STIE Hidayatullah Harus Siap Mengkonversi Pengetahuan Kewirausahaan ke Masyarakat Akademik

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Ketua STIE Hidayatullah DR. Agus Suprayogi, ST, SE.Sy, M.Si mengatakan STIE Hidayatullah harus mampu mengambil prakarsa mengkonversi pengetahuan kewirausahaan yang ada di dunia usaha ke masyarakat akademik.

“Antara lain melalui proses “learning by doing” yang mampu mempercepat proses pematangan menjadi calon wirausaha,” kata Agus Suprayogi.

Hal itu disampaikan dia dalam orasi ilmiahnya pada Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-VII STIE Hidayatullah berlangsung khidmat secara virtual dan sebagian luring di Gedung Sekolah Pemimpin, Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Sabtu (13/3/2021).

Oleh karenanya, lanjut Suprayogi, STIE Hidayatullah diharapkan menjadikan dirinya sebagai perguruan tinggi unggulan yang mampu melahirkan entrepreneur intelektual.

Di sinilah, terangnya, peran dan kedudukan strategis STIE Hidayatullah sebagai institusi yang mengembangkan hasil hasil penelitian dan pengembangan.

“Oleh karena itu, dalam kesempatan wisuda ini, saya mengajak seluruh stakeholder dan shareholder Hidayatullah untuk mampu berperan dalam mengembangkan kewirausahaan dikalangan civitas akademika yang berbasis teknologi (technopreneur),” katanya.

Dia melanjutkan, oleh karenanya pengembangan secara intensif dan ekstensif kurikulum berbasis wirausaha, di semua strata pendidikan sampai dengan perguruan tinggi, perlu terus dikuatkan agar mahasiswa memiliki life-skill.

Lebih jauh Suprayogi mengemukakan bahwa acara wisuda kali ini merupakan momentum yang harus dimanfaatkan oleh civitas akademika STIE Hidayatullah untuk berperan dan bergerak aktif memposisikan STIE Hidayatullah sebagai center of excellence di bidang pengembangan wirausaha di lingkungan perguruan tinggi dan role model pengembangan ekonomi Hidayatullah khususnya dan Indonesia pada umumnya.

“Melalui acara dimaksud semakin memperkuat komitmen dan keberpihakan kita bersama, bahwa khususnya para generasi muda mempunyai peran strategis dalam menentukan kemajuan dan arah perjalanan Hidayatullah khususnya dan bangsa Indonesia umumnya kedepan, melalui pengembangan jiwa, akhlak dan budi pekerti Islam berbasis pesantren dan semangat kewirausahaan,” kata Suprayogi.

Dalam pada itu, mereka harus dipersiapkan untuk mampu mandiri dan percaya diri menghadapi tantangan global dan menjaga martabat Hidayatullah dan bangsa Indonesia tercinta.

Oleh karena itu, lanjut dia, perlu dimotivasi untuk menumbuhkan minat generasi muda, untuk berani memulai usaha sebagai wirausaha muda mandiri, kreatif dan produktif.

Menurutnya, peran dan kontribusi seluruh civitas akademika STIE Hidayatullah untuk menjadi role model pengembangan ekonomi serta berperan serta dalam pembangunan Bangsa dan Negara Indonesia khususnya pembangunan ekonomi sangatlah tepat dan sesuai dengan amanat dari visi dan misi STIE Hidayatullah yaitu menjadi Perguruan Tinggi yang berkualitas melahirkan dai sarjana penggerak pembangunan berjiwa leader, entrepreneur dan professional.

Dalam pengembangan kewirausahaan, lanjut Suprayogi, STIE Hidayatullah akan terus menerus mengembangkan program penumbuhan dan pengembangan kewirausahaan di kalangan mahasiswa/i melalui program-program yang mendukung tujuan tersebut.

“Sejalan dengan itu, upaya yang harus secara terus menerus kita lakukan adalah menanamkan semangat dan mentalitas kewirausahaan,” ujarnya.

Semangat kewirausahaan yang dimiliki para mahasiswa dan sarjana belum mampu memanfaatkan kesempatan usaha secara kreatif dan inovatif. Di satu sisi, lanjutnya, memupuk semangat dan mentalitas kewirausahaan di kalangan masyarakat juga diarahkan untuk munculnya semangat kemandirian berusaha.

Di sisi yang lain, melalui berbagai paket pendidikan dan pelatihan termasuk KKN di masjid paling tidak dapat ditumbuhkan wirausaha-wirausaha yang tangguh, baik yang berbasis pada sumberdaya lokal (resources based), maupun yang berbasiskan pada ilmu pengetahuan dan teknologi (knowledge based).

“Ketika Adik-Adik masuk ke masyarakat dan dunia kerja, Adik-Adik akan menjumpai mitra-mitra atau kolega-kolega dengan latar belakang budaya dan bidang-bidang ipteks yang berbeda-beda. Pada momen inilah, Adik-Adik akan lebih memahami bahwa keterbukaan atas perbedaan budaya dan bidang ipteks menjadi sikap yang penting. Dengan bersikap terbuka, Adik-Adik dapat mempelajari permasalahan melalui beragam perspektif. Hal ini pada gilirannya akan memperkaya penguasaan ipteks Adik-Adik,” pesannya kepada wisudawan.

Dia menukaskan, para wisudawan telah dipersiapkan untuk menjadi sarjana plus yang memiliki fikiran cerdas, fleksibel, kooperatif, dan mampu bekerja secara profesional sehingga memiliki kecakapan untuk mengisi pos-pos industri ataupun menciptakan lapangan kerja sendiri.

“Melalui mata kuliah Critical Thinking dan Creative Problem Solving, Adik-Adik dipersiapkan untuk melihat permasalahan secara kritis dari berbagai perspektif sehingga dapat menghasilkan solusi yang kreatif. Selain harus baik di aspek akedemik dan mumpuni di aspek non akademik, Adik-Adik juga telah melakukan magang di industri yang tentunya akan menambah pengetahuan dan mengasah keterampilan yang akan dibutuhkan dalam dunia kerja,” tambahnya.

Menutup pidatonya dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-7 STIE Hidayatullah, Suprayogi menyampaikan ucapan selamat atas para wisudawan dan lulusnya para dai sarjana STIE Hidayatullah.

“Semoga Allah SWT senantiasa memberi bimbingan dan meridhoi usaha kita bersama,” katanya memungkasi. (ybh/hio)