
NARASI Indonesia Emas 2045 bukan milik segelintir elite. Ia menjadi milik semua komponen bangsa, termasuk—dan seharusnya terutama—umat Islam yang secara demografis menjadi mayoritas.
Namun di tengah gegap gempita diskursus ini, muncul pertanyaan tajam, siapa yang sedang merancang wajah umat Islam Indonesia 2045? Sejauh ini, wacana tersebut nyaris tenggelam oleh retorika pembangunan fisik dan ekonomi semata.
Jika belajar dari sejarah umat manusia, satu pola mencolok muncul berulang, selalu ada momen lahirnya pemimpin besar yang membawa umat atau bangsa ke puncak kejayaan.
Akan tetapi, sering kali setelah sang pemimpin pergi, terjadi kekosongan generasi yang mampu melanjutkan estafet kepemimpinan tersebut.
Mengapa fenomena ini terus terulang? Apakah ini sekadar siklus sejarah atau cerminan kegagalan peradaban menyiapkan generasi berikutnya?
Lihatlah sejarah Islam ketika Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi berhasil menaklukkan Baitul Maqdis. Dunia Islam bersuka cita.
Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Seusai wafatnya Shalahuddin, Dinasti Ayyubiyah terjebak dalam pertikaian internal, perebutan kekuasaan, dan konflik kepentingan yang melemahkan kekuatan Islam dari dalam.
Akibatnya fatal: kekuatan musuh kembali bangkit, dengan strategi lebih canggih dan terencana. Kemenangan besar ternyata tak diikuti kesiapan generasi pelanjut.
Kisah ini relevan untuk Indonesia hari ini. Indonesia tengah lantang menyuarakan dukungan bagi Palestina, simbol komitmen internasional kaum Muslimin.
Namun, di balik suara lantang itu, siapa menyiapkan para pemimpin masa depan yang kelak memimpin Indonesia dalam peta kekuatan global tahun 2045? Jangan-jangan, sejarah akan kembali mengulangi kegagalan melahirkan penerus peradaban?
Melahirkan Pemimpin Unggul
Umat Islam harus kembali pada soal pokok berkenaan dengan bagaimana melahirkan pemimpin unggul? Bukan sekadar kapasitas leadership, cerdas intelektual, melainkan juga matang spiritual, tajam pemikiran global, kuat moral pribadi.
Tetapi satu hal pasti: upaya inu tidak bisa instan. Tak ada pemimpin hebat yang lahir “besok pagi” hanya karena keinginan mendadak. Diperlukan proses sistematis, terencana, kolaboratif, lintas generasi.
Sayangnya, di tengah demokrasi pasar bebas, kecenderungan umat justru melahirkan pemimpin instan: bermodal popularitas, kapital, atau pencitraan digital. Bukan buah dari proses panjang penyemaian nilai, pengasahan akhlak, atau penggodokan kepemimpinan akar rumput.
Akibatnya apa? Kita menuai para pemimpin “besar di tampilan, kecil di visi”. Indonesia pun lebih sering menjadi ladang eksperimen kepentingan global ketimbang subyek penggerak perubahan dunia.
Padahal sejatinya, pemimpin besar lahir dari perjalanan panjang—bukan dari menara gading gelar akademik, bukan dari viralitas jagat maya, apalagi dari jejaring sponsor politik. Ia tumbuh dari realitas umat: teras masjid, ruang diskusi kampus, bilik-bilik pesantren, forum pemuda kampung.
Tanpa pola ekosistem semacam itu, jangan bermimpi umat Islam Indonesia 2045 punya generasi Shalahuddin baru.
Tragedi Umat Penonton Sejarah
Jika krisis kepemimpinan ini dibiarkan, besar kemungkinan umat Islam Indonesia akan menjadi penonton pasif dalam sejarah baru 2045, bukan pemain utama.
Lihat gejala hari ini: anak muda Muslim larut dalam game online, judi digital, pinjaman instan, konsumsi konten hampa makna. Ada alienasi nilai. Siapa yang bisa membenahi semua ini?
Jawabannya: diri sendiri. Seperti pesan Nabi SAW: “Mulailah dari dirimu sendiri”. Ibda’ binafsik!
Umat Islam tak bisa menunggu penyelamat eksternal. Tak perlu menuntut dari luar. Setiap individu Muslim harus tumbuh, bangkit, sadar sebagai bidan sejarah umatnya.
Dimulai dari pertanyaan mendasar, seperti apa wajah umat Islam 2045? Apakah mayoritas umat ini sekadar angka statistik? Atau mayoritas yang memancarkan keunggulan moral, intelektual, dan sosial?
Wajah umat Islam Indonesia 2045 idealnya adalah wajah uswah, contoh kemajuan dan peradaban, bukan sekadar jumlah besar tanpa kualitas.
Jika umat Islam gagal menampilkan wajah cerdas, kredibel, progresif, jangan salahkan dunia luar bila mereka menilai Islam identik dengan ketertinggalan.
Kebangkitan ini tak harus gemerlap. Bahkan perubahan besar kerap berawal dari gerakan kecil, sunyi, namun konsisten. Seperti pohon besar yang tumbuh dari tunas rapuh: akar iman yang kuat, batang akhlak yang kokoh, ranting ilmu yang lebat.
Menanam Fondasi Menuju 2045
Di titik inilah semua kembali ke orientasi dasar, yaitu pendidikan, pengaderan, pembudayaan nilai luhur. Ini bukan proyek lima tahunan, melainkan gerakan lintas generasi.
Semua elemen umat wajib terlibat, baik di rumah tangga, masjid, sekolah, kampus, organisasi sosial-keagamaan, dunia usaha.
Tanpa bekal ini, Indonesia hanya menunggu giliran menjadi seperti pasca-Shalahuddin: rapuh setelah kemenangan, pecah setelah kejayaan.
Dunia baru 2045 tidak menunggu bangsa yang bimbang. Ia butuh pemain kuat—atau menjadi korban baru dalam pusaran perubahan global.
Karena itu, umat Islam tak boleh sekadar ikut arus besar proyek Indonesia Emas. Mereka harus menjadi motor peradaban, penggerak nilai, pelahir pemimpin unggul. Sejak kini, bukan nanti.
Dan, tugas ini bukan wacana kosong. Ia menuntut persiapan serius. Perlu kurikulum pendidikan Islam berbasis akidah dan sains mutakhir.
Perlu pemuda Muslim yang tak takut masuk ruang-ruang teknologi baru, diplomasi internasional, serta ekonomi digital. Perlu ulama dan intelektual yang berani menafsirkan Islam untuk tantangan zaman baru—bukan nostalgia kejayaan masa silam.
Jika persiapan ini gagal dilakukan hari ini, impian Indonesia Emas 2045 hanyalah utopia. Namun jika umat Islam bangkit sebagai subyek sejarah, dengan visi dan daya saing global, maka 2045 bukan sekadar mimpi. Ia akan menjadi kenyataan.
Dan untuk itu semua, umat Islam Indonesia wajib menyiapkan diri, lahir-batin, menuju 2045. Agar sejarah tidak mengulang kisah tragis umat yang kehilangan momentum kejayaannya. Agar bangsa ini benar-benar mencapai apa yang diimpikan bersama.*/
*) Adam Sukiman, penulis Ketua PW Pemuda Hidayatullah Jakarta. Naskah ditranskrip dari pemaparan Mas Imam Nawawi dalam diskusi Kopi Literasi bertajuk “Kita Menyongsong Indonesia Emas 2045” di Jakarta, Sabtu (21/6/2025).






