Energi Kebaikan Akan Lahirkan Kebaikan, Abadi Senantiasa

DALAM kajian fisika, energi bisa diubah bentuknya, namun tidak dapat diciptakan atau pun dimusnahkan. Karena itu belakangan sempat santer istilah kekekalan energi.

Hal ini karena memang kehidupan manusia tidak bisa berlangsung dengan baik tanpa energi. Manusia misalnya, ia akan hidup selama sepekan saja jika sepanjang itu memutuskan tidak minum air sama sekali.

Air adalah sumber energi, air bisa dikerahkan menjadi sumber energi listrik. Air juga sumber energi hidup manusia bahkan alam semesta.

Menariknya, kehidupan manusia itu sendiri sebenarnya adalah energi. Setiap pikiran, ucapan, dan tindakan yang dilepaskan akan menjadi energi. Maka, Islam mendorong kita mencari teman (energi) yang positif, karena dengan cara itulah seseorang bisa terus positif energinya.

Hanya saja ia tidak bisa otomatis baik, perlu kesadaran, perlu perencanaan, kesungguhan dan keyakinan.

Energi Kebaikan

Ini sebuah kisah sekaligus fakta bagaimana energi kebaikan yang dilepaskan melahirkan gelombang kebaikan yang luar biasa.

Suatu waktu, seorang guru melihat muridnya pergi sekolah tanpa sepatu, kala itu tahun 1990-an di daerah Timika Papua.

Sang guru itu tidak bertanya, kenapa tidak pakai sepatu kepada murid sekolah itu. Ia malah balik kanan mengambil sepatu yang dimiliki kemudian diserahkan kepada murid itu.

“Sekolah harus pakai sepatu. Nah, ini sepatu, silakan dipakai sekolah,” ucap sang guru.

Sang murid hanya mengangguk dan tersenyum bahagia, lalu sekelebat berlari kencang dengan sepatu baru yang diterimanya.

Enam belas tahun kemudian, sang murid ini bertemu dengan sang guru.

“Assalamu’alaikum,” Ustadz. Masih ingat saya,” kata murid itu yang kini sudah berperawakan tinggi, bersih dan tampan.

“Tidak,” jawab sang guru singkat.

“Saya adalah Robi, saya adalah anak yang ke sekolah tidak punya sepatu, lalu, Ustadz kasih saya sepatu waktu SD,” ucapnya.

Seketika sang guru ingat. “Oh, itu kamu. Saya sudah lupa kejadian itu,” timpal sang guru yang diikuti gerakan salaman yang lebih erat dan pelukan hangat.

Guru itu mungkin tak pernah berpikir, energi positif yang dikerahkan hanya dalam bentuk memberi sepatu itu akan mendatangkan energi lebih besar lagi dikemduian hari.

Sang murid itu ternyata termotivasi belajar, ia kuliah di Surabaya, kini menjadi kepala sekolah di daerah Kudus Jawa Tengah.

Inilah bukti nyata, bahwa setiap kebaikan yang kita dayagunakan karena iman akan menjadi energi positif yang terus menghadirkan kebaikan dan pada akhirnya membanggakan.

Jauh-jauh hari sebelum manusia mengenal istilah dan dunia fisika atau apapun, Allah telah menegaskan di dalam Al-Qur’an.

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman: 60).

Jadi, untuk menjadi baik, hakikatnya kita butuh keyakinan. Karena referensi, data, fakta, bahkan teori yang kini berjibun dimana-mana tidak akan mampu mendorong manusia menebar energi positif, tanpa keimanan.

Maka, inilah saatnya kita kembali tunduk, percaya, patuh, dan yakin bahwa hanya perilaku baik kita semata yang akan menghadirkan kebaikan besar dikemudian hari.

Inilah spirit Ustadz Muhammad Sulthon yang disampaikan kepada Pemuda Hidayatullah Papua Barat yang melaksanakan Musyawarah Wilayah di Kaimana. Kebaikan itu akan menjadi energi besar kehidupan yang mengubah segalanya menjadi baik dengan idzin-Nya. Allahu a’lam.

*) IMAM NAWAWI, Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.