KH Nashirul Haq: Alumni PTH sebagai Sarjana Kader Leader

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Alumni Perguruan Tinggi Hidayatullah (PTH) diharapkan membawa sesuatu khas dan istimewa, yang tidak dimiliki oleh perguruan tinggi lainnya, yaitu menjadi sarjana kader leader.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum DPP Hidayatullah, KH Dr Nashirul Haq, Lc.MA, dalam orasi ilmiahnya di acara Yudisium Sarjana Angkatan Pertama Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Hidayatullah Batam, Sabtu, 7 Sya’ban 1442 Hijriah (20/3/2020).

“Kita bersyukur karena telah menjadi sarjana kader leader Hidayatullah. Hidayatullah hadir, termasuk amal usaha dan lembaga pendidikannya bukan untuk menambah jumlah sekolah, pesantren, apalagi perguruan tinggi, tapi mesti membawa sesuatu yang khas, istimewa, yang tentu saja tidak ada di perguruan tinggi lain, yaitu yang berorientasi mencetak sarjana kader dan leader,” kata Ust Nashirul Haq pada acara yang dilakukan di Aula Serbaguna, Gedung Hidayatullah Asia Raya, Kampus 2 Putri, Kampus Utama Hidayatullah Batam.

Pada umumnya kampus perguruan tinggi, lanjut beliau, hanya berorientasi untuk melahirkan sarjana yang siap kerja, dan ini yang ditentang dan dikritisi oleh Abdullah Said, pendiri Hidayatullah, dalam berbagai kesempatan.

“Obsesi almarhum itu, Hidayatullah hadir tidak sekedar menambah jumlah (kelompok/ gerakan Islam), tapi tampil membawa solusi. Maka kehadiran PTH ini orientasinya begitu,” terangnya.

Ketua Umum DPP Hidayatullah ini juga memotivasi para sarjana yang baru saja dibacakan SK Yudisiumnya, untuk percaya diri dan tidak minder, karena mereka mampu menawarkan sesuatu yang tidak ada di tempat lain.

“Ini satu kebanggaan dan kesyukuran bagi adik-adik sekalian, dan jangan minder, harus merasa superior, dan percaya diri, karena kita memang menawarkan sesuatu yang tidak ada dimana-mana,” imbuhnya di hadapan 150-an sarjana yang dilakukan secara offline dan sebagian dalam jaringan online.

Karena kualitas perguruan tinggi itu, lanjut sarjana Universitas Islam Madinah ini, tidak ditentukan oleh besarnya perguruan tinggi, tapi biasanya ditentukan oleh siapa dosen dosennya, siapa murabbinya disitu. “Ada orang-orang hebat yang menjadi murabbinya,” tegasnya.

Dahulu, tambahnya, generasi salaf belum ada pendidikan formal, tapi yang mengajar ada ulama ulama besar, maka masih belasan tahun sudah jadi ulama, seperti Imam Syafi’i, sudah ditunjuk menjadi mufti di umur 16 tahun karena ditangani oleh Imam Malik, murabbinya saat itu.

Sehingga Ust Nashirul Haq mengajak para audiens untuk merenungi ayat Allah SWT yang terdapat dalam al-Qur’an Surah (QS.) Shad [38]: 45

وَٱذۡكُرۡ عِبَٰدَنَآ إِبۡرَٰهِيمَ وَإِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ أُوْلِى ٱلۡأَيۡدِى وَٱلۡأَبۡصَٰرِ

“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishak dan Yakub yang mempunyai kekuatan-kekuatan yang besar dan ilmu-ilmu (yang tinggi)”. (QS. Shad [38]:45).

Katanya, dia menjelaskan, Ulil aidi wal abshar. Punya keterampilan, skill, etos kerja, punya tangan yang terampil. Tapi itu saja tidak cukup.

Wal abshar. Juga punya visi yang besar dan cita-cita. Punya wawasan yang luas, dan punya kecerdasan spiritual. Ulil Abshar juga bermakna orang-orang yang ahli ibadah. Inilah yang hendak dilahirkan dari lembaga pendidikan Hidayatullah,” jelasnya lebih lanjut.

Pertama, sebut Doktor di bidang Ushul Fiqh ini, yaitu skill. Punya keterampilan, expert di bidangnya, sehingga dia bisa menjalankan tugas dengan sebaik baiknya.

“Banyak orang yang berwawasan tapi tidak terampil. Itu tidak bisa menjalankan tugas dengan sebaik baiknya. Banyak berpikir tapi tidak bisa mengeksekusi. Tapi skill tidak cukup. Ada saatnya skill itu mentok ketika sudah ada artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan atau robot,” katanya.

Maka, terangnya, hal itulah perlunya point kedua, yakni knowledge.

“Ada ilmu yang bisa mengembangkan. Ketika skillnya itu bisa digantikan oleh robot, dia kembangkan lagi. Tidak pernah kehabisan inovasi dan kreatifitas,” imbuhnya.

Makanya, lanjut anggota Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat ini, mahasiswa jangan berpikir mau jadi apa, tapi berpikirlah mau buat apa, karena suatu saat pekerjaan itu sudah tidak ada lagi.

“Nah, mestinya kita berpikir begitu, mau bikin apa? Jadi jangan ada di antara adik adik ini bercita cita, jadi pegawai jadi karyawan, kalau mau jadi karyawan, karyawan Allah SWT sekalian, yaitu ingin menciptakan lapangan kerja, misal, bikin pesantren, bikin perguruan tinggi,” ucapnya.

Terakhir, Nashirul Haq kembali mengingatkan tentang proses tarbiyah di Hidayatullah yang terus berkelanjutan. Bahwa istilah alumni di PTH, itu tidak sama dengan istilah alumni di universitas lain.

“Kita sekali lagi patut bangga dan bersyukur bahwa kita telah dihantar untuk mengikuti proses tarbiyah formal di Hidayatullah. Tapi proses ini masih berkelanjutan, karena istilah alumni di PTH tidak sama dengan istilah alumni di universitas lain, yang tidak ada ikatan. Kita ini masih berkesinambungan. Sehingga betul betul menjadi ulil aidi wal abshar,” imbuhnya.

Nashirul Haq juga mengapresiasi serta memberi ucapan selamat kepada para sarjana pendidikan tersebut dan berharap semoga semuanya bisa diberikan kemampuan untuk mengamalkan ilmunya, kemudian memberikan manfaat kepada umat dan agama melalui wadah Hidayatullah, dengan ilmu yang cukup memadai selama di STIT Hidayatullah Batam.

“Anda punya bekal yang cukup untuk bisa mengemban amanah yang saat ini sudah sangat besar, banyak. Butuh kehadiran kader kader yang memiliki integritas dan kapabilitas, kemampuan leadership yang baik, knowledge, skill yang baik, serta attitude, selamat atas semuanya!” tutup alumnus doktoral International Islamic University Malaysia (IIUM) ini.*/Azhari