CFW dan Momen Hari Anak, Ketum Pemuda Hidayatullah Suarakan Pendidikan Adab

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pendidikan adab dan akhlak bangsa menjadi hal penting yang harus menjadi perhatian pemerintah sebagaimana telah diamanatkan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Demikian dikatakan Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah, Mas Imam Nawawi.

“Pendidikan adab dan akhlak harus menjadi arus utama pendidikan bangsa ini. Termasuk bagaimana lingkungan menerapkannya dengan baik,” kata Imam dalam forum bincang pemuda memperingati Hari Anak Nasional di kantor PP Pemuda Hidayatullah, Cipinang Cempedak, Otista Polonia, Jatinegara, Jakarta, Rabu, 28 Dzulhijjah 1443 (27/7/2022).

Sebagaimana amanat konstitusi, menurut Imam, pemerintah berkewajiban menguatkan tujuan pendidikan nasional untuk kembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 Pasal 3 tentang Sistem Pendidikan Nasional juga menekankan pendidikan nasional juga harus diorientasikan untuk menegakkan akhlak mulia, melahirkan generasi yang sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Mas Imam juga menyoroti isu kekinian kaitannya generasi muda dengan fenomena gaya hidup seperti Citayam Fashion Week (CFW) yang banyak disoroti belakangan ini.

Menurut Imam, fenomena seperti CFW di satu sisi merupakan pemanfaatan ruang publik untuk berinteraksi, namun di sisi lain ia merupakan buah kreatifitas yang bias karena berangkat dari gimmick belaka yang tampaknya kehilangan nilai dan jatidiri sebagai bangsa yang berketuhanan.

“Namun kita harus mendukung segala bentuk ide dan kreatifitas anak muda dengan mengarahkan mereka sebaik baiknya pada pemahaman tentang pentingnya menerapkan nilai nilai ketuhanan,” kata Imam.

Di sisi yang lain, terang Imam, generas muda Islam harus melihat bahwa campaign kebaikan bisa dilakukan dengan cara yang ringan, santai, sederhana, dan dikemas secara fun tanpa kehilangan identitas fundamennya. “Dengan begitu, ia bisa diikuti dengan mudah terutama bagi anak anak yang membutuhkan pencerahan,” katanya.

Masalah kenakalan dan kekerasan anak juga tak luput dari sorotan Imam, khususnya praktik perundungan (bullying) anak yang masih acapkali terjadi. Ia mengajak seluruh pihak menjaga anak-anak secara bersama-sama dari perundungan, terutama orangtua, pendidik, sekolah dan masyarakat.

“Perilaku itu (bullying) kalau kita mau timbang pakai Pancasila, jelas tidak baik. Lebih-lebih kalau menurut Islam, itu sangat-sangat tidak baik. Tapi apakah bisa anak-anak selamat dari perundungan saat orang dewasa utamanya pada ruang media sosial justru tidak menampilkan teladan kebaikan,” katanya.

Karenanya, kalau perlu media masa tidak lagi menampilkan berita yang isinya hanya soal bantah-membantah dan pertengkaran yang tak sepatutnya masuk ruang publik yang anak-anak juga ada di sana.

“Termasuk adab dalam media sosial, satu sama lain jangan ada lagi baku balas komentar dengan kalimat atau pun diksi-diksi yang saling menjatuhkan,” tukasnya.

Imam mengakui perkara ini tidak mudah diatasi terlebih kadangkala budaya olok-mengolok saja tidak terjadi pada anak-anak semata. Kadang ada cekcok bahkan tindakan membunuh karena olok-olokan pada kalangan orang dewasa.

Ia menegaskan bullying tak dapat diabaikan karena memberi dampak serius. Apalagi berbagai peristiwa terjadi karena bullying sudah cukup terang bagaimana dampak itu menjalar hingga ke psikis dan kesehatan bahkan nyawa.

Anak korban bullying akan mengalami dampak serius meliputi beberapa hal seperti cemas, merasa sendiri, rendah diri, tingkat kompetensi sosial yang rendah, depresi, simptom psikomatik, penarikan sosial, keluhan pada kesehatan fisik, pergi dari rumah, terjerembab pada alkohol dan obat, bunuh diri dan penurunan performansi akademik.*/Yacong B. Halike