AdvertisementAdvertisement

Spektrum Makna Iqra’ Versi Al Quran

Content Partner

ALLAH SWT telah menurunkan firman-Nya melalui malaikat pembawa wahyu, yaitu Malaikat Jibril. Dalam membawa firman Allah tersebut, Malaikat Jibril lalu menyampaikan kepada Nabi Muhammad SAW.

Ayat pertama yang diturunkan Allah ke bumi adalah “Iqra'” yang berarti, “bacalah”. Berbeda dengan terma – تلى – يتلو – تلاوة – memiliki arti membaca yang mengharuskan teks tertulis.

Allah SWT berfirman pada Surat Al-Kahfi: 27

وَاتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ كِتَابِ رَبِّكَ ۖ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ وَلَنْ تَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا

Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Tuhanmu (Al Quran). Tidak ada (seorangpun) yang dapat merubah kalimat-kalimat-Nya. Dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain dari pada-Nya. Yakni, Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab Rabb-Mu. Tidak ada seorang pun yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya. Dan engkau tidak akan mendapatkan perlindungan selain perlindungan-Nya.

Sedangkan istilah قراَ – يقراُ – قرانا – وقِراءَةً

memiliki spektrum makna yang luas dan tidak bertepi (seluas yang bisa dijangkau oleh bacaan). Quran juga mengandung bacaan yang sempurna. Disinilah berlaku kaidah bahasa Arab :

هَدْفُ المَعْمُولِ يُفِيْدُ العُمُوْمَ

Membuang makmul/ obyek memberi spektrum makna umum/luas.

Allah menyebutkan kata Iqra’ secara berulang kali dalam Surah Al-Alaq ayat 1-5. Perintah iqra pertama, ilmu yang diserap berkat usaha pelakunya (ilmu kasb). Dan perintah kedua diperoleh dalam kondisi ruhani yang bersih (ilmu ladunni). Ikhtiar lahir disempurnakan dengan ikhtiar batin. Dan kedua ilmu tersebut bersumber dari yang Maha ‘Alimul Ghaibi Was Syahadah. “Satu kata saja dalam Alquran itu pasti mempunyai makna yang sangat besar,” likulli rasm makna (setiap tulisan menyimpan makna).

Setidaknya terdapat empat tahapan dalam membaca merujuk Al Quran:

Pertama: How To Read

Bahwa makna Iqra’ pertama dalam Surah tersebut adalah how to read, yaitu bagaimana cara kita membaca Alquran dengan baik dan benar, serta dapat mengkhatamkannya. “Meskipun tidak tahu artinya, tapi dapat pahala.

Terdapat sejumlah hadits Nabi yang menjelaskan mengenai keutamaan membaca Alquran. Keutamaan di dalam hadits-hadits tersebut sudah seyogianya membuat umat Islam tidak meninggalkan Alquran dan terus membaca dan mengamalkannya.

Berikut beberapa hadits mengenai keutamaan membaca Alquran yaitu di antaranya HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah:

لا حَسَدَ إلَّا في اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ القُرْآنَ، فَهو يَتْلُوهُ آناءَ اللَّيْلِ، وآناءَ النَّهارِ، فَسَمِعَهُ جارٌ له، فقالَ: لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ ما أُوتِيَ فُلانٌ، فَعَمِلْتُ مِثْلَ ما يَعْمَ

“Beriri hatilah hanya kedada dua jenis orang: (yakni salah satunya) orang yang dapat membaca/menghafal Alquran (atas kuasa dan karunia Allah SWT), lalu ia membacanya pada malam dan siang hari. Kemudian serang tetangga mendengarnya dan berkata: saya berharap bahwa saya telah diberikan seperti yang telah diberikan si fulan atas (karunia itu), sehingga saya dapat melakukan apa yang dia lakukan.” 

Namun demikian, Islam juga tidak mengesampingkan aspek psikologis para kaum Muslimin yang belum pandai membaca atau mengenali Alquran namun yang bersangkutan masih tetap mendekatkan dirinya kepada Alquran. Dalam hal ini, Rasulullah SAW juga bersabda: 

الَّذي يقرأُ القرآنَ وهو ماهرٌ به مع السَّفَرةِ الكِرامِ البَررةِ، والَّذي يقرأُ القرآنَ وهو عليه شاقٌّ فله أجران

“Keutamaan membaca Alquran didapatkan kepada orang Mukmin yang pandai membaca Alquran, maka kedudukannya di akhirat ditemani para malaikat yang mulia. Dan orang yang membaca Alquran dengan gagap, sulit membaca dan memahami Alquran, baginya terdapat dua pahala kebaikan.” (HR Muttafaq ‘Alaih dari Aisyah RA).

Selain membaca psikologis umat Islam dalam kemampuan dan pemahaman terhadap Alquran, Islam juga memberikan jaminan ganjaran pahala yang jelas kepada mereka yang membaca Alquran dalam parameter banyak atau sedikitnya. Rasulullah bersabda: 

من قرأ حرفًا من كتابِ اللهِ فله به حسنةٌ والحسنةُ بعشرِ أمثالِها، لا أقولُ ألم حرفٌ، ولكن ألفٌ حرفٌ، ولامٌ حرفٌ، وميمٌ حرفٌ

“Barang siapa yang membaca satu huruf dari Alquran, maka baginya satu kebaikan dengan membaca tersebut. Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi 10 kebaikan di setiap satu huruf: akan tetapi Alif satu huruf, lam satu. Aku tidak mengatakan bahwa (yang dimaksud huruf) berarti Mim (dimaknai) satu huruf.” 

Kedua: How To Learn

Kemudian, Iqra’ yang kedua adalah how to learn, yang berarti tentang bagaimana mendalami Alquran dengan mengetahui artinya, tafsirnya, bahkan takwilnya.

Untuk menafsirkan Alquran, ada beberapa ilmu yang harus dikuasai. Dalam kitab Fadhilah Amal yang ditulis oleh Maulana Zakariyya
Al Khandahlawi disebutkan, Ibnu Mas’ud RA berkata, “jika kita ingin memperoleh ilmu, maka pikirkan dan renungkanlah makna-makna Alquran, karena di dalamnya terkandung ilmu orang-orang dahulu dan sekarang.”

Namun, menurut Maulana Zakariyya, untuk memahaminya, kita mesti menunaikan syarat dan adab-adabnya terlebih dahulu. Berdasarkan keterangan para ulama, Maulana Zakariyya menyebut untuk menafsirkan Alquran diperlukan keahlian dalam lima belas bidang ilmu.

”Saya akan meringkas kelima belas ilmu itu semata-mata agar diketahui bahwa tidak mudah bagi setiap orang memahami makna batin Alquran ini,” kata Maulana Zakariyya.

Kelimabelas ilmu itu adalah :

Pertama, Ilmu Lughat, yaitu ilmu untuk mengetahui arti setiap kata Alquran. Mujahid rah.a berkata, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka tidak layak baginya berkomentar tentang tentang ayat-ayat al Qur’an tanpa mengetahui ilmu lughat. Sedikit pengetahuan tentang lughat tidaklah cukup karena kadang kala satu kata mengandung berbagai arti. Jika hanya mengetahui satu atau dua arti, tidaklah cukup. Bisa jadi kata itu mempunyai arti dan maksud yang berbeda.”

Kedua, Ilmu Nahwu (tata bahasa). Sangat penting mengetahui ilmu nahwu, karena sedikit saja I’rab hanya didapat dalam ilmu nahwu.

Ketiga, Ilmu Sharaf (perubahan bentuk kata). Mengetahui ilmu sharaf sangat penting, karena perubahan sedikit bentuk suatu kata akan mengubah maknanya.

Ibnu Faris berkata, “jika seseorang tidak mempunyai ilmu sharaf, berarti ia telah kehilangan banyak hal.” Dalam Ujubatut Tafsir, Syaikh Zamakhsyari rah.a. menulis bahwa ada seseorang yang menerjemahkan ayat al Qur’an yang berbunyi:

{ يَوْمَ نَدْعُوْا كُلَّ أُنَاسٍ بِامَامِهِم}

“(ingatlah) pada suatu hari (yang pada hari itu) Kami panggil setiap umat dengan pemimpinnya.” (QS. Al Isra [17] : 71)

Karena ketidaktahuannya tentang ilmu Sharaf, ia menerjemahkan ayat itu seperti ini : “pada hari ketika manusia dipanggil dengan ibu-ibu mereka.” Ia mengira bahwa kata ‘imaam’ (pemimpin) yang merupakan bentuk mufrad (tunggal) adalah bentuk memahami ilmu sharaf, tidak mungkin akan mengartikan ‘imaam’ sebagai ibu-ibu.

Keempat, Ilmu Isytiqaq (akar kata). Mengetahui ilmu isytiqaq sangatlah penting. Dengan ilmu ini dapat diketahui asal-usul kata. Ada beberapa kata yang berasal dari dua kata yang berbeda, sehingga berbeda makna. Seperti kata ‘masih’ berasal dari kata ‘masah’ yang artinya menyentuh atau menggerakan tangan yang basah ke atas suatu benda, atau juga berasal dari kata ‘masahat’ yang berarti ukuran.

Kelima, Ilmu Ma’ani. Ilmu ini sangat penting diketahui, karena dengan ilmu ini susunan kalimat dapat diketahui dengan melihat maknanya.

Keenam, Ilmu Bayaan. Yaitu ilmu yang mempelajari makna kata yang zhahir dan yang tersembunyi, juga mempelajari kiasan serta permisalan kata.

Ketujuh, Ilmu Badi’, yakni ilmu yang mempelajari keindahan bahasa. Ketiga bidang ilmu diatas juga disebutsebagai cabang ilmu balaghah yang sangat penting dimiliki oleh para ahli tafsir. Alquran adalah mukjizat yang agung, maka dengan ilmu-ilmu diatas, kemukjizatan Alquran dapat diketahui.

Kedelapan, Ilmu Qira’at, Ilmu ini sangat penting dipelajari, karena perbedaan bacaan dapat mengubah makna ayat. Ilmu ini membantu menentukan makna paling tepat diantara makna-makna suatu kata.

Kesembilan, Ilmu Aqa’id. Ilmu yang sangat penting dipelajari ini mempelajari dasar-dasar keimanan. Kadangkala ada satu ayat yang arti zhahirnya tidak mungkin diperuntukkan bagi Allah Swt. Untuk memahaminya diperlukan takwil ayat itu.

Kesepuluh, Ushul Fiqih. Mempelajari ilmu ushul fiqih sangat penting, karena dengan ilmu ini kita dapat mengambil dalil dan menggali hukum dari suatu ayat.

Kesebelas, Ilmu Asbabun-Nuzul. Yaitu ilmu untuk mengetahui sebab-sebab turunnya, maka maksud suatu ayat mudah dipahami. Karena kadangkala maksud suatu ayat itu bergantung pada asbabun nuzul-nya.

Keduabelas, Ilmu Nasikh Mansukh. Dengan ilmu ini dapat dipelajari suatu hukum yang sudah dihapus dan hukum yang masih tetap berlaku.

Ketigabelas, Ilmu Fiqih. Ilmu ini sangat penting dipelajari. Dengan menguasai hukum-hukum yang rinci akan mudah mengetahui hukum global.

Keempatbelas, Ilmu Hadits. Ilmu untuk mengetahui hadits-hadits yang menafsirkan ayat-ayat al Qur’an.

Kelimabelas, Ilmu Wahbi. Ilmu khusus yang diberikan kepada Allah kepada hamba-Nya yang istimewa, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:

مَنْ عَمِلَ بِما عَلِمَ وَرَثَهُ الله عِلْمَ مَالَمْ يَعْلَمْ

“Barangsiapa mengamalkan apa yang ia ketahui, maka Allah akan memberikan kepadanya ilmu yang tidak ia ketahui” (HR. Abu Syaikh)..

Juga sebagaimana disebutkan dalam riwayat, bahwa Ali RA pernah ditanya oleh seseorang, “Apakah Rasulullah telah memberimu suatu ilmu atau nasihat khusus yang tidak diberikan kepada orang lain ?” maka ia menjawab, “Demi Allah, demi Yang menciptakan Surga dan Jiwa. Aku tidak memiliki sesuatu yang khusus kecuali pemahaman Alquran yang Allah berikan kepada hamba-Nya.” Ibnu Adi Dunya berkata, “Ilmu Alquran dan pengetahuan yang didapat darinya seperti lautan yang tidak bertepi.”

Menurut Maulana Zakariyya, ilmu-ilmu yang telah diterangkan di atas adalah alat bagi para mufassir Alquran. “Seseorang yang tidak memiliki ilmu-ilmu tersebut lalu menafsirkan Alquran, berarti ia telah menafsirkan menurut pendapatnya sendiri, yang larangannya telah disebutkan dalam banyak hadits,” kata Maulana Zakariyya.

Para sahabat telah memperoleh ilmu bahasa Arab secara turun temurun, dan ilmu lainnya mereka dapatkan melalui cahaya Nubuwwah. Imam Suyuthi rah.a. berkata, “Mungkin kalian berpendapat bahwa ilmu Wahbi itu berada diluar kemampuan manusia. Padahal tidak demikian, karena Allah sendiri telah menunjukan caranya, misalnya dengan mengamalkan ilmu yang dimiliki dan tidak mencintai dunia.”

Ketiga: How To Understand

Selanjutnya, iqra’ yang ketiga adalah how to understand, yaitu bagaimana kita menghayati kitab Allah tersebut.

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS Shad [38]: 29).

Allah SWT dalam ayat di atas menegaskan, Alquran sebagai panduan hidup (al-Kitab) yang diturunkan ke qalbu Muhammad saw penuh dengan berkah (mubarak) atau mengandung banyak manfaat bagi manusia dalam semua hal, baik yang berkenaan dengan dunia maupun akhirat.

As-Sa’dy dalam menafsirkan kata mubarakun menjelaskan, pada Alquran ada kebaikan yang banyak, ilmu yang luas dan dalam. Berisi petunjuk yang mengeluarkan diri dari kesesatan, penyembuh dan penawar dari berbagai macam racun dan penyakit.

Selain itu berisi cahaya yang dapat mengeluarkan seseorang dari kegelapan hawa nafsu, bimbingan hukum dan aturan yang dibutuhkan setiap mukalaf (orang yang telah berusia terbebani hukum).

Juga petunjuk dalil-dalil yang jelas dan pasti yang dibutuhkan untuk segala ruang dan waktu. Tidak ada keterbatasan padanya dan telah menjadi panduan bagi alam semesta sejak awal penciptannya.

Bertadabur secara kosakata adalah sebuah proses berpikir mendalam dan menyeluruh yang dapat menghubungkan seseorang ke pesan paling akhir sebuah perkataan dan mencapai tujuan maknanya yang terjauh.

Menadaburi perkataan maksudnya memperhatikannya dari permulaan hingga akhir, kemudian mengulangi perhatian itu berkali-kali.

Prof Dr Nasser al-Omar, ketua Lembaga Tadabur Quran Internasional yang juga Sekretaris Jenderal Ulama Muslim Dunia mengatakan semua problematika umat yang kita saksikan di negeri kaum Muslimin hari ini berupa kehinaan, kelemahan, kemunduran, dan berbagai problem lainnya disebabkan oleh jauhnya kaum Muslimin dari Alquran.

Karena, mereka tidak menadaburi dan mengamalkan Alquran. Oleh karena itu, jika umat ingin keluar dari semua problem tersebut dan ingin bangkit dari keterpurukannya, harus menadaburi Alquran dan mengamalkannya.

Rasulullah saw sangat menyayangkan orang yang tidak mengacuhkan Alquran atau tidak mengambil manfaat yang begitu banyak dalam Alquran.

Keluh kesah Rasulullah itu kemudian tergambar dalam ayat berikut, “Berkatalah Rasul, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Alquran itu sesuatu yang tidak diacuhkan.’” (QS al-Furqan [25]: 30).

Imam Ibnu Katsir dan Ibnu Qayyim al-Jauziyah mencontohkan orang yang menjadikan Alquran sesuatu yang tidak diacuhkan, di antara maksudnya adalah orang yang tidak menadaburi Alquran karena bacaan mereka tidak mendatangkan manfaat bagi mereka.

Orang yang menadaburi Alquran juga akan merasakan beberapa manfaat penting dalam kehidupannya. Di antaranya, pertama, mendapatkan hidayah (petunjuk dari kesesatan).

Manusia membutuhkan ilmu dalam menjalani hidupnya agar tidak tersesat, ketahuilah bahwa ilmu sesungguhnya yang dapat mengeluarkan manusia dari ketersesatan adalah ilmu yang berasal dari Allah saja.

Alquran adalah sekumpulan firman Allah yang berisi ilmu-ilmu dari Allah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu. “Katakanlah, apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang menunjuki kepada kebenaran ? Katakanlah, Allahlah yang menunjuki kepada kebenaran. Maka, apakah orang-orang yang menunjuki kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali (bila) diberi petunjuk? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimanakah kamu mengambil keputusan?” (QS Yunus [10]: 35).

Kedua, mendapatkan cahaya. Ada banyak kegelapan yang dihadapi manusia dalam menjalani hidupnya. Ada makhluk kegelapan yang tercipta, ada kekuatan jahat yang bekerja kala malam mulai kelam, ada kejahatan para tukang sihir yang meniupkan mantera ke benda-benda, ada kejahatan orang yang hasad (dengki) jika melihat yang tidak ia sukai.

Selain itu, setiap orang di dunia ini sangat membutuhkan cahaya agar tidak salah jalan, tidak terjerembap, bahkan terjatuh, ke jurang yang berbahaya.

Manusia membutuhkan cahaya untuk dapat membedakan jenis dan bentuk sesuatu, membedakan warna-warni. Dengan bertadabur Alquran, manusia akan mendapatkan bimbingan cahaya terang benderang.

“Maka, berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Alquran) yang telah Kami turunkan. Dan, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Taghabun [64]: 8).

Ketiga, manusia akan mendapatkan furqan (pembeda antara hak dan batil). Ilmu manusia sangatlah sedikit karena kemampuannya menyerap ilmu dari sekitarnya juga amat terbatas.

Rasio manusia juga sangat lemah dan kurang meluas sehingga tak dapat menjangkau alam lain yang tak pernah terindera oleh organ inderawinya. Informasi yang sampai dari seseorang kepada orang lain sering kali mengalami distorsi.

Berbagai keterbatasan inilah yang sering membuat manusia bimbang dan ragu dalam menyikapi sesuatu, membuat manusia bingung dalam mengambil keputusan yang bermanfaat bagi kehidupan masa kini atau masa depannya, membuat manusia tak pasti dalam menatap dan melangkah.

Saat itulah manusia membutuhkan kekuatan lain yang berasal dari luar dirinya agar yakin dalam memandang, menyikapi, dan melangkah ke arah kebenaran.

Alquran sebagai furqan-lah yang dapat membebaskan manusia dari semua kebimbangan dan keraguannya. “Mahasuci Allah yang telah menurunkan al-Furqan (Alquran) kepada hamba-Nya agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS al-Furqan [25]: 1).

Demikian beberapa manfaat tadabur Alquran. Semoga Allah merahmati kita semua dengan kecintaan menadaburi Alquran.

“Jadi yang ketiga ini adalah secara emosional, spiritual. Mungkin bukan hanya dia yang mampu menafsirkan Alquran, tapi Alquran juga mampu menafsirkan dirinya sendiri..

Keempat: Mukasyafah Tabir Al Quran

Makna Iqra’ yang keempat atau yang terakhir, yaitu bagaimana memukasyafahkan (menyingkap tabir-tabir kehebatan di dalam Alquran).  Jadi, Iqra’ Alquran itu sudah disempurnakan oleh Iqra’ yang keempat tersebut.

Kalau kita membaca dan menelusuri surah Al-Baqarah, di pembuka surah tersebut, akan di dapatkan sebuah statement Allah bahwa di dalam Al-Qur’an tidak ada satu ayat pun yang patut diragukan kebenaran dan otentisitasnya. Kemudian, di ayat-ayat berikutnya, Allah mengklasifikasi manusia dari dimensi teologi menjadi tiga jenis: Mu’min, Kafir, dan Munafik.

Setelah membagi dan menggolongkan jenis manusia, masih di awal surah tersebut, Allah menguatkan masing-masing pengertian di atas dengan mensugesti hati nurani manusia -agar terbuka menerima kebenaran- dengan ayat-ayat yang argumentatif, bukan sekedar stimulatif.

Pendekatan yang digunakan sangat jelas dan tegas, sehingga diharapkan keyakinan dan iman manusia bertambah kuat dan kokoh. Setelah bukti-bukti naluriah, Allah menguatkan iman manusia dengan bukti-bukti teoritik.

“Dan jika kalian tetap dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surah (saja) yang semisal Al-Qur’an itu, dan ajaklah saksi-saksimu selain Allah, jika kalian memang orang-orang yang benar” (QS. 2:23).

Allah tidak pernah memaksa manusia. Islam datang untuk membebaskan akal manusia dari belenggu sistem yang ada. Islam memberi cahaya pelita agar akal mampu melihat nilai baik atau buruk.

Oleh karena itu, untuk meyakinkan eksistensi kemukjizatan Al-Qur’an, Allah menggunakan variasi-variasi pendekatan sebagai berikut:

Mula-mula meyakinkan mereka yang meragukan Al-Qur’an. Pada tahap ini, Allah menantang mereka agar dapat menunjukkan sebuah ‘duplikat’ Kitab yang menyamai Al-Qur’an. Boleh dibantu unsur manusia dan jin (QS. 17:88).

Ketika mereka masih beranggapan Muhammad yang membuat Al-Qur’an dan meyakini tesisnya itu benar, sementara mereka tidak bisa membuat yang semisal, maka -dengan bijak- Allah menurunkan standar permintaan kepada mereka untuk mendatangkan sepuluh surah saja yang mereka buat dan mampu menyamai Al-Qur’an, sekalipun dibantu oleh para sastrawan handal. (QS. 11:13).

Bahkan, ketika mereka tidak mampu membuat sepuluh surat, dan masih tidak meyakini kebenarannya, Allah mempersilahkan mereka membuat satu surah saja, walau pun dibantu oleh para pemimpin terkemuka. (QS. 2:23).

Sebagai statement terakhir, setelah ternyata mereka terbukti tidak mampu, Allah memberikan peringatan secara keras, bahwa mereka harus tunduk, atau neraka yang berbahan bakar orang kafir itu sebagai tempat semayamnya.

Biasanya, apabila Allah swt sampai membuat statemen yang disertai dengan ancaman, berarti permasalahan tersebut masuk dalam kategori VIP (Very Important Principle), masalah prinsip yang sangat penting.

Kehebatan Al-Qur’an antara lain dapat dilihat dari dua sisi pendekatan :

Pertama: Pendekatan Historis

Telah dimaklumi bersama, bahwa bangsa Arab adalah bangsa yang paling fasih lisannya dan paling utama bahasanya. Mereka membanggakan-banggakan kelebihan tersebut terutama pada tiga kesempatan, yaitu: ketika kelahiran anak laki-laki, ketika mencari kuda-kuda pilihan, dan ketika lomba cipta syair antar suku. Anak laki-laki dijadikan unsur motivator, kuda digunakan untuk berperang, sedang syair sebagai ciri keutamaan lisan suatu suku.

Mereka kerap menyelenggarakan parade-parade dan kompetisi sastra. Media mereka adalah lisan. Mereka juga sering mengadakan festival-festival sastra tingkat tinggi, dengan mengangkat para juri yang bertugas menilai syair dan prosa hasil buah pikiran dan perenungan para sastrawan utusan masing-masing suku. Juri-juri ini dipilih dari para pakar yang menguasai parameter serta kaidah-kaidah bahasa dan sastra. Kemampuan tata bahasa dan kefasihan mereka sangat tinggi.

Setelah kehadiran Nabi Muhammad saw, yang datang dengan membawa kalam Ilahi, ternyata mereka tidak mampu menyainginya. Mereka semua seolah tenggelam dalam lautan keindahan ‘sastra’ yang belum pernah mereka kenal sebelumnya. Mereka semua terpana dalam kekaguman akan isi dan makna ucapan Muhammad saw yang mereka anggap luar biasa. Padahal isi pembicaraan beliau bukanlah sejenis pidato, pantun, syair, ataupun prosa. Yang jelas nampak dalam pembicaraan beliau adalah kalimat-kalimat lugas yang sarat dengan makna dan kebenaran.

“Katakanlah, “Jikalau Allah menghendaki, niscaya aku tidak membacakan-nya kepadamu, dan tidak pula memberitahukan kepadamu. Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya. Maka apa kalian tidak memikirkannya?” (QS. 10:16).

Demikianlah, mereka terpaku di hadapan keagungan Al-Qur’an seraya tertunduk malu. Lihatlah Abu Jahal, pemuka orang-orang kafir dan musyrik, ketika datang kepada Nadlir bin Hakim, seorang jaksa dan tokoh pembesar mereka, dan berkata: “Wahai Nadlir, engkau termasuk orang yang paling tahu tentang Muhammad, coba katakan apa yang menarik dari Al-Qur’an?”.

Nadlir menjawab, “Demi Allah, aku lebih tahu tentang syair serta seni bahasa dan sastra daripada kamu. Aku pun paham tentang sihir dan paranormal. Demi Allah, Al-Qur’an bukanlah jenis perkataan paranormal dan bukan pula jenis jampi-jampi tukang sihir. Sungguh, Al-Qur’an memiliki kemanisan dan keindahan yang menakjubkan. Bagian atasnya berbuah dan bagian bawahnya tumbuh lebat. Jelas kitab ini bukan buatan manusia.”.

Abu jahal balik meminta, “Coba upayakan agar Al-Qur’an ini dinilai sebagai sihir. Pikirkan dan otak-atiklah!”. Akhirnya Nadlir pun menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah sihir yang dapat dipelajari.

Maka, turunlah ayat:

“Sesungguhnya dia telah memikir-mikirkan dan membuat ketetapan. Maka celakalah dia! Bagaimana dia bisa membuat ketetapan (seperti itu)?. Kemudian celakalah dia! Bagaimana dia bisa membuat ketetapan (seperti itu)?. Kemudian dia memikir-mikirkan, kemudian dia bermuka masam dan merengut, kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan takabur (menyombongkan diri), lalu dia berkata: “(Al-Qur’an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia” (QS. 74 :18-25).

Bila para ahli bahasa, ahli sastra, ahli balaghah saja lumpuh dihadapan Al-Qur’an, bagaimana dengan yang selain mereka?

Kedua: Pendekatan Ilmiah

Dalam pendekatan ilmiah, ada dua sudut tinjauan. Tinjauan etimonologi dan tinjauan terminologi. Bahasa dan istilah atau makna. Dari sudut bahasa, para ahli mendapatkan bahwa di setiap ayat, kata, bahkan huruf Al-Qur’an terdapat suatu pengertian yang hebat, yang menampilkan sisi-sisi kemukjizatannya.

Makna yang tinggi itu dibentuk sedemikian rupa, sehingga mempunyai jangkauan-jangkauan yang jauh, cakupan yang luas, normatif, sekaligus metodologis dan sistematis.

Diriwayatkan, suatu hari datang seorang laki-laki kepada seorang ulama yang nampak begitu gembira dan senang. Lelaki itu bertanya, “Mengapa anda kelihatan demikian gembira?”. Ulama itu menjawab, “Aku baru saja membaca sebuah ayat Al-Qur’an. Dalam satu ayat tadi, aku mendapatkan dua kabar, dua perintah, dua larangan dan sekaligus dua anugerah”. “Apa itu termaktub semua?”, tanya lelaki itu. Sang ulama pun menjelaskan: “Inilah ayatnya:

Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa: “Susukanlah dia. Dan apabila kamu khawatir tehadapnya, maka jatuhkanlah ia ke dalam sungai. Janganlah kamu khawatir dan janganlah bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya (salah seorang) dari para Rasul” (QS. 28:7).

Kata “Kami ilhamkan” dan “kamu khawatir” adalah dua kabar. Kata “Susukanlah dia” dan “jatuhkanlah dia” adalah dua perintah. Kata “Janganlah kamu khawatir” dan “janganlah kamu bersedih hati” adalah dua larangan. Kata “Kami akan mengembalikannya kepadamu” dan “menjadikannya (salah seorang) dari para Rasul” adalah dua pernyataan anugerah”.

Juga dalam surah Ali ‘Imran, 3:191, yang berisi tentang pribadi Ulul Albab. Ayat ini bukan hanya bersifat normatif karena kandungan doktrinnya, tetapi juga berisi spesifikasi dan karakteristik Ulul Albab, metododologi pencapaiannya secara sistematik, sekaligus implikasi dan pengaruh positif dari terbentuknya pribadi Ulul Albab.

Demikian pula dalam surah 16:125. Ayat ini bukan saja berisi tuntutan normatif tentang da’wah, tetapi sekaligus bermuatan tuntunan metodologis yang sangat sistematis dan ilmiah. Serta masih banyak ayat-ayat lain yang serupa.

Adapun dipandang dari sudut terminologis (makna ayat), kandungan Al-Qur’an dapat diikhtisarkan menjadi tiga dimensi sifat: Komprehensif, karena membahas berbagai disiplin ilmu pengetahuan, seni, dan terapi jiwa; Eternal dan Reformis; serta menjangkau dimensi-dimensi non-inderawi (gaib).

Pertama, Al-Qur’an bersifat komprehensif, membicarakan segala aspek.

Seluruh materi kehidupan terhimpun dalam Al-Qur’an melalui perkataan Nabi Muhammad “al-Ummiy”. Walaupun dia bukan seorang akademisi, bahkan tidak bisa baca tulis, namun dia mampu menjabarkan seluruh apa yang dibutuhkan manusia serta memecahkan berbagai problematika yang mereka hadapi. Problematika yang meliputi, hukum, undang-undang, sistem stratifikasi sosial kemasyarakatan, keluarga, serta masalah-masalah pribadi.

Misalnya, sistem hukum dapat dipecahkan melalui delapan kata: “Wa syaawirhum fil amri, faidzaa ‘azamta fatawakkal ‘alallah” (“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam permasalahan, maka jika kalian telah ber’azam (bertekad, sepakat) bertawakkallah kepada Allah”).

Dalam problema sosial ekonomi kemasyarakatan yang mengandung implikasi politik, cukup dipecahkan dengan empat belas kata. Tujuh kata dialamatkan kepada ‘Haakim’ (pemerintah): “Khudz min amwaalihim shadaqatan tuthahhiruhum wa tuzakkiihim bihaa” (“Ambillah dari harta-harta mereka sebagai shadaqah untuk membersihkan dan menyucikan mereka”).

Dan tujuh kata lain dialamatkan kepada ‘mahkuuminn’ (rakyat): “Wa fii amwaalihim haqqun ma’luumun lis-saailiin wal-marhuum” (“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang-orang miskin yang meminta dan orang-orang miskin yang tidak memperoleh bagian”).

Dalam problem rumah tangga, dipecahkan melalui delapan kata: “Walahunna mitslul-ladzii ‘alaihinna bil-ma’ruuf walir-rijaali ‘alaihim darajah” (“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf, akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya”).

Jadi, untuk memecahkan problematika manusia, berupa hukum, undang-undang, masalah sosial, ekonomi, dan politik kemasyarakatan, serta kerumah-tanggaan, Al-Qur’an cukup hanya menggunakan tiga puluh kata saja.

Demikian pula problema keduniaan yang universal. Para ilmuwan, pengamat, pakar dan pemikir, telah menghabiskan umur untuk memecahkan problematika ini, namun tidaklah berhasil sebagaimana yang dicapai Al-Qur’an, yang telah membuka ‘kran’ ilmu pengetahuan bagi manusia hingga mengalir tak habis-habisnya. Al-Qur’an juga membuka kesempatan seluas-luasnya bagi manusia dalam mengembangkan dinamika keilmuannya.

Barangkali inilah pengertian kemukjizatan Al-Qur’an. Jika semua solusi qur’ani di atas diterapkan secara tepat, niscaya tidak akan muncul di permukaan bumi ini problema kemiskinan, kesenjangan sosial ekonomi yang lebar, situasi politik yang serba caos, disharmoni keluarga, dan kehancuran rumah tangga.

Para hartawan dan pengusaha merasa aman dengan usahanya, para penerima shadaqah merasa tenang dengan keberlangsungan hidupnya, masyarakat umum merasa tenteram dalam harmonika kehidupan yang adil dan sejahtera.

Kedua: Al-Qur’an bersifat eternal dan reformis. Berjalan sesuai dengan tuntutan zaman.

Tidak kontradiksi dengan perkembangan rasio dan keilmuwan. Allah mengetahui bahwa manusia selalu berkembang, dinamis dan progresif. Andaikan hukum-hukum alam serta teori-teori ilmiah disusun secara definitif dan terbatas, maka manusia akan kacau balau, bingung, dan akan ingkar serta mendustakan kebenaran agama.

Adalah suatu realitas yang tetap dalam tradisi kemanusiaan dalam hal produk berfikir. Bahwa kebenaran kemarin merupakan cerita bohong hari ini, dan kebenaran hari ini merupakan ketakhayulan hari esok. Rasio manusia senantiasa mencari-cari dan melayang.

Karena ciri-ciri demikian, maka al-Qur’an datang dalam format elastis, berjalan seiring dengan derap kemajuan manusia. Semakin ilmu pengetahuan manusia bertambah, kian terbukti pula kemukjizatan dan kehebatan Al-Qur’an.

“Kami akan perlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk serta pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka, bahwa sesungguhnya Al-Qur’an itu benar…” (QS. 41:53).

Demikian pula, setiap ditemukan kebenaran ilmiah, disitu sudah diisyaratkan dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an tidak bertentangan dengan kebenaran ilmiah. Dan inilah sebagian rahasia dari berbagai rahasia Al-Qur’an.

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari Allah, tentu mereka akan mendapatkan di dalamnya banyak yang bertentangan” (QS. 4:82).

Ketiga: Al-Qur’an mampu menjangkau dimensi-dimensi non-inderawi.

Misalnya, Al-Qur’an telah memprediksi kemenangan Romawi Timur yang berpusat di Konstantinopel, setelah beberapa saat sebelumnya mengalami kekalahan besar dari bangsa Persia. Ternyata prediksi Al-Qur’an itu benar-benar terbukti (QS. 30:2-3).

Uraian di atas mengantar kita yakin akan kemukjizatan dan kehebatan Al-Qur’an. Manusia, bahkan jin, secara jelas tidak akan pernah mampu membuat semisal Al-Qur’an. Mengapa kita masih enggan mempelajarinya?.

Al-Qur’an pedoman hidup

Setiap manusia menginginkan hidupnya selamat di dunia dan di akhirat. Oleh karenanya, ia membutuhkan pedoman yang akan menuntunnya dalam meniti jalan kehidupan ini. Al-Qur’an, sebagai the way of life for human ciptaan Allah swt, akan dapat menjadi pedoman, petunjuk, pembimbing, penjelas, dan berita gembira bagai setiap manusia apabila:

Pertama: Meyakini penuh, tanpa ada unsur ragu terhadap kebenaran Al-Qur’an.

Tiada satu sistem pun di dunia ini yang dapat menyelamatkan manusia, kecuali sistem Qur’ani. Semua sistem yang ada -baik politik, ekonomi, maupun social- yang tidak merujuk pada Al-Qur’an telah terbukti gagal menyejahterakan umat manusia.

Islam adalah agama yang lengkap, utuh dan integral. Kita mesti yakin Islamlah alternatif sistem yang paling tepat untuk menyelesaikan berbagai problema kehidupan dalam segala dimensinya.

Kedua: Menjadikan Al-Qur’an sebagai mitra, guru, dan ‘surat cinta’.

Tiada hari terlewatkan tanpa berkomunikasi dengan Kalam Allah, sebagaimana dilakukan para ulama shalafush-shalih. Hari-hari dalam kehidupan mereka tidak pernah lengang dari Al-Qur’an. Setiap bulan -minimal- mereka mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an.

Pada masa Kekhalifah Umar bin Abdul Aziz, beliau selalu menyelesaikan masalah-masalah kenegaraan dengan merujuk langsung pada Al-Qur’an. Beliau selalu membacanya meskipun hanya dua atau tiga ayat, kemudian berkomentar, ” mudah-mudahan aku tidak tergolong orang-orang yang meninggalkan Al-Qur’an”.

Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa membaca satu ayat Al-Qur’an, baginya pahala sepuluh kebaikan dalam setiap huruf. Dan barangsiapa yang mendengarkan, baginya cahaya di hari Kiamat.”

Para huffazh (penghafal Al-Qur’an) dianggap membuat suatu kesalahan bila dia lupa (tidak memperhatikannya). Oleh karena itu, kita harus memperbanyak membaca Al-Qur’an serta membiasakannya secara rutin dan berkesinambungan.

Ini dalam rangka mengikuti jejak para sahabat, para ulama shalafush-shalih, sekaligus menaati perintah Allah dan Rasul-Nya untuk membaca dan memahami isi kandungannya.

Ketiga: Meperhatikan etika dan kaidah membaca dan men-tadabbur-i (memahami dan menghayati) Al-Qur’an.

Rasulullah saw bersabda:

“Sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan dalam keheningan. Maka menangislah dikala membacanya. Bila tidak bisa, maka berusahalah menangis-nangiskannya”.

Hadits ini mengharuskan adanya usaha ke arah penghayatan Al-Qur’an dan menjaga tipu daya setan yang selalu berusaha memalingkan manusia dari kesukaan tadabbur Al-Qur’an. Meskipun baru sampai pada taraf oral, kita dituntut untuk terus membaca, sehingga Al-Qur’an benar-benar membekas dalam qalbu.

Suatu malam, ketika kebanyakan manusia tengah terlelap dalam tidurnya, khalifah Umar bin Khattab sedang melakukan hirasah (ronda), beliau mendengar seseorang tengah membaca Al-Qur’an dengan syahdu:

“Dengan menyebut Asma’ Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Demi bukit. Demi Kitab yang tertulis, pada lembaran yang terbuka. Demi Baitul Ma’mur. Demi atap (langit) yang ditinggikan. Demi laut yang menggelora. Sungguh adzab Rabb-mu pasti dan nyata akan datang!”(QS. 52:1-7).

Ketika mendengar ayat ini dibaca, tiba-tiba beliau seperti menggigil dan berkata, “Sungguh, ini adalah sebuah persaksian (sumpah) yang benar. Demi Rabbnya Ka’bah “, setelah itu beliau terjatuh pingsan.

Salah seorang sahabat yang sempat menyaksikan kejadian tersebut, segera mengangkat dan membawa masuk ke rumahnya. Tiga puluh hari beliau di sana karena sakit.

Menjadi kebiasaan Umar bin ‘Abdul ‘Aziz selesai shalat Isya’ beliau mengambil air wudhu kemudian shalat dan membaca ayat: 

“(Kepada malaikat diperintahkan): ‘Kumpulkan orang-orang zhalim beserta teman sejawat mereka dan sesembahan yang selalu mereka sembah selain Allah; maka tunjukkanlah mereka jalan ke neraka. Dan tahanlah mereka, karena sesungguhnya mereka akan ditanya’.” (QS. 37:22-24).

Beliau selalu mengulang ayat: “waqifuuhum innahum mas’uuluun” (Dan tahanlah mereka, karena sesungguhnya mereka akan ditanya). Demikian dilakukan sampai datang azan subuh.

Bahwa konsep menghatamkan Alquran itu bukan hanya mengkhatamkan 30 juz atau bukan hanya menghafalkan 30 juz saja, tapi bagaimana agar seluruh umat Islam bisa menghatamkan Alquran dengan proses Iqra’ pertama sampai ke empat tersebut.

Iqra’ pertama sekedar membaca, iqra’ kedua mendalaminya, iqra’ ketiga menghayati dan mengamalkan, dan keempat adalah menyingkap tabir Al Quran.

Ust H Sholih Hasyim | Kampus Induk, Senin, 08 Februari 2021

- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img