Kepemimpinan

Tahun 2020 sejatinya tahun yang bisa diibaratkan seperti musim buah-buahan. Berbagai ormas bahkan daerah akan memasuki masa-masa gelaran pergantian pemimpin puncak melalui beragam nama forum, seperti muktamar, musyawarah nasional, musyawarah besar dan mungkin yang lainnya.

Sekalipun beberapa di antaranya, seperti Muhammadiyah dan juga NU telah memutuskan melaksanakan agenda lima tahunan mereka di masa pandemi telah pergi, alias tidak di tahun 2020 ini. Namun tidak demikian halnya dengan Hidayatullah bahkan pemerintah melalui program Pilkada serentaknya.

Ketua Panitia Munas V Hidayatullah, Wahyu Rahman melalui meme yang beredar luas menyebutkan, “Munas Hidayatullah kali ini akan kita lakukan secara online. Berdasarkan hasil keputusan Musyawarah Majelis Syura Hidayatullah.”

Semua agenda di tahun 2020 nampaknya akan menjadi kenangan tak terlupakan, mengingat di tahun ini semua hal dibatasi, mulai dari sekolah hingga menikah, mulai dari keluar rumah hingga beramah-tamah. Namun, masih ada satu alternatif yang belakangan booming di tengah-tengah masyarakat, yakni pertemuan virtual alias online.

Ini berarti, Munas Hidayatullah V juga hampir bisa dipastikan akan menjadi Munas yang “istimewa” dan karena itu tidak akan terlupakan. Ibarat sebuah musim panen, bisa dikatakan ini adalah panen yang mengesankan, karena tetap bisa dilakukan, walau pun dengan cara yang berbeda dan memerlukan begitu banyak macam adaptasi di dalam memanennya.

Kepemimpinan

Ada beragam definisi tentang kepemimpinan, Griffin dan Ebert misalnya memahami kepemimpinan (leadership) sebagai proses memotivasi orang lain untuk mau bekerja dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam pandangan Huges Ginnett dan Curphy menjelaskan bahwa kepemimpinan adalah sebuah fenomena yang kompleks meliputi tiga elemen yaitu pemimpin, yang dipimpin dan situasi.

Artinya, bagi sebagian pemikir Barat, kepemimpinan lebih pada sisi permukaan yang menyentuh aspek manajemen, teknis dan budaya yang memang memenuhi syarat dalam kajian ilmiah versi mereka. Namun, sejatinya kepemimpinan lebih dari sekedar apa yang mereka pahami.

Dalam Islam, pada kepemimpinan level satu saja (keluarga) sudah terang bahwa kepemimpinan adalah perihal tanggung jawab seorang suami dan sekaligus ayah memastikan keluarganya tidak tersentuh api neraka.

Postulat ini memberikan pemahaman terang bahwa kepemimpinan adalah keteladanan, komitmen dan pengorbanan untuk sebuah progresivitas.

Jika kemudian postulat itu kita bentangkan dalam ruang sejarah peradaban Islam, maka kita akan mudah temukan, bagaimana peran-peran kepemimpinan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ﷺ beserta para sahabatnya lebih mengarah pada kekuatan teladan, komitmen kebenaran, dan progresivitas dakwah dan tarbiyah.

Dengan demikian, hal yang harus selalu ada dalam kehidupan ini adalah soal kepemimpinan. Sebab dalam perspektif Barat maupun Islam, kepemimpinan mutlak diperlukan. Bagi Barat kepemimpinan diperlukan untuk pemecahan masalah sosial yang kompleks. Dalam Islam, kepemimpinan menentukan rahmat dan berkah dari Allah Ta’ala kepada pendudu sebuah negeri (QS. 7: 96).

Oleh karena itu kemudian dikenal istilah kepemimpinan profetik, yang diharapkan mampu menggeser skala motivasi manusia dari sekedar aspek-aspek permukaan seperti bagaimana bertahan hidup, hidup aman menuju pada kebutuhan substansial sekaligus mulia dalam kehidupan manusia itu sendiri, yang meliputi manivestasi iman, martabat diri, aktualisasi diri sebagai hamba sekaligus khalifah Allah di muka bumi.

Kepemimpinan profetik dalam kajian manhaj Hidayatullah dapat dirujuk pada bagaimana kehendak Allah di dalam Surah Al-Mudatstsir yang berbicara tentang kepemimpinan diri yang dasar dan tujuan dari sebuah gerakan dakwah-tarbiyah yang terorganisir adalah dalam rangka membesarkan Allah dan menyepikan hati dari beragam pretensi duniawi yang fana. Kriterianya pun semakin terang dan mudah untuk dimengerti saat merujuk keterangan yang disampaikan oleh Nabi Muhammad ﷺ.

“Barangsiapa memilih seorang pemimpin untuk suatu kelompok, yang di kelompok itu ada orang yang lebih diridhai Allah daripada orang tersebut, maka ia telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman.”(HR. Hakim).

Pendek kata, musim kepemimpinan adalah momentum dimana seluruh umat Islam, kader pergerakan dan pemuda pegiat dakwah dapat melihat bahwa ini berarti semua harus siap dengan sebuah perubahan besar sekaligus mendasar, yakni bagaimana memproses diri, menempa, hingga menentukan pandangan dan pilihan pada sosok-sosok yang secara eksplisit memiliki lebih banyak kecenderungan pada iman, tanggung jawab, cita-cita dan keteladanan dalam kebaikan-kebaikan.

Dalam kata yang lain, momentum Munas V Hidayatullah harus menjadi medan pembelajaran penting sekaligus “pemberi warna” tersendiri dalam bentuk pengalaman yang menjaga sekaligus menguatkan visi organisasi terinternalisasi dalam diri, sehingga progresivitas dakwah dan tarbiyah benar-benar dapat diraih untuk selanjutnya ditransformasikan dalam ragam media pencerahan, sehingga ormas berbasis pesantren ini dapat berkontribusi besar di dalam mewujudkan Indonesia yang bermartabat. Dan, tidak lama lagi, musim kepemimpinan ini akan hadir dan mari kita “panen” dengan penuh kesyukuran dan komitmen menjadi lebih baik di masa mendatang, sekalipun pandemi seakan tak kendur menghadang. Allahu a’lam.*

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.