Umat Islam Perlu Terus Selalu Menjaga Dua Kultur Kebaikan

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Umat Islam khususnya bagi segenap kader dan warga Hidayatullah didorong untuk selalu menjaga dua kultur utama yang juga menjadi norma yang kukuh dijaga para ulama pejuang masa silam. Kedua nilai tersebut adalah kultur tradisional dan kultur intelektual.

“Seorang muslim apalagi seorang dai tidak cukup hanya menjadi juru bicara tapi harus menyiapkan diri menjadi ideolog secara istiqomah,” kata Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad saat memberikan taushiah di hadapan peserta TOT Nasional Pemuda Hidayatullah beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, keistiqomahan yang dibangun oleh dua pekerjaan besar yaitu menjadi dai selaku juru bicara (kultur intelektual) dan gerakan membaca yang disebutnya sebagai kultur tradisional, akan menghantarkan umat ini pada kejayaan.

“Dua kultur yang harus dijaga adalah kultur tradisional dan kultur Intelektual ini. Bukan kejayaan yang diceritakan, tapi bagaimana proses mencapai kejayaan itu,” ujarnya.

Maka, lanjutnya, gelaran training of trainers ini adalah pekerjaan besar karena ia adalah bagian dari proses walaupun digelar secara sederhana di Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak.

“Digelar dari titik di Balikpapan untuk menyebar ke Indonesia, dan dari Indonesia inilah satu titik dari dunia,” imbuhnya.

Dia berpesan, gerakan membaca (iqra’) sebagai kultur tradisional harus selalu dijaga dan dikembangkan hingga menjadi sebuah gerakan besar yang kelak kemudian menjadi gelombang yang mencerahkan umat, bangsa, negara dan dunia secara luas.

Karena itu, dia menekankan, jangan sampai kita salah baca dan keliru dalam membaca. Kesalahan dalam membaca bisa berakibat serius karena pembacaan yang melenceng dapat menjadikan bias baik makna maupun tujuannya.

“Karena, kalau kita salah baca diri, maka kita akan salah baca lingkungan. Akhirnya salah baca Indonesia dan salah baca wawasan internasional,” tukasnya.

Dia pun mengaku sering merenung dan memikirkan betapa sangat pentingnya memiliki spirit membaca. Sebab, katanya, untuk mengubah dunia maka dimulai dari membaca.

Demikianlah misalnya dalam sejarah perjalanan wahyu, “Iqra!”, sampai kepada Nabi yang menjadi gambaran betapa gerakan “membaca” ini adalah pekerjaan besar dalam rangka mengangkat martabat peradaban umat manusia.

“Kita ini adalah arsitek peradaban. Peradaban Qur’an. Peradaban yang penuh rahmat. Peradaban damai. Peradaban yang aman. Inilah yang harus disampaikan bahwa dengan tuntunan Qur’an akan melahirkan peradaban yang bermartabat tadi,” katanya.

Oleh karena itu, terang dia, pekerjaan pemimpin Islam itu, pertama, adalah menyampaikan atau membacakan setelah ia membenarkan pembacaan. (ybh/hio)