Usai Jakarta, SAR Hidayatullah Akan Kembali Gelar Diklat di NTB dan Sulawesi Barat

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Sebagai lembaga yang concern pada penanggulangan bencana, pencarian dan pertolongan, SAR Hidayatullah terus bergerak melakukan pendidikan dan pelatihan dalam upaya mitigasi dan kewaspadaan dini menghadapi bencana.

Usai menuntaskan Diklat Dasar di DKI Jakarta berlangsung selama 10 hari yang ditutup pada hari Selasa pekan ini di Cikaret, Bogor, SAR Hidayatullah kembali mengagendakan diklat serupa di sejumlah wilayah lainnya. Yang terdekat adalah di Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Barat.

“Alhamdulillah persiapan kegiatan sudah dilakukan. Kita juga melakukan silaturrahim dan komunikasi dengan Basarnas setempat dalam rangka mensukseskan acara tersebut,” kata Ketua Umum SAR Hidayatullah Irwan Harun dalam keterangannya, Kamis (1/7/2021).

Saat penyelenggaraan hari Ke-4 Diklat DKI Jakarta, Panitia Diklat SAR Hidayatullah NTB melakukan silaturrahim dan diterima Basarnas NTB di kantornya untuk mengkoordinasikan Diklat SAR Hidayatullah yang rencannya digelar pada tanggal 1-10 Juli 2021.

Demikian juga dilakukan Panitia Diklat SAR Hidayatullah wilayah Sulbar yang melakukan kunjungan ke Basarnas Sulbar untuk melaporkan rencana kegiatan Diklat SAR Hidayatullah yang akan digelar pada tanggal 1-10 Agustus 2021 mendatang.

Harun mengatakan, SAR Hidayatullah juga terus menjalin komunikasi dan sinergi dengan berbagai pihak terkait lainnya, termasuk berkesempatan menggadiri undangan pertemuan koordinasi di kantor pusat Basarnas belum lama ini.

Ia berharap agenda diklat SAR Hidayatullah yang telah dicanangkan tersebut dapat berjalan dengan baik, lancar dan tak kurang satu apapun. “Mohon doa dan dukungannya,” katanya.

Dia menandaskan pentingnya menyadarkan masyarakat tentang potensi bencana di Indonesia, bahkan, seperti data Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB), Indonesia adalah salah satu dari 35 negara dengan tingkat potensi risiko bencana paling tinggi di dunia, menurut indikator World Bank.

BNPB menyebut, dari hampir 75.000 desa yang ada di Indonesia, lebih dari 53.000 desa atau kelurahan berada di daerah rawan bencana. BNPB juga mencatat terdapat 51 juta keluarga di Indonesia yang tinggal di daerah-daerah rawan bencana tersebut.

Karena itu, diklat yang digelar di daerah ini diharapkan dapat melahirkan lebih banyak lagi sumber daya relawan kemanusiaan yang memiliki kemampuan memadai dalam penanggulangan bencana, pencarian dan pertolongan serta dalam upaya mitigasi dan kewaspadaan dini menghadapi bencana. (ybh/hio)