AdvertisementAdvertisement

Mengapa Kaderisasi Diperlukan?

Content Partner

KATA ‘kader’, berdasarkan penjelasan KBBI, berarti orang yang disiapkan untuk tugas tertentu. Awalnya kata ‘kader’ digunakan di bidang militer. Akan tetapi seiring waktu, kata ‘kader’ digunakan pula untuk bidang lain semisal organisasi.

Dari kata ‘kader’, lahirlah kata ‘kaderisasi’. Maknanya proses mengantarkan seseorang menjadi kader sehingga siap mengemban satu tugas khusus. Proses yang dimaksud mencakup proses makro dan mikro. Proses makronya berkaitan dengan sistem, sementara mikronya berkaitan dengan kegiatan praktis.

Kaderisasi dinilai penting oleh banyak pihak. Karena kaderisasi merupakan jalan utama untuk menyediakan kader-kader masa depan. Sehingga organisasi bisa terus berlanjut.

Di sisi lain, jika diperdalam dengan berbagai perspektif, akan ditemukan berbagai keuntungan kaderisasi. Bahwa keberlanjutan organisasi hanya salah satu keuntungan. Berikut penjelasannya.

Perspektif Pengkader

Kaderisasi merupakan jalan mengantarkan seseorang menjadi kader. Dalam kaderisasi, sosok pengkader (murabbi, instruktur, coach, mentor) penting. Jasanya tidak bisa dianggap remeh.

Oleh karena itu wajar jika sosok pengkader diprioritaskan mendapatkan doa dari para kader, selaras dengan Al-Qur’an surat Al-Hasyr ayat 10, “Wahai Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, serta janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman.”

Pengkader yang mengerti perspektif ini akan berikhtiar sepenuh hati dalam melaksanakan aktivitas kaderisasi. Pengkader akan sungguh-sungguh mempersiapkan dan menjalankan aktivitas-aktivitas kaderisasi.

Pengkader juga bersedia mengembangkan diri agar kader terlayani kebutuhannya terutama ruhiyah dan aqliyahnya. Rasa sakit dan kecewa yang sesekali mencubit hatinya akan diadukan kepada Allah ta’ala agar diobati.

Dalam konteks mutakhir, pengkader terlihat beradaptasi dengan perkembangan era digital. Media sosial diorientasikan ke hal-hal positif. Kecepatan pengetahuan ditindaklanjuti dengan membangun mudzakarah (diskusi) sebagai bagian dari kaderisasi.

Intinya pengkader tidak berhenti agar kaderisasi terus bergerak. Apapun dilakukan. Harapan utamanya satu, agar doa-doa para kader senantiasa dilangitkan untuknya.

Perspektif Kader

Kaderisasi mengantarkan seseorang untuk memiliki mentalitas kekaderan tertentu. Dalam perjalanannya, yang kadang memerlukan waktu panjang, sang kader menjalani begitu banyak aktivitas. Tidak jarang aktivitas-aktivitas tersebut memberikan dampak positif yang luar biasa, di samping membangun mentalitas kekaderan sebagaimana telah dirancang sebelumnya.

Misalkan kader mengalami pengembangan pemikiran. Kader jadi lebih pintar dan taktis. Selain itu jaringan pertemanan kader juga berpotensi lebih luas. Dampak berikutnya terciptalah peluang ekonomi dan proteksi. Antarkader saling bekerja sama dalam aktivitas ekonomi.

Antarkader juga saling proteksi dalam permasalahan sosial dan musibah. Kunjungan ke kader ketika sakit atau gotong-royong membantu mengatasi musibah kader merupakan aktivitas yang biasa terjadi di suatu organisasi.

Dalam hal ini organisasi perlu memilah dan memilih aktivitas-aktivitas untuk para kader, aktivitas buruk dibuang sedangkan aktivitas baik disuburkan. Kondusivitas dijaga, rivalitas antarkader diminimalkan sedangkan sinergi ditumbuhsuburkan, sebagaimana doa yang diajarkan dalam Al-Qur’an surat Al-Hasyr ayat 10, “…serta janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman.”

Perspektif Kehidupan Sosial

Pengkader yang ikhlas dan penuh semangat dan kader yang kapasitasnya terus tumbuh, keduanya membangun atmosfer progresif di masyarakat. Keduanya mempraktikkan perikehidupan Islami, bahkan menginspirasikannya kepada lingkungan sekitar. Semakin luas dampak keduanya, semakin aman serta nyaman situasi sosial. Berbagai patologis sosial berkurang.

Dari lingkungan seperti ini potensi-potensi terbaik bisa tumbuh dengan maksimal. Minat dan bakat mereka terasah. Cita-cita dan harapan dapat dicapai dengan relatif lebih mudah.
Berikutnya, potensi-potensi yang tumbuh ini memungkinkan untuk membangun kultur sosial budaya dan politik yang berkeadilan, sebagai landasan membangun kesejahteraan. Jiwa dan raga sehat. Lingkungan hidup terdampak, sehingga potensi kebencanaan jauh berkurang.

Dalam hal ini pengkader dan kader perlu saling dukung. Agar reaksi masyarakat dapat dihadapi dengan baik. Dalam sirah nabawiyah, ditemukan sepenggal kisah penolakan dakwah. Kejadiannya di Mekkah. Ditemukan juga sepenggal kisah penerimaan dakwah. Tempatnya di Madinah. Di dua tempat tersebut Rasulullah shallallah ‘alaih wa sallam dan para sahabat terus sinergi, ta’awun. Saat ditolak, dakwah terus bertahan. Saat diterima, dakwah bertumbuh pesat.

Perspektif Keilmuan

Setiap organisasi memiliki karakteristiknya masing-masing. Begitu pula corak bahkan struktur pemikirannya, satu organisasi dengan yang lainnya bisa sangat berbeda. Ada potensi konflik karena perbedaan ini, tapi juga potensi ilmiah.

Ambil misal ada lima organisasi, maka ada lima corak pemikiran. Bila kemudian kelima corak pemikiran ini dipadupandankan, akan dihasilkan banyak corak pemikiran baru. Maka kader generasi berikutnya memiliki peluang pengembangan ilmiah yang sangat kaya. Tinggal perspektif yang ditumbuhsuburkan oleh pengkader, apakah potensi konflik atau sebaliknya.

Bila melihat sejarah keilmuan Islam, didapatkan kisah menarik terkait madzhab Syafi’i. Bahwa sebelumnya ada dua corak pemikiran utama, atsari dan ra’yi. Kedua corak pemikiran ini dilebur oleh Imam Syafi’i rahimahullah. Alhasil hingga saat ini, bisa dikatakan sebaran madzhab Syafi’i paling luas dibanding lainnya.

Dalam hal ini organisasi-organisasi diharapkan berkenan menuliskan struktur pemikirannya. Selain itu hendaklah antarorganisasi tergerak saling kunjung dan belajar. Agar kader berikutnya berkesempatan mendulang khazanah pemikiran organisasi yang kaya. Dengan kekayaan khazanah ini, semoga kebijaksanaan kader berikutnya berkembang pesat.

Perspektif Sinergi Antarorganisasi

Satu organisasi memusatkan perhatiannya pada satu atau beberapa bidang gerak saja. Demikian pula organisasi lainnya. Sulit sekali menemukan satu organisasi yang melayani semua bidang. Bagaimanapun ada keterbatasan ruang gerak organisasi, tidak seperti negara yang memiliki otoritas berdasarkan konstitusi.

Dengan bidang yang berbeda-beda itu, sikap yang bisa ditampilkan adalah sinergi antarorganisasi. Dengan sinergi semoga layanan kepada masyarakat akan maksimal. Potensi masyarakat untuk mencintai organisasi-organisasi meningkat.

Memang tidak mudah menjalin sinergi antarorganisasi. Mungkin hanya satu dua organisasi yang bisa sinergi, itupun bersifat insidentil. Akan tetapi seperti demikian tidak masalah. Semoga peluang sinergi yang lebih besar bisa didapatkan dari sinergi yang relatif kecil tersebut.

Dalam hal ini kaderisasi perlu dirancang agar kader memiliki kapasitas di bidang gerak organisasi. Kapasitas ini mencakup soft-skill dan hard-skill. Sehingga organisasi memiliki kemampuan maksimal dalam menjalankan berbagai program di bidang geraknya. Alhasil kepercayaan publik kepada organisasi meningkat, positioning-nya menguat.

Kader yang cakap dan positioning organisasi yang kuat merupakan modal besar organisasi dalam sinergi setara. Tidak ada ada hubungan menang-kalah. Adanya menang-menang.
Hal ini penting sebagai implementasi Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 2, “Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa. Serta janganlah tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.”

Sinergi dapat dilakukan saat kader belum cakap dan positioning organisasi masih lemah. Akan tetapi peluang sinergi setara kecil. Oleh karena itu, sebagaimana telah disampaikan, kaderisasi perlu diorientasikan pada pembangunan soft-skill dan hard-skill secara simultan. Kesenjangan antara kedua skil dapat berakibat lambatnya gerak organisasi. Jika pun melaju, gerak organisasi kurang berkualitas.

Semoga dengan lima perspektif yang telah diuraikan, pengkader dan kader sama-sama bersemangat dalam aktivitas kaderisasi. Manfaatnya luas. Pahalanya tidak terbatas. Apalagi akan senantiasa ada pertolongan Allah ta’ala dalam setiap mujahadah kebaikan, termasuk di dalamnya kaderisasi, sebagaimana Al-Qur’an surat Al-‘Ankabut ayat 69:

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari ridha Kami (Allah), benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”

Wallah a’lam.

*) Fu’ad Fahrudin, penulis Ketua Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Ketua Umum Hidayatullah Ingatkan Tanggung Jawab Publik Menuntut Keteladanan Pribadi

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) -- Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah KH Naspi Arsyad mengingatkan pemangku amanah bahwa tanggung jawab...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img