Kuatkan Gerakan Literasi, Pemuda Hidayatullah Tegal Adakan Training Jurnalistik

TEGAL (Hidayatullah.or.id) — Pengurus Daerah Pemuda Hidayatullah Tegal gelar pelatihan jurnalistik dengan tema “Melatih Skill Jurnalis, Menjadi Pemuda-Pemudi Muslim yang Cerdas dan Militan” di aula Pesantren Hidayatullah Tegal, Jawa Tengah, dengan sistem hybrid, Sabtu (31/7/2021).

Ketua Pengurus Daerah Pemuda Hidayatullah Tegal, Agus Rivai, mengatakan training jurnalistik ini adalah bagian dari satu program utama bernama Sakotulis (Satu Kota/ Kabupaten Satu Penulis) yang diusung Pemuda Hidayatullah di seluruh Indonesia dan pada kesempatan ini, digelar di Tegal, Jawa Tengah.

“Maksud dari kegiatan ini untuk mendorong semangat belajar kaum muda ldalam hal literasi terutama menulis, sehingga mereka semakin sadar dan progresif di dalam dakwah keumatan melalui literasi,” terang Agus Rivai.

Hadir sebagai narasumber Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Jawa Tengah, Yusran Yauma yang mengisi materi secara offline. Dan, Ketua Umum Pemuda Hidayatullah, Imam Nawawi yang hadir secara online yang dihadiri oleh 25 peserta offline dan online.

Yusran Yauma dalma paparan sesi pertama mengatakan, bahwa menulis berita atau jenis tulisan jurnalistik adalah yang paling mudah dipelajari sekaligus diterapkan.

“Jurnalistik ini mudah, baik dalam mempelajari atau pun mengamalkannya. Hanya saja butuh konsistensi juga agar tulisan jurnalistik kita dapat bermanfaat luas bagi masyarakat,” ulasnya.

“Kuncinya sederhana, tulis dengan kemampuan yang kita miliki. Sejatinya, tulisan yang selesai walau pun satu, itu lebih berharga dan dapat dinilai dengan jujur, daripada 1000 tulisan yang tidak selesai dan menjadi tumpukan file di laptop,” ucapnya yang disambut tawa hadirin.

Sementara itu, Imam Nawawi lebih mendorong pada sisi kesadaran generasi muda Muslim akan tantangan umat Islam dimana yang gemar membaca dan menulis masih sangat sedikit.

“Penulis muda Muslim masih sangat sedikit. Ini bisa dilihat dari google dan beragam website yang mengabarkan tentang kegiatan dan pikiran kaum muda Muslim. Karena itu training ini menjawab kekosongan tersebut,” tegasnya.

“Tetapi, lebih jauh, kalau ingin menjadikan kegiatan menulis sebagai jalan kebaikan, jalan kemuliaan, maka hendaknya menulis ini dilandasi niat yang benar, niat yang tulus dan ikhlas karena Allah, sehingga kita akan terus menulis,” kata Imam.

Dan karena itu, dia mengingatkan, menulis harus didenyuti dengan rajin membaca dan diskusi, sehingga kita dapat memberi warna dalam kehidupan masyarakat, utamanya di era digital seperti sekarang.

“Boleh punya keinginan menulis setiap hari, misalnya 30 hari tanpa henti menulis. Tetapi jangan setelah 30 hari tidak berhenti, selanjutnya malah ternyata totoal tidak jalan lagi kegiatan menulisnya. Teladanilah para ulama kita dahulu yang terus menulis demi kemajuan umat,” urainya lebih lanjut.

Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari peserta, di antaranya peserta bernama Ima.

“Senang di hari libur ada training menulis. Dulu pernah gabung di beberapa komunitas menulis tetapi terhenti karena terasa ide menulis mampet,” katanya.

“Alhamdulillah setelah ikut training ini saya jadi termotivasi bahwa menulis memang harus diniatkan ibadah juga di jalan Allah,” ucapnya menambahkan.

Pemuda Hidayatullah secara nasional memiliki program sakotulis yang merupakan akronim dari satu kabupaten atau kota, satu penulis.*