangat membuncah luar biasa,” katanya.

Dia menukaskan, Grand MBA adalah Gerakan Dakwah Nasional Mengajar-Belajar Al-Qur’an yang bertujuan mengakrabkan masyarakat dengan Al-Qur’an. Lewat gerakan ini masyarakat diantarkan untuk dapat membaca, menerjemahkan, menghafal dan mengamalkan al-Qur’an dengan standar yang baik.

Gerakan ini diproyeksikan menjangkau seluruh propinsi di Indonesia hingga ke pelosok-pelosoknya. Wujud dari gerakan ini adalah lahirnya MQH (Majelis Qur’an Hidayatullah) di setiap lapisan dan pelosok masyarakat.

Di MQH inilah masyarakat dapat belajar kepada muallim (pengajar) tentang hal-hal yang berkaitan dengan al-Qur’an.

“Dari upaya ini diharapkan terbentuk komunitas-komunitas masyarakat yang bersedia untuk hidup terbimbing dan terpimpin di bawah naungan al-Qur’an,” tandasnya. (ybh/hio)