Hikmah tak Potong Kuku dan Cukur Kumis dalam 10 Hari

SALAH satu sunnah fitrah yang dilakukan setiap pekan, terutama di hari Jumat adalah memotong kuku dan mencukur kumis. Sebagaimana terdapat dalam hadis- hadis, yang di antaranya adalah berikut ini:

عن أبي هريرة: الفطرة خمس أو خمس من الفطرة الختان والاستحداد ونتف الإبط وتقليم الأظفار وقص الشارب

Artinya: Amalan sunnah itu ada lima, atau lima dari ajaran fitrah; khitan, mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku, dan mencukur kumis. (Shohih Bukhari, 5/ 2209).

Waktunya biasanya satu pekan sekali atau tepatnya di hari Jumat. Melaksanakan sunnah artinya aktualisasi meneladani dan mencintai Rasulullah. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: Wahai putraku, ini adalah sunnahku. Dan barang siapa menghidupkan sunnahku, maka dia telah mencintaiku, dan barang siapa mencintaiku, maka ia akan bersamaku di surga. (Sunan At- Tirmidzi, 10/197).

Kecintaan pada Rasulullah terbukti dengan mencintai sunnahnya. Ketika seorang muslim memotong kuku, atau menghilangkan kotoran di badannya dan ia melakukannya dengan kesadaran penuh bahwa ia melakukannya karena mencintai Rasulullah dan ingin meneladaninya. Maka bukan hanya ada rasa optimis akan janji Rasulullah bahwa seseorang akan dibangkitkan bersama orang yang dicintainya. Namun ada kebersihan fisik yang ia dapat, terbiasa kuku pendek, kumis dan rambut rapih setiap pekan.

Satu sisi, saat menjelang Idul Adha, bagi yang berniat berkorban disunnahkan untuk tidak memotong kuku, mencukur kumis dan rambut. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu laihi wassallam:

“Jika masuk bulan Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian ingin menyembelih kurban, maka hendaklah ia tidak memotong sedikit pun dari rambut dan kukunya.” (HR Muslim)

Sunnah tersebut berlaku hingga hewan kurban dari orang yang berkorban, hewannya selesai dipotong. Selain itu, perlu diperhatikan bahwasanya sunnah ini hanya berlaku bagi orang berkurban saja, tidak untuk anggota keluarga lainnya.

Inilah yang menarik, biasanya satu pekan potong kuku dan cukur kumis, ini harus menunggu 3 hari lagi saat Idul Adha untuk menunaikan sunnah lain. Sehingga ada rasa risih saat kuku sedikit panjang dan kumis sedikit panjang juga. Rasanya tidak biasa dan tidak sabar menunggu waktu Idul Adha atau waktu menyembelih hewan kurban karena mau segera potong kuku dan kumis.

Ada pertanyaan dari anak, “Bi, mengapa ada laki-laki yang tidak berumis dan berjenggot,” tanyanya polos
“Tidak tahu ya Mas, semua itu pemberian Allah,” jawab saya sekenanya.
“Mengapa jenggot dan kumis ada yang berubah warna putih,” tanyanya kembali dengan lugunya sambil pegang-pegang jenggot saya yang sebagian warna putih.

“Tidak tahu juga mas,” jawab saya, betul-betul tidak tahu
“Kalau kuku ini, kapan memanjangnya, pagi, sore atau malam. Kok tiba-tiba kuku jadi panjang?,” tanyanya sambil menunjukkan kukunya yang mulai panjang karena 10 hari belum dipotong.
“Tidak tahu kapan kuku kita tumbuh memanjangnya,” jawab saya apa adanya.

Terkadang pertanyaan-pertanyaan anak yang sederhana, seringkali orang tua kesulitan memberikan jawaban. Pertanyaan bukan salah karena itu realita yang mereka lihat sehari-hari dan memang realita itu mengundang pertanyaan bagi yang belum paham.

Orang tua biasanya tidak mau tahu, karena sudah bertahun-tahun seperti itu, rasa ingin tahunya tidak sebesar anak-anak.

Pertanyaan ini juga terkait dengan akidah, tauhid atau bisa diarahkan untuk menguatkan keyakinan atas kekuasaan Allah dan lemahnya manusia. Ada hal yang melekat tumbuh di manusia tapi tidak berdaya dan tidak tahu apa yang terjadi. Seperti memutihnya kumis dan memanjangnya kuku.

Diperlukan pengorbanan untuk bisa memahami dan memahamkan tentang sunnah fitrah ini. Bahwa dibalik perintah Allah dan Rasulullah pasti ada hikmahnya yang luar biasa dan itu untuk kebaikan orang-orang beriman. Akal dan nalar manusia saja yang terbatas untuk bisa memahaminya dengan baik. Wallahu a’lam bis shawwab.

ABDUL GHOFAR HADI