
KONSISTENSI tanpa batas adalah inti dari sikap rabbaniyyun. Menjadi hamba yang rabbani bukanlah keadaan sesaat, melainkan proses panjang membangun kedekatan dengan Allah SWT secara terus-menerus (istiqamah).
Dalam posisi ini, ibadah tidak lagi dipahami sebagai rutinitas formal, tetapi sebagai kebutuhan eksistensial, sesuatu yang menghidupkan jiwa, menenangkan hati, dan meneguhkan arah hidup.
Di sinilah pentingnya memahami makna Istiqamah fil ‘Ibadah (konsistensi dalam ibadah). Kedekatan dengan Allah seharusnya tidak bersifat transaksional.
Jangan sampai seseorang rajin mendekat hanya ketika mengejar target duniawi lalu perlahan menjauh setelah hajat tersebut terpenuhi. Ibadah yang sejati tidak bergantung pada situasi, tetapi tumbuh dari kesadaran bahwa manusia selalu membutuhkan Rabb-nya, dalam lapang maupun sempit.
Fondasi dari semua itu adalah spiritualitas. Spiritual bukan sekadar aspek personal, melainkan fondasi keamanan dan sumber solusi (asbab) dalam kesulitan. Kesejahteraan sebuah komunitas, jamaah, bahkan peradaban, sangat bergantung pada kualitas penghambaan kolektif kepada Pemilik alam semesta. Al-Qur’an menegaskan hubungan langsung antara ibadah, kesejahteraan, dan rasa aman:
فَلْيَعْبُدُوْا رَبَّ هٰذَا الْبَيْتِۙ (٣) الَّذِيْٓ اَطْعَمَهُمْ مِّنْ جُوْعٍ ەۙ وَّاٰمَنَهُمْ مِّنْ خَوْفٍ (٤)
“Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan (pemilik) rumah ini (Ka’bah), yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa ketakutan.” (QS. Quraisy: 3–4).
Ayat ini mengajarkan bahwa stabilitas ekonomi (economic stability), stabilitas keamanan, kualitas interaksi sosial, hingga stabilitas jamaah, berjalan seiring dengan stabilitas ibadah—baik secara individual (infiradi) maupun kolektif (jama’i). Ketika ibadah melemah, dampaknya tidak berhenti di ruang spiritual, tetapi merembet ke ranah sosial dan struktural.
Dalam konteks kepemimpinan dan kehidupan berjamaah, kegagalan seharusnya tidak disikapi dengan saling menyalahkan atau mencari kambing hitam (scapegoating). Al-Qur’an justru mengarahkan umat untuk bercermin pada sejarah dan bersabar dalam proses evaluasi.
فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَࣖ
“Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS. Az-Zukhruf: 25)
فَاصْبِرْ عَلٰى مَا يَقُوْلُوْنَ
“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan…” (QS. Taha: 130)
Dari sini lahir satu pesan penting kepada kita untuk selalu melakukan evaluasi kultur spiritual. Jika terjadi degradasi dalam organisasi, jamaah, atau kepemimpinan, langkah pertama bukan sekadar memperbaiki sistem, tetapi memeriksa kembali kualitas hubungan kolektif dengan Allah SWT.
Tahap berikutnya adalah mengikuti Manhaj Nabawi. Ibadah harus menjadi spirit penggerak (ruhul jihad) dalam menghadapi problematika hidup. Namun agar ibadah benar-benar melahirkan solusi, ia harus dilakukan sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ sebagaimana beliau tekankan:
صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari no. 631)
Dalam istilah agama kita, inilah yang disebut dengan ittiba’ dimana setiap ibadah ritual kita mengikuti tuntunan Nabi sehingga melahirkan kekuatan dan menjadi jalan keluar dari setiap problema kehidupan. Kualitas pelaksanaan program, kebijakan, dan tugas sangat bergantung pada kualitas hubungan spiritual para pelakunya.
Kualitas ibadah adalah ruh (energy source) dalam setiap eksekusi tugas dan kunci datangnya solusi (makhraja). Keseimbangan ekonomi, kepemimpinan yang sehat, serta muamalah yang adil bukanlah sebab utama, melainkan output dari stabilitas ibadah yang terjaga.[]
*) Transkrip taushiyah Ketua Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah Gorontalo KH. Abdul Wahid Patangari yang disampaikan di hadapan peserta Rakerwil Hidayatullah Gorontalo pada Sabtu subuh, 12 Sya’ban 1447 (31/1/2026). Ditranskripsi oleh Walimin Bombang.






