
ACEH (Hidayatullah.or.id) — Bu Nur, penjual gorengan asal Dusun Karya, Kabupaten Aceh Tamiang, sempat kehilangan satu-satunya tumpuan ekonomi ketika air banjir menerjang warung kecil tempat ia mencari nafkah. Peristiwa tersebut memutus aktivitas usaha harian yang selama ini menopang kebutuhan keluarga.
Namun, di tengah sisa lumpur banjir yang masih membekas di lingkungan tempat tinggalnya, secercah harapan mulai tumbuh ketika tim kemanusiaan mendatangi kediamannya di Lorong Rel, Desa Seumadam, Rabu, 11 Rajab 1447 (31/12/2025).
Bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh dan Sumatera tidak hanya merusak rumah warga, tetapi juga menghentikan denyut ekonomi masyarakat kecil. Para pelaku usaha mikro menjadi kelompok yang paling terdampak karena kehilangan sarana usaha sekaligus sumber pendapatan. Kondisi inilah yang menjadi perhatian utama tim Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) dalam rangkaian peninjauan dan perencanaan pemulihan pascabencana.
Kehadiran tim BMH di Aceh Tamiang tidak berhenti pada pendataan dampak banjir. Mereka melakukan penyisiran wilayah terdampak untuk memetakan kebutuhan warga secara menyeluruh. Program yang disiapkan mencakup dua aspek utama, yakni perbaikan rumah warga yang mengalami kerusakan serta pemulihan ekonomi masyarakat melalui penguatan kembali usaha kecil dan menengah.
Bagi Bu Nur, kunjungan tersebut membawa arti penting. Sebelum banjir, ia menggantungkan penghasilan dari berjualan gorengan, es, dan kopi. Warung sederhana yang ia kelola menjadi sumber utama penghidupan keluarga. Ketika banjir datang, seluruh aktivitas tersebut terhenti. Air merusak peralatan usaha dan membuat warung tidak lagi bisa digunakan. Dalam situasi itulah Bu Nur merasakan langsung rapuhnya ekonomi keluarga ketika bencana melanda.
Rencana pendampingan dan pemulihan yang disampaikan tim BMH memberikan dorongan semangat baru. Bu Nur menyambut positif inisiatif tersebut karena membuka peluang baginya untuk kembali berjualan. Harapan untuk bangkit secara ekonomi menjadi kebutuhan mendesak, seiring tuntutan hidup yang terus berjalan meski bencana baru saja berlalu.
Dampak banjir juga dirasakan warga lain di Desa Seumadam. Abu Yamin, salah seorang warga terdampak, menyampaikan rasa lega atas rencana perbaikan rumah yang disiapkan BMH. Menurutnya, kerusakan hunian akibat banjir menyulitkan warga untuk kembali menjalani kehidupan normal. Program perbaikan rumah dinilai sebagai langkah yang sangat dibutuhkan dalam fase awal pemulihan.
Pemulihan tidak hanya dimaknai sebagai perbaikan fisik bangunan, tetapi juga pemulihan rasa aman dan keberlanjutan hidup masyarakat. Rumah yang layak huni menjadi fondasi penting, sementara ekonomi warga berfungsi sebagai penopang jangka panjang agar keluarga dapat kembali mandiri.

Kepala Departemen Kreator Program BMH Pusat, Rohsyandi Santika, menjelaskan bahwa program pemulihan ini dirancang sebagai upaya konkret agar penyintas tidak berlarut-larut dalam dampak bencana. Ia menegaskan bahwa warga terdampak perlu didorong untuk bangkit melalui langkah nyata yang menyentuh kebutuhan paling dasar.
Menurutnya, penguatan ekonomi warga dan pembenahan rumah yang rusak menjadi dua instrumen utama dalam proses tersebut. Program ini dijalankan dengan koordinasi bersama aparat setempat, mulai dari kepala dusun hingga kepala desa, agar pelaksanaannya tepat sasaran dan selaras dengan kondisi lapangan.
Pendekatan berbasis koordinasi lokal dinilai penting untuk memastikan bahwa setiap bantuan dan program pemulihan benar-benar menjawab kebutuhan riil masyarakat. Selain itu, keterlibatan aparat desa membantu menjaga transparansi serta memperkuat kepercayaan warga terhadap proses pemulihan yang sedang berjalan.






