Cerita KH Abdurrahman Muhammad dan Seekor Nyamuk

SELALU ada yang menarik pada setiap makhluk ciptaan Allah. Demikian pengakuan KH Abdurrahman Muhammad, Pemimpin Umum Hidayatullah.

Diakui, kali ini yang menarik perhatiannya adalah soal semut dan falsafah kebersamaannya. Serangga kecil tersebut dianggap punya insting sekaligus sifat-sifat yang istimewa. Cerita ini dituturnya di hadapan guru-guru Pondok Pesantren Salafiyah Ahlus Shuffah, Gunung Binjai, Balikpapan, Kaltim, beberapa waktu lalu.

“Jadi saya selalu perhatikan semut-semut yang biasa ada di masjid. Saya perhatikan dan itu menyenangkan hati,” ucap sahabat Pendiri Hidayatullah, KH Abdullah Said Rahimahullah ini. “Kalau ada nyamuk yang hinggap di badan saya, bismillah, saya pukul saja. Niatnya memberi makan kepada semut,” lanjutnya bercerita.

Tak butuh waktu lama, seekor semut segera dilihatnya mendekat kepada bangkai nyamuk yang sudah tergeletak. “Kuat sekali insting penciuman binatang kecil tersebut. Dari jauh itu dia cium, ah datang, tapi lama itu baru ditemukan, biasanya dia keliling-keliling dulu berputar,” ucap Ustadz Abdurrahman tersenyum meneruskan cerita.

Tak tahan, ustadz yang telah malah melintang berdakwah itu mengaku terkadang mengambil kembali nyamuk dan mendekatkannya ke semut yang dilihatnya masih sibuk mencari. “Kadang kuangkat lagi kudekat-dekatkan ke semut. Tapi karena terkejut semut itu lari kembali,” ujarnya.

Akhirnya, melanjutkan cerita, semut itu lalu dibiarkan saja. “Eh datang dia, sesudah itu lari lagi dia, rupanya pergi kasih tahu temannya. Karena setelah itu langsung datang rombongan semut-semut. MasyaAllah, luar biasa.”

Menurut pegiat dakwah asal Kota Pare-Pare (Sulsel) tersebut, ada pelajaran hidup berjamaah dari kehidupan semut. Di sana ada kebersamaan berarti ada kekuatan. Ia disebut sebagai fitrah sekaligus daya tarik. Itulah mengapa, tugas pokok pemimpin ialah mensolidkan kebersamaan sebagai satu sumber kekuatan.

Sebaliknya, ketika kebersamaan itu hilang, maka tidak ada lagi yang menarik dalam kehidupan. Semua jadi hambar. Bahkan yang tadinya indah, jadi hilang berganti suram. Makanya, tugas pemimpin ialah menguatkan kebersamaan untuk melahirkan kekuatan jamaah.

“Ceramah saja tidak cukup. Ngomong bagus itu gampang. Tapi lebih penting, bagaimana setiap orang mengambil peran maksimal dalam perjuangan dakwah ini. Semua yang diomongkan harus terprogram dan terkonsep dengan baik,” pungkas Ustadz Abdurrahman dan mengutip ayat tentang amanah dalam al-Qur’an pada kegiatan Rabu, (06/07/2022) itu.* (Masykur/MCU)

Original source: ummulqurahidayatullah.id