AdvertisementAdvertisement

Abdurrahman Hasan Refleksi Isra Mi’raj dalam Gerak Dakwah Membangun Umat dan Bangsa

Content Partner

MAMUJU (Hidayatullah.or.id) — Dzat Yang Agung, Allah Ta’ala membuka kisah Isra Mi’raj dengan kata “subhan” yang artinya menegaskan bahwa dakwah ini berjalan dengan keyakinan kepada kekuasaan Allah, bukan semata perhitungan logika manusia.

Pesan tersebut menjadi pokok refleksi yang disampaikan Anggota Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sulawesi Barat, Ustadz Abdurrahman Hasan, dalam tausiah subuh yang digelar di hadapan para kader Hidayatullah Sulawesi Barat, Ahad, 6 Sya’ban 1447 (25/1/2026).

Dalam penyampaiannya, Abdurrahman menguraikan bahwa dinamika dakwah dan pengelolaan organisasi sering kali berhadapan dengan realitas yang secara rasional tampak berat.

Ia menyebut keterbatasan sumber daya manusia, dukungan finansial yang terbatas, serta medan pengabdian yang tidak mudah sebagai bagian dari keseharian dakwah. Kondisi tersebut, menurutnya, menuntut keteguhan iman agar para kader tidak menjadikan kalkulasi materi sebagai satu-satunya tolok ukur perjuangan.

Ia menjelaskan bahwa peristiwa Isra Mi’raj merupakan gambaran paling nyata tentang relasi antara iman dan logika.

“Allah membuka kisah Isra Mi’raj dengan kata ‘subhan’. Ini penegasan bahwa dakwah berjalan dengan keyakinan kepada kekuasaan Allah, bukan semata perhitungan akal manusia. Isra Mi’raj secara logika sulit diterima, tetapi iman menjadikannya pasti dan benar,” ujar Abdurrahman dalam tausiahnya.

Lebih lanjut, ia mengaitkan pesan tersebut dengan perjalanan dakwah Hidayatullah yang tumbuh dan berkembang di berbagai wilayah Indonesia. Menurut Abdurrahman, sejarah Hidayatullah menunjukkan bahwa banyak amal usaha dan aktivitas dakwah dimulai dari kondisi yang sangat terbatas.

Ia menegaskan bahwa keberlangsungan dakwah selama ini tidak bertumpu pada kelengkapan fasilitas, melainkan pada militansi serta keyakinan para kader dalam mengemban amanah.

“Perjalanan dakwah Hidayatullah sering dimulai dari keterbatasan, baik SDM, dana, maupun medan yang berat. Dakwah ini tetap hidup karena keyakinan, bukan karena fasilitas,” kata Abdurrahman.

Abdurrahman menyampaikan bahwa dakwah termasuk di negeri yang majemuk ini memerlukan fondasi iman yang kuat agar tetap istiqamah dalam bingkai persatuan dan pengabdian. Menurutnya, tantangan sosial dan geografis Indonesia menuntut kesiapan batin serta kesadaran bahwa perjuangan dakwah merupakan bagian dari ikhtiar kolektif membangun umat dan bangsa.

Menutup tausiah, Abdurrahman mengajak para kader untuk melakukan evaluasi orientasi perjuangan. Ia menekankan bahwa ukuran keberhasilan dakwah tidak terletak pada kekuatan personal semata, melainkan pada keyakinan kepada Allah sebagai sumber pertolongan.

“Ukurannya bukan seberapa kuat kita, tetapi seberapa yakin kita kepada Allah. Jika Allah membersamai, maka jalan dakwah, seberat apa pun, akan tetap terbuka,” pungkasnya.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Sambut Ramadhan, Dana Umat Hadirkan Air Bersih untuk Santri dan Warga Cimanggu

BANDUNG BARAT (Hidayatullah.or.id) -- Menjelang Ramadhan 1447 H, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) rampungkan program pipanisasi...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img