Hidayatullah Saran Wawasan Kebangsaan Diserahkan ke Ormas

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum DPP Hidayatullah, KH Nashirul Haq menanggapi rencana Kementerian Agama (Kemenag) yang akan melakukan sertifikasi wawasan kebangsaan bagi para dai dan penceramah.

Menurut dia, jika rencana tersebut hanya bertujuan untuk memberikan wawasan kebangsaan, maka cukup serahkan saja kepada ormas.

“Sebenarnya kalau sasarannya untuk pegawai Kemenag itu tidak masalah karena memang kewenangan pemerintah. Tapi kalau untuk swasta atau dai umum, kemudian ada yang berbasis ormas, ya diserahkan saja kepada masing-masing ormas,” ujar Kiai Nashirul saat dihubungi Republika.co.id, Jum’at (4/6).

Dia mengatakan, di setiap ormas Islam justru sangat banyak tokoh yang memiliki wawasan kebangsaan lebih baik. Menurut dia, mereka nanti bisa memberikan wawasan kebangsaan, seperti membangun loyalitas kepada negara, kecintaan tanah air, dan memberikan pemahaman yang baik tentang Pancasila.

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri menyampaikan keterangan terkait pelantikan pegawai KPK menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) di gedung KPK, Jakarta, Selasa (1/6/2021). KPK resmi melantik 1.271 pegawai yang lulus tes wawasan kebangsaan (TWK) untuk menjadi ASN.

“Jadi, kita para dai, misalnya kami di Hidayatullah, memahami Pancasila itu tidak formalitas. Benar-benar kita kaji dari sisi historisnya, latarbelakangnya, dan lain-lain,” ucap Kiai Nashirul.

Selain itu, menurut dia, para dai Hidayatullah juga selalu menghubungkan lima sila dalam Pancasila dengan ajaran Islam. Namun, jika sampai diformalkan menjadi sertifikasi wawasan kebangsaan, ia justru khawatir terjadi kasus seperti Tes Wawasan Kebangsaan (TWK ) para pegawai KPK.

“Justru kita khawatir, nanti kalau ini diformalitaskan, itu nanti terjadi seperti kejadian yang di KPK. Malah ingin membenturkan antara Pancasila dan Alqur’an,” katanya.

Dia pun menegaskan bahwa wawasan kebangsaan para dai Hidayatullah tidak perlu diragukan lagi. Karena, menurut dia, mereka tidak pernah membenturkan antara kebangsaan dan keumatan.

“Itu satu kesatuan. Antara Pancasila dan ajaran Islam itu tidak pernah kita pertentangnan. Justru kita ingin mengisi Pancasila itu dengan nilai-nilai yang benar-benar diperjuangkan oleh founding father kita,” jelas Kiai Nashirul. (Republika)