Pemuda Islam Jangan Kalah dengan Semangatnya Karl Max

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pemuda terutama pemuda Hidayatullah harus meneladani karakter Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam sebagai seorang ideolog sejati dengan Al Qur’an sebagai inspirasinya dan mukjizat akhir zaman.

“Itulah nafas nafas seorang idelog, yang, kalau kita lihat dalam peradaban Barat, juga sama,” kata Imam saat membuka Rapat Konsolidasi Nasional Pemuda Hidayatullah bagian Indonesia Wilayah Tengah dan Timur, Senin.

Imam lantas mencontohkan sosok Karl Heinrich Marx atau biasa disebut Karl Max, yang dikenal sebagai intelektual murni. Satu satunya kekayaan yang ada pada diri Karl Max adalah wacana dan pemikirannya tentang materialisme.

Karl Max, yang mengusung perjuangan ideologi materialisme yang banyak mempengaruhi laku otoritarian dan diktatorisme, ia begitu gigih bahkan menjalani penderitaan hidup demi apa yang diyakininya.

Karena itu, lanjut Imam, pemuda jangan kalah dengan semangatnya Karl Max, yang penuh totalitas mengusung ideologi kapitalisme dan komunismenya.

“Karl Max tidak mendapatkan dukungan apapun dari siapapun, hingga kemudian berkelana lalu ia bertemu Friedrich Engels yang kelak menjadikan pikiran pikiran Max bertebaran dan hari ini memiliki banyak pengikut,” terang Imam.

Berkaca dari hal itu, Imam mengatakan, seorang idelog melihat apa yang dilakukan hari ini adalah nafas panjang dan dia mengajak kader Pemuda Hidayatullah menyadari itu. “Karena, tanpa kesadaran ideologi ini, kita tidak akan memiliki energi besar,” cetusnya.

Lebih jauh Imam mengatakan, seorang idelog itu selalu berbicara tentang mimpinya yang akan datang ketika apa yang menjadi pikirannya, keyakinan, dan harapannya betul betul bisa dipercaya banyak orang dan kemudian berbondong bondong mewujudkannya.

Menurutnya, sebagai muslim dengan Al Qur’an sebagai sumber inspirasinya, maka mestinya pemuda lebih dari sekedar apa yang dilakukan Karl Max yang sepanjang hidupnya menderita demi ide ide materialismenya.

“Bagaimana mungkin kita tidak yakin bahwa diri kita adalah seorang ideolog sedangkan Al Qur’an itu mengajak kita untuk berfikir panjang melihat dengan jangkauan yang lintas batas. Kita juga diajak melihat alam kubur dan alam akhirat,” kata Imam.

Spirit ideolog tersebut itu semua tidak menuntut kita untuk melakukan hal hal seperti Nabi Musa membelah laut, atau seperti Nabi Daud yang mengelola besi dengan tangannya. “Tapi cukup dengan ketaatan kepada Allah SWT,” ujarnya.

Bagi Imam, kerja kerja di Pemuda Hidayatullah melalui berbagai pelatihan, insya Allah, akan menjadi jawaban bahwa ke depan kita akan memiliki pemimpin yang baik, beriman, dan bertakwa.

Dengan demikian, Imam melanjutkan, jangan pernah ragu apalagi timbul perasaan dan pikiran “rugi” jika menjalankan amanah di Pemuda Hidayatullah ini.

“Yakinlah, setiap kali training yang kita lakukan, di sana Allah akan melihat bahwa ada upaya nyata dari barisan Pemuda Hidayatullah untuk melahirkan pemimpin masa depan yang lebih baik,” tukasnya.

Tiga Peran Instruktur

Dalam kesempatan Konsolidasi Nasional Pemuda Hidayatullah bagian Tengah & Timur meliputi Daerah Istimewa Provinsi Bali, Papua, Papua Barat, Kalimantan dan Sulawesi yang berlangsung secara virtual, Imam menyampaikan peran penting seorang instruktur yang mengawal program Leadership Training Center (LTC) dan Lembaga Pendidikan Al Quran Bersanad (LPQ) yang menjadi gawean nasional Pemuda Hidayatullah.

Menurut Imam Nawawi, seorang instruktur berarti menyandang predikat istimewa. Apa itu?

“Sahabat sahabat yang telah selesai mengikuti forum TOT LTC dan LPQ adalah mereka yang telah menyandang predikat sebagai instruktur. Itu berarti, manhaj dan apa yang kita peroleh di dalam arena TOT itu menjadi satu bagian dari karakter yang harus melekat di dalam diri kita,” kata Ketum Imam.

Seorang instruktur, jelas Imam, jika merujuk bahasa manhaj, berarti dia adalah seorang murabbi yang oleh karena itu ia punya tanggungjawab besar untuk mengerti tentang masalah masalah hidup, tidak saja dari perspektif ilmu keduniawiaan tetapi juga ukhrawi.

“Maka dengan demikian, seorang instruktur itu tidak akan pernah nyenyak tidurnya. Tidak pernah tenang hidupnya sampai betul betul dia memiliki mutarabbi yang dapat dipastikan akan melanjutkan estafeta perjuangan dakwah,” katanya.

Menurut Imam, instruktur juga adalah seorang leader atau pemimpin. Maka sudah semestinya pemimpin itu menghadirkan karya.

Dan, dalam rangka untuk menguatkan apa yang disebut dengan sistem imamah jamaah, terang Imam, maka sudah barang tentu leadership yang dimiliki harus diarahkan pada landasan yang kokoh yaitu pada manhaj dan sistem organisasi itu sendiri.

Yang tak kalah penting, dengan menyandang dua status tadi (murabbi dan leader), maka seorang instruktur juga adalah seorang ideolog.

“Ideolog itu dia bekerja, berkarya dan berjuang walaupun sekelilingnya baik manusia, fakta maupun realita menentang atau memperolok-olok. Ideolog tetap berjuang walaupun semua kelihatannya mustahil,” katanya.

“Orang orang yang memiliki kapasitas idelog ini tidak akan pernah perduli dengan rumitnya keadaan, semustahil apapun keadaan itu menghalangi apa yang menjadi tujuannya,” lanjutnya.

Imam melanjutkan, kita bisa belajar sisi ideologi ini pada bagaimana sikap Rasulullah Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam ketika ditawari menjadi raja, mendapat istri yang cantik cantik dan harta yang melimpah.

Saat ditawarkan hal yang amat menggiurkan itu, Rasulullah hanya mengatakan, seandainya matahari diletakkan di tangan kanannya dan rembulan di tangan kirinya, maka hal itu tidak akan pernah menghentkan dakwahnya. (ybh/hio)